Topi bagi Lelaki Lansia, Pasti Bukan Sekadar Aksesori

kumparan.com
21 jam lalu
Cover Berita

Kamis (2/4/2046) pagi. Saat menumpang Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang Koridor V Rute Meteseh - PRPP. Saya menemukan pemandangan yang sungguh menarik. Di deretan kursi yang berada di depan saya, duduk berderet empat orang lelaki lanjut usia (lansia) yang semuanya mengenakan topi. Tiga orang mengenakan topi dengan warna relatif gelap.

Sementara itu, satu orang mengenakan topi warna pink. Bertuliskan BLɅƆKPIИK dengan warna dasar hitam. Itu bentuk penggayaan dari tulisan Blackpink (Hangul: 블랙핑크). Grup vokal wanita asal Korea Selatan yang aktif sejak 2016. Beranggotakan empat personel, yaitu Jisoo, Jennie, Rosé, dan Lisa. Saya berpikir, mungkin ada cucu yang sedang iseng, hingga tega membiarkan sang kakek tercinta "melucukan diri" dengan mengenakan topi itu.

Diam-diam saya memotret mereka. Untuk mencegah narsisistik, bersikap peduli yang berlebihan kepada diri sendiri, saya tidak menswafoto diri saya sendiri, yang duduk di deretan kursi BRT di depan mereka, dan juga termasuk lansia (9 November 2026 mendatang, saya genap 62 tahun). Dan, tentu saja, saya mengenakan topi. Di samping saya, duduk seorang lelaki yang bertopi pula. Namun, usianya belum lansia. Sekitar pertengahan 50-an tahun.

Nah, begitulah agaknya lelaki lansia lebih mendominasi pemakaian topi. Senyatanya pernah saya lihat juga, saat menunggu kedatangan BRT di Halte Balai Kota Semarang, ada perempuan lansia yang mengenakan topi. Mereka memakainya tanpa jilbab. Tapi hanya satu atau dua orang saja. Dan, selebihnya lelaki yang belum lansia, di bawah 60 tahun. Dan, jumlahnya belum sedominan lansia.

Ini hanya sempada pengamatan, bukan klaim hasil penelitian. Lagi pula titik-titik pengamatan hanya seputar BRT dan halte. Okelah, taruh kata pengamatan itu belum terlalu presisi dengan realitas yang sebenarnya dalam cakupan pandang yang lebih luas. Akan tetapi, bagaimanapun tetap ada pertanyaan menarik yang masih relevan untuk menjadi tenaga pendorong agar tulisan ini terus berlanjut. Yaitu pertanyaan: mengapa lelaki lansia lebih banyak mengenakan topi?

Praktis, Nyaman, Estetika

Lelaki lansia kerap kali menetapkan pilihan mengenakan topi ketika berada di luar rumah, bepergian dengan menumpang BRT atau Feeder, atau aktivitas keseharian mereka lainnya. Mereka pada umumnya beranjak dari alasan praktis yang bertalian dengan kenyamanan. Dan, kebutuhan akan estetika dengan kemudahan perawatan dalam penampilan sehari-hari.

Topi menjadi pilihan aksesori berpakaian, karena dapat memproteksi kulit kepala dari terik sinar matahari. Topi bisa menjadi penghalang yang mencegah sinar ultraviolet mengenai secara langsung kulit kepala, wajah, dan leher. Tanpa perlindungan itu, paparan sinar ultraviolet berlebihan dapat menimbulkan peradangan kulit, dengan tanda kemerahan, rasa panas, nyeri (sunburn).

Topi dapat meminimalisasi risiko itu berkat kemampuannya melindungi kulit kepala. Rambut yang kian menipis, bahkan mengalami kebotakan, menyebabkan kulit kepala para lelaki lansia sangat rentan mengalami sunburn. Topi dapat menghadirkan lapisan perlindungan yang segera dapat terasakan manfaatnya. Selain itu, pemakaian topi secara rutin dapat menghambat laju risiko penuaan dini pada kulit dan kanker kulit di area kepala serta wajah.

Sementara itu, peran topi bagi lelaki lansia pada saat cuaca dingin, menjadi pelindung kesehatan yang penting. Ada kerentanan penurunan suhu tubuh lantaran metabolisme yang melambat dan penipisan lemak di bawah kulit. Topi tebal dapat mencegah hipotermia (penurunan suhu tubuh secara drastis) melalui kepala.

Topi juga mempersembahkan kenyamanan dan kehangatan. Kulit gatal dapat disebabkan udara dingin dan kering. Hal itu bisa dieliminasi dengan keterjagaan kehangatan kulit kepala. Bahaya kesehatan akibat paparan angin kencang dan suhu ekstrem dapat dilindungi dengan pemakaian topi.

Alasan praktis lainnya dari pemakaian topi, yaitu untuk menyembunyikan kebotakan atau rambut yang menipis (bad hair day) atau lagi uban-uban yang hadir akibat penurunan produksi melanin (pigmen warna) pada folikel rambut sejalan dengan proses penuaan.

Tanpa perlu layanan styling rambut secara rumit dan memakai gel atau hairspray lagi. Bagi lansia itu agak ribet, terlebih kalau setiap hari. Memakai topi jelas lebih praktis dan menghadirkan kesan rapi dengan cara yang lebih mudah. Hal ini juga membantu untuk merawat rasa percaya diri.

Dengan perkataan lain yang berada dalam tarikan kesenadaan maksud, topi berada tidak jauh dari ranah anggapan yang terkatakan dengan bahasa fungsional yang relatif praktis. Tidak perlu terlalu memerosokkan diri dengan kerepotan dalam penataan rambut yang rumit.

Bahkan ekstremnya, topi bisa dikenakan begitu saja ketika baru bangun tidur. Dan, penampilan pun (untuk standar ukuran lansia) bisa langsung tampak rapi. Hemat waktu.

Di samping itu, topi juga menawarkan proteksi ekstra untuk rambut sehingga tidak kering atau kemerahan terkena secara langsung paparan lingkungan. Singkat kata, bagi lelaki lansia, topi mengawinkan fungsi antara proteksi praktis dan kemudahan mengelola penampilan. Ada juga yang menyebut, kombinasi kebutuhan praktis dan preferensi yang mengaksentuasikan kenyamanan.

Bagi sebagian lelaki lansia, topi juga memperoleh pengakuan eksistensial sebagai aksesori fesyen yang dapat mendukung performa diri agar tetap tampak keren, bergaya, atau maskulin. Sejalan dengan pertumbuhan usia yang kian matang dalam kuantitas warsa, banyak lelaki yang merasa lebih enjoy dan lebih self-confident dengan adanya penutup kepala alias topi dalam menekuni rutinitas sehari-hari mereka.

Dengan demikian, dalam cakupan pandang yang lebih luas, kebanyakan lelaki lansia mengenakan topi, lebih pada kaitan fungsi untuk merawat keterlindungan, kenyamanan, dan kepraktisan dalam upaya untuk mengatasi (bisa jadi lebih tepat untuk menyembunyikan) tentang masalah rambut. Bisa karena menipis atau botak. Bisa karena warna putih uban sudah sedemikian merajalela.

Biologis dan Psikologis

Fenomena lelaki lansia alias kakek-kakek yang gemar mengenakan topi mempunyai beberapa sisi pandang menarik. Ternyata fenomena tersebut tidak hanya sempadan persoalan benda aksesori yang bertalian dengan gaya berbusana guna memantaskan performa diri. Akan tetapi, lebih dari itu juga bersangkut paut dengan faktor biologis dan psikologis.

Topi ternyata juga menangguk fungsi termo regulasi atau menjaga suhu kepala. Manakala usia lanjut datang menjelang, biasanya terjadi penurunan kemampuan tubuh dalam mengatur suhu tubuh. Sementara itu, pada lansia terjadi penipisan lemak subkutan yang terletak tepat di bawah lapisan permukaan kulit, seperti area perut, paha, dan lengan.

Dengan demikian, terjadilah ketidakoptimalan fungsinya sebagai cadangan energi. Juga, pelindung tubuh dari suhu ekstrem berikut bantalan otot/tulang. Salah satu efek yang sangat terasa, yaitu lansia cenderung lebih rentan terhadap serbuan suhu dingin. Topi dapat menunaikan fungsinya untuk menjaga panas tubuh agar tidak keluar. Teristimewa bagi lansia yang telah mengalami kebotakan.

Secara psikologis, topi juga merupakan simbol kesederhanaan dan kepraktisan. Tidak sedikit para lelaki lansia menjatuhkan pilihan kepada topi sebagai aksesori yang dalam pemakaianya tidak ribet.

Topi acapkali menjadi cerminan sifat praktis dan sederhana. Merupakan solusi yang tepat, bagi mereka yang menganggap tidak terlalu penting untuk membuang-buang waktu demi sekadar memenuhi keinginan untuk memperolehi performa diri dengan gaya rumit.

Bisa jadi pula, secara psikologis, mengenakan topi bagi banyak lelaki lansia, terutama jenis seperti fedora, flat cap atau topi pet telah menjadi bagian gaya hidup yang telah karib sejak masa muda mereka. Bagi mereka, topi itu menembus batas waktu (timeless) dengan pancaran pesona kesan klasik dan elegan.

Bisa jadi pada masa muda mereka, topi sudah menjadi kebiasaan sejak era lampau yang menjadi bagian dari etika berpakaian. Manakala mereka masih muda, terutama pada era 1950 - 1970-an, lelaki jarang keluar rumah tanpa penutup kepala. Bila demikian keberangkatan motivasinya, maka kebiasaan mengenakan topi merupakan bagian integral dari etika dan gaya hidup klasik yang terusung menjadi kebiasaan hingga usia senja.

Secara psikologis pula, ada rasa aman yang bertengger di hati lelaki lansia sang pemakai topi. Pada sejumlah kasus, tindakan mengenakan tutup kepala itu dapat menyelinapkan rasa familiar dan aman di dalam kalbu, manakala topi yang melindungi kepala si lelaki lansia sudah relatif lama menjadi bagian dari performa dalam berbusana.

Kisah Topi yang Ikonik

Dari persuaan realitas lelaki lansia dengan tindakan mengenakan topi, tersembullah sejumlah kisah menarik dan ikonik baik dari Indonesia maupun mancanegara. Topi itu kerap menjadi bagian yang integral dari identitas mereka. Nah, kita mulai dari sosok tersohor Basuki Hadimuljono (lahir 5 November 1954). Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara per November 2024 itu masih tampak sering mengenakan topi tatkala mengadakan kunjungan kerja.

Hanya saja, Pak Bas (demikian biasa beliau menerima sapaan akrab) telah mengucapkan sayonara kepada topi legendaris yang begitu setia telah menemani selama menjabat Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada 2014 -2024. Topi legendaris itu beliau gunakan ketika meninjau proyek bendungan, jalan tol, dan jembatan di berbagai wilayah kunjungan di Tanah Air.

Saking sering Pak Bas mengenakan topi legendaris itu dalam kunjungan kerja di lapangan, hal tersebut turut memengaruhi kondisinya. Saking terlalu kerap menerima curahan sinar matahari, bersahabat akrab dengan tebaran debu-debu dalam perjalanan meninjau kondisi lapangan, topi itu menjadi tampak kumal. Seolah hendak meneriakkan, bahwa itu simbol dedikasi kerja di lapangan dan bukan sempadan aksesori untuk bergaya.

Konon topi legendaris yang telah membersamai peraih Ph.D. dari Colorado State University dan juga Doktor Honoris Causa dari Institut Teknik Bandung itu, telah menjadi "masa lalu" dengan berada dalam koleksi penyimpanannya setelah beliau pamit dari Kementerian.

Dalam momen pamitan tersebut pada Oktober 2024, beliau tampak mengenakan topi baru berwarna biru dan kuning. Berlainan dengan topi lamanya yang berwarna biru dongker (navy blue).

Begitulah Pak Bas. Sebagai Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara, beliau pun masih tetap aktif turun ke lapangan. Sebagaimana terekam dalam sebuah video pada awal Maret 2025 lalu, pemilik nama depan Mochamad itu tampak mengenakan topi dan mengendarai motor trail ketika meninjau wilayah yang terdampak banjir.

Lalu kita bisa beralih ke penyair Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940 - 19 Juli 2020). Semasa hidup, beliau adalah dosen dan Guru Besar di Fakultas Ilmu Budaya (dahulu Fakultas Sastra) Universitas Indonesia dari 1974 hingga pensiun pada 2005.

Penyair yang terkenal antara lain dengan antologi puisi Duka-Mu Abadi (1969), Sihir Hujan (1984), Yang Fana Adalah Waktu (2018) itu pernah menjabat sebagai dekan (1995 - 1999) dan menerima pengukuhan sebagai Guru Besar pada 1995.

Sapardi Djoko Damono mengawali karier akademik di IKIP Malang Cabang Madiun (1964 - 1968) sebagai dosen dan Ketua Jurusan Bahasa Inggris. Kemudian sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra - Budaya Universitas Diponegoro (1968 - 1973). Setelah pensiun pada 2005, beliau aktif mengajar di Program Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta.

Sapardi Djoko Damono semasa hidupnya sangat tersohor dengan gaya santai nan khas. Salah satu di antaranya, beliau sering mengenakan topi pet (flat cap).

Peraih gelar Doktor Ilmu Sastra dari Universitas Indonesia (1989); pernah memperdalam humaniora di University of Hawaii Amerika Serikat (1970 - 1971); serta sebelumnya Sarjana Sastra Inggris dari Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1964) itu menjadikan topi pet sebagai bagian persona panggung (stage persona) dan juga kehidupan keseharian beliau.

Topi pet menegaskan impresi perfoma beliau sebagai entitas kepribadian sastrawan, penyair, yang sederhana dan hangat. Meskipun demikian, tetap rapi dan klasik.

Bagi siapa pun penggemar penulis disertasi “Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur” (1989) itu, memori mengenai sosok dengan ciri khas hampir senantiasa mengenakan penutup kepala berupa topi pet itu tentulah akan istikamah hadir sebagai kenangan yang sulit terlenyapkan.

Tentang kebiasaannya mengenakan topi pet itu, menurut pengakuan Sapardi Djoko Damono kepada seorang jurnalis sebuah portal digital terkemuka di Tanah Air, bahwa dirinya menyukai olahraga jalan kaki di pusat perbelanjaan. Beranjak dari alasan lantaran tidak perlu ongkos besar, bisa ke sana-kemari, plus ada udara sejuk dari pendingin ruangan (air conditioner).

Akan tetapi, pada suatu ketika beliau mengalami sakit kepala berat akibat pendingin ruangan tersebut. Sejak itulah, topi senantiasa menemani beliau dalam pelbagai aktivitas.

Kebiasaan Sapardi Djoko Damono mengenakan topi pet juga beliau lakukan saat mengajar di kampus. Tidak sedikit kesaksian para mantan mahasiswa dan mahasiswi beliau yang mengonfirmasi kebiasaan itu ketika beraktivitas di lingkungan akademik. Bahkan telah menjadi identitas khas performanya, karena memang begitulah penampilan penyair legendaris itu selama berpuluh-puluh tahun di hadapan publik.

Saking identik dan sering Sapardi Djoko Damono mengenakan topi pet tersebut, sebagai bentuk ungkapan rasa hormat dan cinta, tidak sedikit para mahasiswa dan mahasiswi, bahkan mantan para anak didiknya, menghadiahi topi jenis tersebut sebagai cendera mata setelah mereka mendapat kesempatan ke luar negeri atau ke sejumlah daerah di Tanah Air.

Untuk tokoh luar negeri, sebut saja Frank Sinatra (12 Desember 1915 - 14 Mei 1998). Penyanyi sekaligus aktor legendaris Amerika Serikat itu tersohor sebagai salah seorang entertainer besar, yang tampil penuh gaya dengan topi fedora hingga masa tua. Dengan memiringkan penutup kepala itu, menjadi simbol attitude dan kepercayaan diri Frank Sinatra.

Keberadaan topi fedora di kepala pelantun “My Way” (1969), lagu tentang penentuan nasib sendiri dan refleksi hidup, adalah bagian identitas Sultan of Swoon. Julukan ini berarti “Raja yang Menyebabkan Tergila-gila” atau “Raja yang Menyebabkan Pingsan”. Julukan yang mendeskripsikan daya tarik suara dan pesona Frank Sinatra yang memukau fans fanatiknya.

Begitulah topi fedora itu menggenapi performa elegan tapi santai dari setelan jas tajam (sharp suit). Setelan jas dengan potongan yang sangat pas, presisi, sehingga menghadirkan kesan penampilan begitu rapi dan menawan.

Lalu Charlie Chaplin (16 April 1889 - 25 Desember 1977). Siapa yang tidak mengenal aktor komedi, pembuat film, dan komposer asal Britania Raya yang menangguk kebesaran di era film bisu itu?

Dalam penampilan sebagian besar film bisunya hasil produksi pada rentang tahun 1914 hingga 1936, topi bulat (bowler hat) sering terletak di kepala beliau. Ini menjadi ciri khas yang unik dengan tongkat, jas ketat, dan kumis mungil sebagai identitas visual karakter The Little Tramp. Simbol tak terlupakan dari komedi bisu. ***


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Turunkan Biaya Haji 2026 Rp2 Juta, Antrean Dipangkas Jadi 26 Tahun
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dakwaan Proyek Pengerukan Kolam Pelabuhan Dipersoalkan, Kuasa Hukum 6 Terdakwa Ajukan Eksepsi
• 11 jam lalurealita.co
thumb
Kejuaraan Asia: Jonatan Christie Bungkam Tunggal Putra Malaysia dalam 36 Menit
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Sah! KNVB Putuskan Dean James Terbebas dari Dakwaan Polemik Paspor: Bebas dari Hukuman Disiplin
• 4 jam lalubola.com
thumb
Tamparan Keras untuk Timnas Indonesia, Media Vietnam Heboh Pamer Ranking Liga, Super League Tertinggal Jauh
• 21 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.