JAKARTA, DISWAY.ID-- Kenaikan harga kantung kemasan membuat sejumlah toko plastik mengalami penurunan omzet sebesar sekitar 10 persen dari biasanya.
Pengelola tempat penjual plastik, Joni menyampaikan bahwa kenaikan tersebut terjadi karena adanya perang yang terjadi di Timur Tengah.
BACA JUGA:Wamesos Agus Jabo Tinjau Calon Lokasi Sekolah Rakyat di PTDI–STTD Bekasi
Dengan terjadinya kondisi tersebut, membuat bahan pangan pembuatan kantung kemasan menjadi susah diperoleh.
"Informasi yang saya dapat benar dari akibatnya perang antara Iran dan Amerika Serikat-Israel. Bahan bakunya tidak bisa masuk wilayah Indonesia. Jadi harga produksi naik, bahan baku naik dalam keadaan stok terbatas," terang Joni saat ditemui oleh disway.id pada Senin, 6 April 2026.
Selain itu, pria berusia 27 tahun mengaku mengalami penurunan yang signifikan imbas dari perang tersebut. Sebab, lanjut Joni, penurunan itu bisa mencapai 10 persen dari hari biasa sebelum perang.
"Nah dengan keadaan itu lah omset bisa turun sekitar 10%," kata dia.
BACA JUGA:Ada Napi Narkoba Jadi Raja Kecil, Kinerja Rutan Tanjung Pura Disorot
Sedangkan kenaikan ini diduga dapat mencapai 100 persen. Bila perang itu terus berlanjut,
"Naiknya sekitar 60 sampai 70 persen, dan harga itu busa naik-naik terus mungkin 100%, bisa jadi," ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah strategis untuk menekan kenaikan harga bahan baku plastik yang sebagian besar bergantung pada pasokan industri besar dan impor.
"Harapannya ada pembicaraan antara pemerintah dengan produsen besar atau pabrik plastik supaya ada solusi. Supaya bahan baku bisa masuk dengan harga yang tidak terlalu mahal," pungkas Joni.





