Sang Pengembara Es, Komet C/2026 A1 MAPS Tantang Panas Matahari

mediaindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

FENOMENA langit kembali menarik perhatian dunia astronomi dengan kemunculan Komet C/2026 A1 (MAPS), sebuah komet langka yang melintas sangat dekat dengan Matahari. Objek ini menjadi sorotan karena lintasannya yang ekstrem serta potensi dramatis yang menyertainya.

Komet ini pertama kali ditemukan pada Januari 2026 melalui program observasi MAPS di Gurun Atacama, Chili. Berdasarkan klasifikasinya, komet ini termasuk komet non-periodik, yang berarti memiliki orbit sangat panjang dan kemungkinan baru pertama kali teramati manusia dalam ribuan tahun.

Menurut NASA, komet merupakan benda langit yang tersusun dari es, debu, dan batuan yang dapat menghasilkan ekor terang saat mendekati Matahari akibat pemanasan intens.

Baca juga : Ilmuwan Ungkap Sisa Umur Matahari, Ini yang Akan Terjadi pada Bumi

Yang membuat C/2026 A1 MAPS istimewa adalah statusnya sebagai komet sungrazer, yaitu komet yang melintas sangat dekat dengan Matahari. Komet ini diperkirakan mencapai titik terdekatnya atau perihelion pada awal April 2026, dengan jarak hanya ratusan ribu kilometer dari permukaan Matahari.

Kedekatan ekstrem ini menghadirkan dua kemungkinan. Di satu sisi, komet dapat bersinar sangat terang karena material esnya menguap dan membentuk ekor panjang yang memantulkan cahaya Matahari. Namun di sisi lain, panas dan gaya gravitasi Matahari juga dapat menghancurkan komet tersebut sebelum sempat diamati dengan jelas dari Bumi.

Menurut European Space Agency, banyak komet sungrazer berasal dari keluarga Kreutz, yaitu pecahan komet besar yang hancur di masa lalu dan kini bergerak dengan lintasan serupa mendekati Matahari.

Baca juga : Apa yang Terjadi Jika Matahari Tiba-Tiba Menghilang dari Tata Surya?

Secara fisik, inti komet C/2026 A1 MAPS diperkirakan berukuran kecil, kurang dari satu kilometer. Ukuran ini membuatnya sangat rentan terhadap proses sublimasi, yaitu perubahan es langsung menjadi gas akibat suhu tinggi.

Fenomena ini memberikan peluang bagi ilmuwan untuk mempelajari bagaimana komet bereaksi terhadap kondisi ekstrem di dekat Matahari. Selain itu, pengamatan terhadap komet seperti ini juga membantu memahami asal-usul tata surya dan evolusi benda langit.

Meskipun sulit diamati secara langsung dengan mata telanjang karena posisinya dekat Matahari, komet ini tetap dapat dipantau menggunakan teleskop khusus dan wahana antariksa.

Kemunculan Komet C/2026 A1 MAPS menjadi pengingat bahwa tata surya masih menyimpan banyak misteri. Dari perjalanan panjangnya hingga kemungkinan kehancurannya di dekat Matahari, komet ini menghadirkan kisah dramatis tentang benda langit yang berani menantang panas ekstrem Matahari.

Sumber: NASA, European Space Agency, TheSkyLive,


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Pastikan Panggil Ulang Muhammad Suryo
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Petugas Damkar Dibegal di Gambir Jakpus, Kepala Terluka dan Motor Raib
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Jose Enrique Berambisi Gendong Persik ke Posisi yang Lebih Baik
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
BYUR! Atap Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Jebol Usai Diguyur Hujan Deras
• 10 jam laludisway.id
thumb
Ketika Kadu Bersinar Disaat PSBS Biak Terpuruk di BRI Super League, Harapan Tetap Berkarier di Indonesia Musim Depan
• 9 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.