STADION Anfield kemungkinan besar akan menyuguhkan pemandangan berbeda saat Liverpool menjamu Fulham dalam laga Liga Primer Inggris, Sabtu (11/40 mendatang. Bukan karena sepi peminat, melainkan karena aksi protes besar-besaran yang digalang oleh kelompok suporter fanatik The Reds, Spirit of Shankly.
Melalui kampanye bertajuk Not a Pound in the Ground, para pendukung setia The Reds diajak untuk tidak membelanjakan satu sen pun di dalam stadion. Sebagai gantinya, mereka didorong untuk membeli makanan dan minuman dari usaha lokal di sekitar area Anfield sebelum masuk ke tribun. Aksi ini merupakan respons keras terhadap keputusan manajemen klub yang menaikkan harga tiket untuk tiga musim ke depan.
Alasan di Balik Kemarahan SuporterPada akhir Maret lalu, manajemen Liverpool mengumumkan kebijakan kenaikan harga tiket yang disesuaikan dengan Indeks Harga Konsumen (CPI) atau tingkat inflasi. Kebijakan ini menjadi preseden baru di Liga Primer Inggris karena untuk pertama kalinya sebuah klub mengumumkan kenaikan harga tiket untuk beberapa musim sekaligus secara berturut-turut.
Baca juga : Liverpool Incar Eduardo Camavinga dari Real Madrid, Siapkan Dana Besar
Bagi para suporter, langkah ini dianggap sebagai bentuk eksploitasi loyalitas. Spirit of Shankly dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa klub telah mengabaikan penolakan dari pendukungnya sendiri.
"Ini bukan lagi soal konsultasi, tapi soal aksi. Jika dibiarkan, ini akan menjadi preseden buruk, bukan hanya bagi Liverpool, tapi bagi seluruh ekosistem sepak bola," tulis pernyataan tersebut.
Berikut adalah rincian estimasi kenaikan harga tiket yang memicu protes tersebut:
Baca juga : Al Ittihad Kembali Buru Mohamed Salah Setelah Pastikan akan Hengkang dari Liverpool
Kategori Tiket Estimasi Kenaikan (Per Musim) Dampak Jangka Panjang (Hingga 2028) Tiket Terusan (Season Ticket) £21.50 – £27.00 Potensi kenaikan total hingga £100 Tiket Per Pertandingan £1.25 – £1.75 Terus meningkat mengikuti inflasi (CPI) Pembelaan Klub vs Kritik Mantan CEODi sisi lain, manajemen Liverpool berdalih bahwa kenaikan ini diperlukan untuk menutup biaya operasional yang membengkak. Berdasarkan data internal klub, biaya operasional hari pertandingan telah melonjak 85% sejak musim 2016-17. Selain itu, biaya utilitas naik 107% dan pajak bisnis meroket hingga 286% dalam empat tahun terakhir.
Namun, argumen ini dipatahkan oleh mantan CEO Liverpool, Christian Purslow. Ia menilai langkah mengasingkan suporter garis keras adalah strategi bisnis yang buruk.
"Saya tidak mengerti mengapa tim yang menghasilkan pendapatan hingga £700 juta masih membutuhkan uang tambahan dari kantong suporter yang paling kesulitan secara ekonomi," ujar Purslow dalam sebuah podcast.
Data dari UEFA menunjukkan betapa kuatnya posisi finansial Liverpool saat ini:
Indikator Finansial Nilai/Data Total Pendapatan Tiket Tahun Lalu £120 Juta (Naik 27% YoY) Rata-rata Pendapatan per Pertandingan £4.5 Juta (Peringkat 8 di Eropa) Rata-rata Pendapatan per Suporter £74 per tiket Target Tambahan dari Kenaikan Tiket £1.5 Juta – £2 Juta Ancaman Bagi Seluruh LigaAksi protes di Anfield ini bukan sekadar urusan internal Liverpool. Thomas Concannon dari Football Supporters Association (FSA) memperingatkan bahwa klub-klub Liga Primer Inggris cenderung saling memantau kebijakan harga satu sama lain. Jika Liverpool berhasil menerapkan kenaikan multitahun tanpa perlawanan, klub lain kemungkinan besar akan mengikuti jejak serupa.
Saat ini, gelombang protes suporter memang tengah meningkat di Inggris. Mulai dari protes pemindahan kursi di Manchester City dan Manchester United, hingga penghapusan diskon tiket untuk lansia dan anak-anak di Tottenham Hotspur dan Nottingham Forest. Kampanye Stop Exploiting Loyalty kini menjadi seruan bersama bagi para pendukung sepak bola di seluruh Inggris untuk melindungi komunitas mereka dari komersialisasi yang berlebihan. (bbc/Z-1)





