Ketua Banggar DPR Tolak Usulan JK Minta Kurangi Subsidi BBM

kompas.com
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menolak usulan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, terkait pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Said menegaskan, DPR tidak sepakat jika subsidi BBM dikurangi.

Menurut dia, langkah yang lebih tepat adalah memastikan subsidi energi, khususnya LPG 3 kilogram, benar-benar tepat sasaran.

“Kalau subsidi BBM dikurangi kami enggak setuju. Yang diperlukan justru adalah subsidi LPG 3 kg itu harus tepat sasaran, targeted,” ujar Said saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Baca juga: Video Narasi Rismon Sianipar Disebut Olahan AI, Kuasa Hukum JK: Tetap Perlu Diuji

Dia menjelaskan, penyaluran subsidi LPG 3 kg perlu diperketat lagi dengan sistem verifikasi berulang, misalnya dengan penggunaan sidik jari atau retina mata bagi masyarakat yang berhak.

“Caranya bukan sekedar semata-mata pemerintah punya data sentral, tapi juga lakukanlah berulang kali saya bolak-balik dengan sidik jari atau retina mata bagi orang yang berhak untuk mendapatkan tabung LPG 3 kg,” kata dia.

Baca juga: JK Sebut WFH Tak Efektif Hemat Anggaran, Ini Alasannya

Said mengungkapkan, dari total pagu penerima subsidi LPG 3 kg sebanyak 8,6 juta, hanya sekitar 5,4 juta yang layak menerima jika penyaluran dilakukan secara tepat sasaran.

“Karena hitungan kami dari 8,6 juta kalau mau tepat sasaran, targeted, tidak sia-sia menghambur-hamburkan anggaran, LPG 3 kilo tabung 3 kg itu hanya 5,4 juta cukup dari 8,6 yang ada di pagu,” ucapnya.

Lebih lanjut, Said menilai kenaikan harga energi global memang berdampak pada beban keuangan negara.

Namun, menurut dia, hal itu tidak serta-merta menjadi alasan untuk mengurangi subsidi bagi masyarakat kecil.

“Kalau soal beban membebani dengan kenaikan harga minyak energi internasional, apa sih yang tidak terbebani? Kan iya. Kenapa kita mengotak-atik subsidi? Kenapa kita tidak bicara terhadap harga non-subsidi yang sampai sekarang belum naik? Kenapa yang untuk orang miskin yang diotak-atik? Jangan dong,” tutur Said.

Baca juga: Alasan JK Minta Pemerintah Naikkan Harga BBM di Tengah Konflik Timur Tengah

Politikus PDI-P itu berpandangan, jika pemerintah ingin melakukan penyesuaian, sebaiknya dilakukan pada harga BBM non-subsidi yang dijual berdasarkan harga keekonomian, dengan tetap mempertimbangkan dampak inflasi.

“Kalau mau diotak-atik yang sudah dijual di pasar dengan harga keekonomian, itu lebih make sense. Itupun harus dihitung dampak inflatoirnya, inflasinya, karena begitu sekali naik kan kemana-mana. Jadi kita lagi berhitung betul. Kasih kesempatanlah. Jangan kemudian BBM begitu harga minyak naik kita kayak kebakaran jenggot seakan-akan besok langit akan runtuh, enggak,” pungkasnya.

Baca juga: JK Usul Pemerintah Kurangi Subsidi BBM demi Tekan Defisit dan Tak Timbulkan Utang

Diberitakan sebelumnya, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan mengurangi beban subsidi energi termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat konflik global.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Pasalnya, subsidi energi yang makin membengkak akan meningkatkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan menumpuk utang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Koster Targetkan Pembangunan Turyapada Tower Tahap II Rampung Tepat Waktu Tanpa Turunkan Mutu
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Video: Bocoran Investasi Pengelola Dana Jumbo Pascalebaran-Era Perang
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Update Jadwal KRL Jogja–Solo Hari Ini, Cek Jam Keberangkatan di Sini
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Viral Pencarian Link Video Viral Syakirah 7 Menit: Benarkah Ada 16 Bagian di TikTok, X, hingga Telegram? Begini Faktanya!
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Iklan Film Horor “Aku Harus Mati” Meresahkan, Pemprov DKI Jakarta Turunkan Seluruh Balihonya 
• 6 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.