REPUBLIKA.CO.ID, ROMA -- Perdana Menteri (PM) Italia Giorgia Meloni mengakui, jika situasi di Timur Tengah memburuk, negaranya dapat menghadapi kekurangan energi. Harian Corriere della Sera pada Sabtu (4/4/2026), melaporkan penerapan pembatasan awal bahan bakar jet di empat bandara Italia, yakni di Milan, Venesia, Treviso, dan Bologna.
"Ketika ketidakstabilan meningkat di negara-negara Teluk, hal itu berdampak pada biaya energi, dunia usaha, lapangan kerja, dan pada akhirnya daya beli keluarga," kata Meloni dalam video yang diunggah di media sosialnya.
Baca Juga
Italia Pilih Akuisisi Drone Bayraktar TB3 untuk Kapal Induk Cavour
Senat Italia Akhirnya Setujui Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI
Italia Diuntungkan Ratusan Miliar Hibahkan Kapal Induk ke Indonesia
Negara-negara Teluk memainkan peran penting dalam pasar energi global. Jika produksi di kawasan tersebut berkurang atau terhenti, harga energi akan meningkat bagi semua pihak, demikian menurut Meloni.
"Dan jika situasi memburuk, kita bisa menghadapi kondisi di mana kita tidak memiliki seluruh energi yang kita butuhkan, bahkan di Italia," ujarnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pada Jumat dan Sabtu, Meloni mengunjungi negara-negara Teluk yang memasok sekitar 15 persen kebutuhan minyak Italia. "Saya membahas dengan mereka bagaimana memperkuat kerja sama, membantu menghentikan eskalasi, dan segera memulihkan kebebasan navigasi di jalur yang menjadi sandaran energi, perdagangan, dan stabilitas, dimulai dari Selat Hormuz," jelasnya.
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap target di Iran, khususnya Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.
Peningkatan ketegangan di kawasan Teluk Persia hampir menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting pasokan minyak dan gas alam cair global. Akibatnya, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara.