Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyatakan akan menempuh segala langkah strategis guna menjaga stabilitas pasar, usai nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp17.105 per dolar Amerika Serikat (AS).
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, stabilitas kini menjadi prioritas utama bagi bank sentral.
Untuk itu, lanjutnya, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki beserta kebijakan OM lainnya untuk meredam gejolak dan menjaga stabilitas nilai tukar mata uang Garuda.
"BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, DNDF [Domestic Non-Deliverable Forward], maupun NDF di offshore market," terang Destry dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah ditutup melemah ke posisi Rp17.105 pada perdagangan hari ini, Selasa (7/4/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang dipicu oleh kekhawatiran meluasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah ditutup merosot terhadap dolar AS sebesar 70 poin atau 0,41% menuju level Rp17.105 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS sejatinya terpantau ikut melemah tipis 0,07% ke posisi 99,90.
Baca Juga
- Rupiah Tembus Rp17.100 per Dolar AS, Wamenkeu Juda Sebut Tak jadi Masalah APBN
- Dihantam Sentimen Global, Rupiah Ditutup Melemah Sentuh Rp17.105 per Dolar AS
- Rupiah Hari Ini (7/4) Dibuka Melemah ke Rp17.073 per Dolar AS
Meski dibayangi sentimen negatif eksternal, Destry memandang dampak konflik Timur Tengah tersebut sejatinya bersifat dua arah bagi Indonesia.
Dia menjelaskan bahwa eskalasi konflik tersebut memang memicu pelarian modal ke aset aman (safe haven), namun di sisi lain turut mengerek harga komoditas energi dan mineral global. Kondisi ini diyakini bisa menjadi bantalan bagi ketahanan eksternal RI.
"Kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita, sehingga hal ini dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut," pungkas Destry.



