REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Upaya menghapus tuberkulosis (TBC) di Indonesia memasuki fase yang lebih terstruktur. Pemerintah tidak lagi mengandalkan pendekatan medis semata, tetapi mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari perbaikan hunian, deteksi dini, hingga pelibatan masyarakat, untuk memutus rantai penularan secara menyeluruh.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa faktor lingkungan menjadi salah satu akar persoalan TBC. Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyebut rumah tidak layak huni, khususnya yang minim ventilasi, berpotensi menjadi ruang hidup bagi kuman TBC bertahan lebih lama.
- Rampcheck Kemenhub Temukan Lebih dari Separuh Perjalanan Bus Langgar Aturan
- Pramono: Baliho Seperti Film Aku Harus Mati tak Boleh Terulang
- Daerah Berlomba Ubah Limbah Jadi Energi
“Kuman tuberkulosis bisa mati dalam 15–30 menit jika terkena sinar matahari. Tapi di rumah tanpa ventilasi baik, kuman bisa bertahan berbulan-bulan,” ujarnya di Jakarta.
Karena itu, pada 2026 pemerintah menggandeng Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman untuk merenovasi 2.000 rumah, terutama bagi masyarakat desil 1–2 yang paling rentan. Program ini tidak hanya menyasar aspek kesehatan, tetapi juga memperbaiki kondisi sosial yang selama ini menjadi ekosistem berkembangnya TBC.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Kemenkes juga telah menyiapkan data ribuan rumah yang siap direnovasi, dengan harapan program ini dapat diperluas hingga 10.000 unit pada tahap berikutnya. Kolaborasi turut melibatkan Kementerian Sosial dan Kementerian Dalam Negeri untuk memastikan intervensi berjalan hingga tingkat layanan kesehatan daerah.
Pendekatan serupa terlihat di berbagai daerah yang mulai memperkuat strategi deteksi dini. Di Baubau, pemerintah kota menggencarkan sosialisasi pencegahan TBC pada anak dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tenaga kesehatan, tokoh agama, hingga organisasi kemasyarakatan.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Baubau, dr. Frederik Tangke Allo, menegaskan bahwa sinergi menjadi kunci dalam menghadapi penyakit yang masih menjadi ancaman serius tersebut. Program skrining aktif pun diperluas ke sekolah, pesantren, tempat kerja, hingga lembaga pemasyarakatan.
“Masyarakat harus paham bahwa TBC bisa disembuhkan dan pengobatannya tersedia gratis,” ujarnya.
Sementara di Madiun, pemerintah daerah justru melihat peningkatan temuan kasus sebagai indikator positif. Dinas Kesehatan setempat menilai semakin banyak kasus terdeteksi, semakin besar peluang untuk segera melakukan pengobatan dan mencegah penularan lebih luas.
Program “Gerebek TBC” di tingkat kelurahan digencarkan, didukung skrining mandiri melalui aplikasi digital. Dalam tiga tahun terakhir, ribuan kasus berhasil ditemukan, mencerminkan intensifikasi pelacakan yang semakin agresif.
Pendekatan berbasis data juga diperkuat di Sulawesi Barat. Pemerintah provinsi mencatat peningkatan penemuan kasus sebagai sinyal bahwa sistem deteksi dini berjalan lebih efektif. Hingga Februari 2026, ratusan kasus telah teridentifikasi, mendekati target capaian bulanan nasional.




