Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melemparkan ultimatum dan ancaman kepada Iran jika tuntutan untuk membuka lalu lintas Selat Hormuz tak dikabulkan.
Donald Trump melalui Truth Social, Selasa (7/4/2026) malam, mengunggah ancaman akan meratakan peradaban Iran.
"Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tapi mungkin akan terjadi. Nanti malam kita akan mengetahuinya, salah satu momen penting dalam sejarah yang panjang dan kompleks di dunia," tulis Donald Trump dalam Truth Social.
Trump menyebut pergantian rezim di Iran membuka kesempatan untuk melakukan aksi revolusi di negara tersebut.
"Kita akan mengetahuinya malam ini, salah satu momen terpenting dalam sejarah dunia yang panjang dan kompleks. 47 tahun pemerasan, korupsi, dan kematian, akhirnya akan berakhir. Tuhan memberkati Rakyat Iran yang Agung!" tulis Trump.
Baca Juga
- Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran, Jika Selat Hormuz Tidak Dibuka Kembali
- Trump Ultimatum Bisa Hancurkan Iran dalam Semalam
- Klaim Menang Lawan Iran, Trump Buka Peluang AS Pungut Tarif di Selat Hormuz
Ancaman ini dilontarkan jelang tenggat waktu ultimatum Donald Trump kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz.
Ultimatum Trump untuk membuka Selat Hormuz akan berakhir pada Selasa pukul 20.00 waktu Amerika Serikat, atau sekira 4 pagi Waktu Indonesia Barat.
Sebelumnya, Trump juga mengancam akan membumihanguskan Iran layaknya kondisi di neraka.
Di sisi lain, pemerintah Iran tak menunjukkan tanda-tanda akan mengabulkan ultimatum Trump untuk membuka Selat Hormuz.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan menyebut lebih dari 14 juta warganya dengan sukarela mendaftarkan dirinya untuk membela Iran hingga mati.
"Lebih dari 14 juta warga Iran yang bangga telah mendaftar untuk mengorbankan nyawa mereka demi membela Iran. Saya pun telah, sedang, dan akan tetap setia memberikan hidup saya untuk Iran," tulis Masoud Pezeshkian dalam media sosial X.
Serangan terhadap Iran dikabarkan makin masif sepanjang hari ini. Akses publik dibombardir hingga merusak jaringan listrik.





