JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menyiapkan berbagai langkah antisipasi menghadapi potensi El Nino ekstrem yang kerap disebut “Godzilla”, yakni fenomena iklim yang dikhawatirkan memicu kekeringan panjang, menurunkan produksi pertanian, dan memberi tekanan pada ketahanan pangan nasional.
Dilansir dari laman Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri BMKG, istilah “Godzilla” sebenarnya bukan terminologi ilmiah resmi dalam klimatologi.
Secara ilmiah, El Nino hanya diklasifikasikan dalam kategori lemah, moderat, dan kuat.
Istilah “Godzilla” muncul setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut adanya potensi kombinasi El Nino Southern Oscillation (ENSO) positif dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dapat memperkuat dampak kekeringan.
Baca juga: Apa Itu El Nino Godzilla? Ini Pengertian dan Dampaknya di Indonesia pada 2026
Istilah ini pertama kali digunakan ilmuwan NASA Bill Patzert pada 2015 untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas terhadap iklim global.
Fenomena El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih hangat dari normal.
Kondisi ini menyebabkan pergeseran pembentukan awan hujan menjauh dari Indonesia, sehingga curah hujan berkurang dan risiko kekeringan meningkat.
Lantas, bagaimana kesiapan pemerintah menghadapi El Nino Godzilla?
Baca juga: Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Ketahanan pangan amanMenteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan ketahanan pangan nasional tetap aman meski dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik dan ancaman El Nino.
Dia menyebutkan, stok pangan nasional mencapai 28 juta ton, jauh di atas kebutuhan konsumsi sekitar 2,6 juta ton per bulan.
“Kalau terjadi El Nino, produksi kita masih ada sekitar 2 juta ton per bulan. El Nino diperkirakan enam bulan, sementara persiapan kita mencapai 10–11 bulan. Artinya aman,” kata Amran dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR, Selasa (7/4/2026).
Baca juga: Mentan Jamin Stok Pangan Aman di Tengah Ancaman El Nino
Menurut Amran, stok pangan 28 juta ton tersebut terdiri dari cadangan beras pemerintah, stok di rumah tangga, hotel dan restoran sebesar 12,5 juta ton, serta standing crop atau tanaman yang belum dipanen setara 11 juta ton.
Arman juga memastikan puncak panen diperkirakan berlangsung mulai Februari tahun depan sehingga pasokan tetap terjaga hingga Mei.
“Insya Allah pangan aman,” ujarnya.
Selain beras, sejumlah komoditas pangan strategis diproyeksikan mengalami surplus hingga Mei 2026.





