Kebijakan pemerintah menggelontorkan insentif sebesar Rp2,6 triliun untuk industri penerbangan dinilai efektif meredam lonjakan harga tiket pesawat dalam jangka pendek, namun belum cukup menjadi solusi jangka panjang di tengah tekanan kenaikan harga avtur global.
Meski begitu Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan langkah tersebut sudah tepat untuk menjaga stabilitas mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.
“Dalam kondisi harga avtur yang tinggi, risiko terbesar adalah lonjakan harga tiket yang bisa langsung menekan mobilitas. Insentif ini berfungsi seperti menahan rem agar kenaikan tidak terlalu tajam,” ujar Yusuf kepada Katadata, Selasa (7/4).
Sebagai informasi, melalui kebijakan pembebasan bea masuk suku cadang hingga pajak tiket yang ditanggung pemerintah, harga tiket pesawat ekonomi dijaga agar hanya naik maksimal 13%.
Menurut Yusuf, kebijakan ini penting karena mobilitas memiliki efek berantai terhadap perekonomian. Jika harga tiket melonjak tinggi, dampaknya akan langsung terasa pada sektor pariwisata, konsumsi, hingga aktivitas bisnis antarwilayah.
“Dengan insentif ini, masyarakat tetap bisa bepergian, kegiatan usaha berjalan, dan sektor seperti hotel serta transportasi tidak langsung terpukul,” jelasnya.
Bukan Solusi Jangka PanjangMeski demikian, Yusuf menilai insentif Rp2,6 triliun tersebut hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar masalah. Ia menekankan bahwa tekanan utama berasal dari kenaikan harga energi global, khususnya avtur, yang berada di luar kendali kebijakan domestik.
“Ini lebih seperti memberi waktu agar ekonomi tidak ‘kaget’. Tapi kalau tekanan berlangsung lebih dari dua bulan, pilihannya tidak mudah,” katanya.
Jika harga energi global tetap tinggi, Yusuf mengatakan pemerintah dihadapkan pada dua pilihan, yakni memperpanjang insentif dengan konsekuensi beban fiskal yang lebih besar, atau membiarkan harga tiket kembali menyesuaikan naik.
Yusuf menegaskan bahwa keberlanjutan kebijakan ini sangat bergantung pada perkembangan harga energi global dan kondisi geopolitik.
“Efektif untuk menahan dampak awal, tapi tidak bisa jadi penopang jangka panjang,” ujarnya.




