Layanan digital PT Bank CIMB Niaga Tbk kini tidak hanya fokus pada nasabah perorangan, tetapi juga segmen bisnis. Dengan platform terintegrasi, bank ini coba menjawab kebutuhan pebisnis, dari mengatur arus kas, melakukan transfer gaji karyawan, hingga membayar pajak.
Kerani, kepala bagian administrasi di sebuah perusahaan, pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, bosnya yang dikenal sebagai Bossman meminta laporan keuangan perusahaan selama satu tahun terakhir. Laporan itu bahkan harus selesai pada hari itu juga atau hanya dalam beberapa jam.
Padahal, arus keluar masuk kas perusahaan selama ini dicatat secara manual. Pembuatan laporan keuangan pun paling cepat selesai satu minggu. Kebingungan Kerani tidak berhenti di situ. Gaji para karyawan ternyata belum dibayar. Butuh sejumlah tahapan untuk melunasi gaji tersebut.
Persoalan semakin bertambah ketika sejumlah vendor yang bermitra dengan perusahaan itu menuntut pembayaran. Ternyata perusahaan itu belum menagih pembayaran dari customer, yang hanya tercatat secara manual. Padahal, uang dari pengguna dibutuhkan untuk membayar vendor.
Bossman mencoba menenangkan dengan mengajak makan para vendor. Sang bos pun melempar tebak-tebakan untuk mencairkan suasana yang telanjur menegangkan. ”Tempe-tempe apa yang galak? Tempe-ramental. Sayur-sayur apa yang dingin? Kembang-cold,” ucap Bossman.
Alih-alih tertawa, muka para vendor masih tampak kusut. Wajah mereka baru berseri-seri ketika notifikasi di telepon pintar berbunyi, menandakan tagihan telah dilunasi Bossman. Persoalan tagihan, pembayaran gaji karyawan, serta pelaporan keuangan dalam setahun juga telah selesai.
Berbagai masalah itu diselesaikan oleh Kerani dan keponakan Bossman yang merupakan generasi Z. Mereka menggunakan Octobiz, platform digital terintegrasi dari CIMB Niaga untuk membantu para pelaku usaha dalam mengelola kebutuhan keuangannya dalam satu dashboard.
Situasi itu terekam dalam film pendek yang diputar bertepatan dengan peluncuran Octobiz di Plaza Senayan XXI, Jakarta, Senin (6/4/2026). Film ini menampilkan para tokoh dari layar lebar My Stupid Boss, seperti Reza Rahadian sebagai Bossman dan Bunga Citra Lestari (Kerani).
Meskipun hanya rekaan, film itu sebenarnya menggambarkan kebutuhan pelaku usaha untuk mengelola kebutuhan keuangannya melalui platform digital. Mereka tidak hanya menggunakan aplikasi digital dalam genggaman tangan untuk melakukan transaksi semata.
”Mereka memerlukan (platform digital) yang lebih dari transaksi. Nasabah sekarang membutuhkan kontrol dengan informasi secara real time. Paling penting mereka perlu mengambil keputusan saat itu,” ujar Direktur Business Banking CIMB Niaga Rusly Johannes.
Kebutuhan pelaku usaha itu, antara lain, mengelola arus kas untuk memudahkan pencatatan laporan keuangan, membayar gaji karyawan dalam jumlah besar, hingga membayar pajak dan tagihan. Pebisnis pun membutuhkan kemudahan dalam transaksi menggunakan mata uang asing tanpa konversi ganda.
Pihaknya pun mengembangkan Octobiz yang dilengkapi dengan berbagai fitur untuk menjawab berbagai kebutuhan itu. Aplikasi ini merupakan evolusi terbaru dari BizChannel@CIMB, layanan digital yang sebelumnya digunakan oleh pelaku bisnis di ekosistem CIMB Niaga.
”Tampilan Octobiz ini juga disesuaikan dengan profil nasabah, dari pelaku UMKM sampai korporasi besar. Tampilannya berbeda-beda sesuai kebutuhan,” ucap Rusly. Bagi pelaku UMKM, misalnya, mereka bisa menggunakan fitur pengelolaan arus kas yang juga mencatat nilai aset dan liabilitas secara langsung.
Fitur ini diharapkan membantu pelaku UMKM yang selama ini belum optimal dalam pencatatan keuangan. Sementara bagi korporasi, fitur yang tersedia lebih canggih, seperti mengatur pembayaran tagihan atau gaji hanya dengan satu klik hingga fitur pengelolaan rantai pasok bisnis.
”Kami percaya bahwa platform digital perbankan ini bukan hanya mempermudah transaksi keuangan, melainkan juga bisa mendampingi serta membantu pelaku usaha menjalankan bisnisnya dengan lebih baik dan produktif,” ungkap Rusly.
Menurut dia, fitur-fitur di platform ini masih akan berkembang. ”Kami akan terus membangun fitur baru. Sekarang, fiturnya terkait manajemen keuangan, tetapi ke depan akan ada pembiayaan perdagangan, pinjaman, dan banyak lagi. Nanti, tidak ada lagi batasan antara bank dan mitra,” lanjut Rusly.
Joni Hermanto, Head of Transaction Banking CIMB Niaga, menyebutkan, sejak pihaknya melakukan migrasi dari platform sebelumnya ke Octobiz pada Februari lalu, jumlah transaksi meningkat. Sebelum peluncuran, rata-rata nasabah hanya melakukan dua transaksi per bulan. Kini, transaksinya mencapai tujuh kali per bulan.
Ia juga mengklaim jumlah nasabah meningkat sekitar 2 persen setiap bulan. Hingga kini, terdapat sekitar 21.000 nasabah yang menggunakan Octobiz, baik pelaku UMKM maupun korporasi besar. ”Target (nasabah) kami tentu setinggi-tingginya. Tetapi, kami fokus meningkatkan kualitas nasabah,” ucap Joni.
Dari segi keamanan, platform tersebut memiliki sistem keamanan berlapis. Mulai dari enkripsi data yang melindungi data pengguna, otentikasi pengguna melalui pemindaian sidik jari atau wajah, hingga pemantauan transaksi yang mencurigakan. Semuanya demi mencegah penipuan.
”Bisa dibilang sistem kami sudah memproteksi nasabah. Namun, kami juga mengedukasi nasabah soal phising (penipuan untuk mendapatkan data pribadi) atau social engineering (manipulasi) agar tidak sembarang klik link,” ungkap Joni. Kewaspadaan nasabah pun sangat diperlukan.
Keberhasilan digitalisasi perbankan akan ditentukan oleh interoperabilitas (kemampuan platform), penguatan literasi UMKM, hingga peningkatan keamanan siber.
Etika Karyani, Direktur Riset Layanan Keuangan, Ekonomi Digital, dan Ekonomi Syariah Center of Reform on Economics Indonesia (CORE), menilai, digitalisasi perbankan bukan lagi pilihan, tetapi keharusan strategis. Segmen yang disasar pun dari nasabah individu hingga pebisnis.
Namun, kehadiran platform digital perbankan, seperti Octobiz, masih menghadapi tantangan, terutama bagi pelaku UMKM. Menurut Etika, banyak UMKM yang masih minim literasi keuangan dan kesiapan data. Padahal, kedua hal itu dibutuhkan dalam platform digital.
”Keberhasilan digitalisasi perbankan akan ditentukan oleh interoperabilitas (kemampuan platform), penguatan literasi UMKM, hingga peningkatan keamanan siber. Jadi, tidak cukup hanya membuat fitur aplikasi di perbankan,” ucapnya.





