Israel Ada di Balik Serangan Tewaskan Bos Intelijen Garda Revolusi Iran

detik.com
15 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bersama Pasukan Pertahanan Israel (IDF), menyatakan bahwa mereka berada di balik operasi yang menewaskan Kepala intelijen Korps ganda Revolusi Iran (IRGC) Majid Khademi.

Dalam pernyataannya di Telegram, IDF menyebut bahwa kematian Khademi merupakan "pukulan berat lainnya" bagi IRGC.

Biasanya, pemerintah Iran baru mengakui tewasnya para komandan senior setelah Israel atau Amerika Serikat lebih dulu mengklaim serangan tersebut. Namun kali ini berbeda, Iran justru mengumumkannya lebih awal.

Khademi sendiri baru menjabat sebagai kepala intelijen IRGC selama empat hari, menggantikan Mohammad Kazemi, yang juga tewas dalam serangan Israel pada 15 Juni 2025.

Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kepala intelijennya, Majid Khademi, tewas dalam serangan gabungan Israel-AS

IRGC mengumumkan hal itu melalui pernyataan yang dipublikasikan sejumlah media Iran.

Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa Khademi tewas pada Senin pagi dan IRGC menuduh Israel dan Amerika Serikat sebagai pihak yang menargetkannya.

Khademi sebelumnya menggantikan Mohammad Kazemi, yang juga tewas dalam serangan Israel pada 15 Juni 2025, saat perang Iran-Israel berlangsung selama 12 hari.

Anadolu via Getty ImagesMenteri Pertahanan Israel Israel Katz (foto atas, tengah).

Pada Februari lalu, menyusul gelombang protes anti-pemerintah yang mematikan pada Januari, Khademi menuduh Presiden AS Donald Trump memicu apa yang disebut pejabat Iran sebagai strategi "pembunuhan terencana"sebuah upaya yang, menurut mereka, bertujuan meningkatkan jumlah korban untuk membenarkan intervensi militer asing.

Saat itu, Khademi menuding bahwa lebih dari 10 dinas intelijen asing, termasuk Unit 8200, divisi siber dan intelijen militer Israel, terlibat dalam gelombang protes besar yang melanda Iran.

Menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS, sedikitnya 7.000 orang tewas dalam penumpasan demonstrasi pada Januari tersebut.

Siapa Majid Khademi?

Majid Khademi kerap muncul di media dengan dua identitas, kadang disebut sebagai Majid Khademi, dan di waktu lain diperkenalkan sebagai Majid Hosseini.

Dia dikenal sebagai sosok militer yang menduduki berbagai posisi strategis di bidang keamanan.

Meski kemudian dipindahkan dari unit perlindungan intelijen Kementerian Pertahanan ke struktur intelijen IRGC, Khademi sebenarnya sudah memiliki rekam jejak panjang di Garda Revolusi sebelum perpindahan tersebut.

Setelah Organisasi Intelijen IRGC dibentuk, nama Majid Khademi (atau Hosseini) beberapa kali disebut sebagai salah satu kandidat kuat penerus Hossein Taeb, kepala intelijen IRGC saat itu, setidaknya hingga 2014.

Dia juga sempat menjabat sebagai wakil direktur Organisasi Perlindungan Intelijen IRGC, sebelum akhirnya dipromosikan menjadi kepala lembaga tersebut.

Khademi kemudian diangkat sebagai kepala unit perlindungan intelijen Kementerian Pertahanan pada Mei 2018, menggantikan Asghar Mir-Jafari yang juga merupakan perwira IRGC.

Sekitar sepuluh hari sebelum serangan gabungan AS dan Israel, Khademi berbicara kepada media yang berafiliasi dengan kantor Pemimpin Tertinggi Iran mengenai gelombang protes besar pada Januari.

Saat itu dia menyatakan bahwa "setidaknya 10 dinas intelijen asing" terlibat dalam kerusuhan Januari tersebut.

Khademi menjelaskan bahwa beberapa badan keamanan negara sahabat juga telah memperingatkan mengenai rencana tersebut.

Mereka, kata Khademi, menegaskan bahwa musuh belum menghentikan upaya untuk menyerang Iran, dan meskipun tidak sedang menyiapkan serangan militer langsung, mereka kini memfokuskan strategi pada penciptaan kekacauan internal dan ketidakstabilan di dalam negeri.

Dalam wawancara itu, Khademi juga menyinggung pertemuannya dengan Ali Khamenei sebelum gelombang protes Januari pecah.

Pada pertemuan tersebut, dia melaporkan perkembangan perang 12 hari yang baru saja terjadi.

Menurut Khademi, pemimpin tertinggi Iran saat itu berpesan kepadanya:

"Perhatikan pekerjaan intelijen. Masa sekarang mirip dengan era tahun 1960."

Era 1960-an dalam konteks Iran merujuk pada masa awal Republik Islam yang ditandai oleh perang serta penindasan keras terhadap kelompok oposisi.

Pada periode ini, ribuan tahanan politik dieksekusi, dan tindakan represif dilakukan secara sistematis terhadap mereka yang dianggap menentang negara.

Puncak gelombang eksekusi terjadi pada musim panas 1988, ketika ribuan narapidana yang telah kehilangan hak-hak dasar mereka dieksekusi di berbagai penjara Iran.

Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu episode paling kelam dalam sejarah hak asasi manusia di negara tersebut.

Trump: Buka Selat Hormuz atau pembangkit listrik Iran akan dihancurkan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah merilis unggahan yang sarat kata-kata kasar di media sosial .

Dalam unggahan itu, dia mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz bagi semua kapal, pada Selasa (07/04).

Seperti ancaman sebelumnya, Trump berkata dirinya akan membuat Iran seperti "neraka". Namun, kepada media AS, Trump menyatakan ada "peluang besar" tercapainya kesepakatan dengan Teheran.

Iran mengejek ultimatum Trump, sekaligus menyebut pernyataan Trump "tidak berdaya, gugup, dan bodoh".

Ancaman baru Trump mengemuka setelah dia mengumumkan bahwa awak kedua dari pesawat jet tempur AS yang ditembak jatuh di Iran telah berhasil diselamatkan dalam operasi di wilayah negara tersebut.

Israel telah menyerang infrastruktur sipil Iran dalam beberapa hari terakhir. (Reuters)

Menurut Trump, pilot F-15 itu telah diselamatkan tak lama setelah pesawat yang diawakinya ditembak jatuh pada Jumat (03/04). Insiden ini terjadi setelah lebih dari sebulan perang.

Iran terus membalas gempuran udara AS dan Israel dengan serangan terhadap berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk yang bersekutu dengan kedua negara tersebut.

Iran juga menghambat arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang biasanya dilalui kapal-kapal yang mengangkut sekitar seperlima minyak dan gas dunia. Hal ini memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi di seluruh dunia.

Gangguan tersebut mendorong Trump untuk mengultimatum Iran untuk membuka kembali selat tersebut.

Pada Minggu (05/04), Trump merilis ultimatum menggunakan platform Truth Social miliknya.

Paragraf di bawah ini mengandung bahasa yang sangat keras.

Trump menulis: "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP"

Setelah itu, ia mengatakan kepada Fox News bahwa ada "peluang besar" kesepakatan akan tercapai pada Senin (06/04), tetapi ia mempertimbangkan untuk "meledakkan semuanya dan mengambil alih minyak" jika kesepakatan mengakhiri perang tidak segera dicapai.

Belakangan, presiden AS itu kembali mengunggah "Selasa, pukul 20.00 Waktu Timur!".

BBC

  • Trump ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau AS akan hancurkan pembangkit listrik
  • Dari plastik sampai kosmetik Harga barang di Indonesia mulai naik imbas konflik Timur Tengah
  • Apa yang terjadi pada krisis minyak tahun 1970an, dan apakah kita sedang menuju situasi yang lebih buruk?

Trump telah beberapa kali menunda tenggat ultimatum pembukaan Selat Hormuz.

Pada 21 Maret, Trump mengancam akan "melenyapkan" pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak "TERBUKA SEPENUHNYA" dalam waktu 48 jam.

Pada 23 Maret, ia mengatakan tidak akan melancarkan serangan selama lima hari lagi hingga 28 Maret karena pembicaraan "baik" dan "produktif" dengan Iran sedang berlangsung.

Iran membantah telah berkontak dengan pemerintahan Trump.

Saat tenggat mendekat, Trump kembali memundurkan tenggat selama 10 hari, hingga 6 April. Kemudian, tenggat diundur lagi hingga Selasa (07/04).

Mahdi Tabatabaei, juru bicara kantor presiden Iran, mengatakan Selat Hormuz "akan dibuka kembali" ketika "sebagian dari biaya tol transit digunakan untuk memberikan kompensasi atas semua kerusakan yang disebabkan" oleh perang.

Iran telah mengindikasikan rencana untuk mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.

  • Iran bantah berunding dengan AS, cerminkan krisis kepercayaan
  • 'Saya belum tidur berhari-hari' Kisah warga Iran satu bulan setelah serangan AS-Israel dimulai
  • Perang Iran vs Israel-AS: Apakah kita menuju Perang Dunia Ketiga ataukah kekhawatiran itu berlebihan?

Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi dari komando militer pusat Iran mengatakan ancaman Trump adalah tindakan yang "tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh", seraya menambahkan bahwa "gerbang neraka akan terbuka" bagi pemimpin AS tersebut.

Sementara itu, Israel telah menyerang lokasi-lokasi infrastruktur sipil Iran, sebuah fasilitas petrokimia pada Sabtu (04/04). Menurut pejabat pertahanan, Israel menunggu persetujuan AS untuk menyerang lebih banyak fasilitas energi Iran pekan depan.

Serangan AS-Israel juga menghantam Bandara Internasional Qasem Soleimani di barat daya Iran pada Minggu (05/04).

Iran membalasnya dengan meluncurkan drone dan rudal ke Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.

Sebuah gedung hunian di Kota Haifa, Israel, dihantam rudal balistik pada Minggu (05/04). Empat orang terluka.

Pada hari yang sama, otoritas di Abu Dhabi mengatakan mereka sedang memerangi kebakaran di fasilitas petrokimia Borouge yang disebabkan oleh puing-puing yang jatuh dari rudal Iran.

Kuwait mengatakan serangan drone Iran telah merusak fasilitas minyak dan petrokimia. Pabrik industri dan bahan bakar juga menjadi sasaran di Bahrain.

  • APBN diprediksi hanya mampu menahan kenaikan BBM 'dalam hitungan minggu'
  • Iran perbolehkan kapal Malaysia, Thailand, dan lima negara lain melintasi Selat Hormuz, bagaimana dengan kapal Indonesia?
  • China berupaya berperan sebagai mediator dalam perang AS-Iran, apakah bakal berhasil?
>


(ita/ita)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov DKI: 2.002 Ton Sampah Terangkut, Pasar Kramat Jati Ditargetkan Bersih dalam 12 Hari
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
Don Papank Gandeng Trisya Suherman Pasarkan Motor Listrik Tangkas
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Taman Impian Jaya Ancol Setor Dividen Rp160 Miliar ke PJAA
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Media Korea Bocorkan Tim yang Dipilih Megawati Hangestri Jika Resmi Main di Liga Voli Korea 2026-2027
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Galbay Pinjol Bisa Hancurkan Masa Depan? Pahami Dulu Risikonya Sebelum Ajukan Pinjaman
• 16 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.