Beberapa waktu lalu saya melihat unggahan seorang teman lama di media sosial. Foto-fotonya rapi dan menenangkan: laut biru, secangkir kopi yang ditata apik, dan senyum yang tampak ringan. Keterangan fotonya sederhana, “akhirnya bisa healing juga.” Sekilas, semuanya terlihat seperti potongan hidup yang baik-baik saja. Namun, ceritanya tidak sesederhana itu.
Beberapa hari sebelumnya, ia sempat bercerita tentang tekanan pekerjaan, kondisi keuangan yang belum stabil, serta persoalan keluarga yang membuat pikirannya penuh. Ketika melihat unggahan tersebut, saya sempat bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar momen istirahat, atau sekadar upaya untuk terlihat baik-baik saja?
Fenomena semacam ini terasa semakin akrab. Istilah “healing” kini digunakan untuk hampir segala hal seperti pergi ke pantai, ngopi di tempat estetik, hingga ke mall. Kata “healing” seolah menjadi pembenaran atas berbagai aktivitas, memberi kesan bahwa apa pun yang dilakukan adalah bagian dari proses pemulihan. Padahal, tidak semua jeda adalah pemulihan. Mungkin itu hanya pelarian singkat sebelum kembali ke titik yang sama.
Dalam perspektif Erving Goffman, kehidupan sosial dapat dipahami layaknya sebuah panggung. Individu memainkan peran di hadapan orang lain, mengelola kesan melalui apa yang disebut sebagai front stage. Di sisi lain, ada back stage, ruang privat tempat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa tuntutan peran. Di era media sosial, batas antara keduanya semakin kabur bahkan timpang.
Apa yang tampil di media sosial umumnya adalah versi yang telah diseleksi dan dipoles. Foto yang diunggah, ekspresi yang ditampilkan, hingga narasi yang ditulis, semuanya disusun untuk menciptakan kesan tertentu. Dalam konteks ini, “healing” yang dipublikasikan kerap berada di wilayah front stage: tampak tenang di permukaan, meski di dalam masih menyimpan kegelisahan.
Pada fenomena ini yang ditampilkan bukan lagi kondisi, melainkan peran. Seseorang bisa terlihat santai di tepi pantai, tetapi pikirannya tetap dipenuhi kecemasan. Senyum dalam foto tidak selalu sejalan dengan keadaan batin. Dan ketika peran ini dipertahankan terus-menerus, kelelahan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Tampilan yang dibuat-buat membutuhkan energi. Ada dorongan untuk tetap terlihat kuat, santai, dan “baik-baik saja”, bahkan ketika kenyataannya tidak demikian. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menciptakan jarak antara apa yang dirasakan dan apa yang ditampilkan.
Ada fase ketika keinginan untuk “tetap terlihat berjalan” mendorong seseorang untuk terus keluar, mencari suasana baru, atau sekadar memastikan ada cerita yang bisa dibagikan. Setelah itu, yang tersisa sering kali urusan dan pikiran yang belum selesai, kelelahan yang menumpuk, bahkan beban tambahan karena pengeluaran yang tidak menyentuh akar masalah.
Di sinilah batas antara kebutuhan untuk beristirahat dan kebutuhan untuk terlihat beristirahat menjadi kabur. Tanpa disadari, muncul standar tidak tertulis tentang bagaimana “healing” seharusnya dilakukan, apakah harus pergi jauh, harus ke tempat yang indah, dan idealnya, harus bisa dibagikan.
Menurut hemat saya, pemulihan yang paling bermakna sering kali justru tidak menarik secara visual. Ia hadir dalam bentuk yang sederhana: tidur yang cukup, jeda tanpa distraksi, atau keberanian untuk mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja. Hal-hal ini tidak selalu layak unggah, tetapi justru esensial.
Ketika terlalu lama berada di front stage, individu berisiko kehilangan ruang untuk kembali ke back stage ruang jujur yang memungkinkan refleksi dan pemulihan yang sesungguhnya. Tanpa ruang ini, yang terjadi hanyalah pergantian tampilan, bukan penyelesaian.
Hal yang perlu dipulihkan bukan sekadar kelelahan fisik, tetapi juga relasi dengan diri sendiri. Mengembalikan makna “healing” sebagai proses yang tidak harus terlihat, tidak harus mahal, dan tidak harus dibuktikan kepada siapa pun. Pemulihan tidak selalu hadir dalam bentuk yang dramatis. Ia sering datang secara perlahan, nyaris tanpa sorotan. Bukan dari apa yang ditampilkan, melainkan dari keberanian yang benar-benar mendengarkan diri sendiri.





