Bisnis.com, JAKARTA — Ketidakstabilan global yang saat ini dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah diyakini turut berdampak bagi industri elektronik.
Di tengah kondisi itu, setidaknya terdapat empat dampak utama yang perlu diwaspadai oleh pelaku industri elektronik.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menjelaskan dampak pertama ketidakstabilan geopolitik, seperti persaingan AS-China dan konflik regional adalah meningkatnya risiko pada rantai pasokan komponen elektronik, khususnya semikonduktor yang penting bagi kecerdasan buatan (AI).
Kedua, adanya risiko restrukturisasi dan pembatasan ekspor. Kebijakan pembatasan ekspor, seperti tindakan AS terhadap perusahaan China seperti Huawei, memperlambat perkembangan teknologi dari negara tersebut dan memaksa perusahaan global merestrukturisasi sumber bahan baku mereka.
Ketiga adanya inflasi biaya produksi. Konflik global, termasuk di Timur Tengah, memicu kenaikan harga energi dan bahan baku penting.
“Ini meningkatkan biaya produksi secara keseluruhan dalam industri elektronik, otomotif, dan tekstil,” tambah Esther kepada Bisnis, Senin (6/4/2026).
Baca Juga
- Konflik Timur Tengah Buka Peluang RI Perkuat TKDN Elektronik
- Realisasi Sertifikat Tanah Elektronik Masih Rendah, Nusron: Baru 7,8%
- Penutupan Selat Hormuz Ancam Logistik Global, Harga Elektronik Berisiko Naik
Dampak keempat adalah ketidakpastian perdagangan. Ketegangan geopolitik menciptakan lingkungan perdagangan digital yang tidak pasti, yang berisiko mengganggu aliran barang elektronik global.
Adapun dampak kelima terbilang positif yakni peluang investasi baru. Rivalitas teknologi AS-China menyebabkan relokasi investasi, yang dipandang sebagai peluang bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk menarik investor di sektor semikonduktor.
Oleh karena itu, Esther berharap pemerintah mempercepat pengembangan ekosistem industri dalam negeri melalui peta jalan (roadmap) industrialisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Harus dipetakan rantai pasoknya, mana yang masih kosong. Kalau misalnya dari US nggak bisa ngisi atau China nggak bisa ngisi, ya Korea misalnya atau Jepang, harus ada alternatifnya, sampai terbentuk ekosistemnya,” tutur Esther.
Dalam jangka panjang, penguatan riset dan pengembangan (R&D) juga dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Namun, Esther menekankan bahwa strategi tersebut tetap perlu disesuaikan dengan keunggulan kompetitif Indonesia.





