Menurut Tsantili, Chrysikos, dan Troupis (2022), sindrom text neck telah berkembang menjadi "epidemi baru" yang timbul akibat posisi kepala yang terlalu condong ke depan dalam waktu lama saat menggunakan perangkat seluler. Fenomena ini sangat umum ditemukan pada kalangan remaja yang menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar ponsel tanpa menyadari beban mekanis yang diterima oleh tulang belakang leher mereka. Kondisi ini bukan sekadar keluhan nyeri otot biasa, melainkan ancaman nyata bagi struktur anatomi leher jika kebiasaan postur buruk ini dibiarkan terus berlanjut tanpa adanya intervensi dini.
Secara anatomis, setiap inci kemiringan kepala ke depan akan melipatgandakan tekanan pada diskus intervertebralis dan otot-otot penyangga leher. Remaja sering kali tidak menyadari bahwa berat kepala manusia yang rata-rata berkisar antara 4,5 hingga 5,5 kilogram dapat terasa seberat 27 kilogram ketika leher ditekuk pada sudut 60 derajat. Beban ekstrem yang statis ini menyebabkan mikrotrauma pada jaringan lunak, yang jika terjadi setiap hari, akan mempercepat proses degenerasi tulang belakang di usia yang sangat muda.
Menurut Sigedar dan Giri (2022), prevalensi gangguan ini meningkat secara signifikan terutama setelah masa pandemi COVID-19, di mana ketergantungan pada aktivitas digital menjadi tak terelakkan. Dari perspektif ilmu keperawatan penyakit dalam dan muskuloskeletal, tekanan berlebih pada area servikal ini dapat memicu peradangan kronis dan ketegangan saraf. Masalah yang sering kali belum tuntas ditangani adalah kurangnya kesadaran remaja bahwa gejala seperti sakit kepala, kekakuan bahu, dan kesemutan pada tangan sering kali berakar dari kebiasaan menunduk yang tidak ergonomis.
Menurut Raihan dan Rahman (2023), tingkat ergonomi saat menggunakan teknologi memiliki korelasi langsung terhadap tingkat keparahan sindrom text neck di kalangan pelajar. Perawat memiliki peran penting dalam memberikan edukasi bahwa pencegahan jauh lebih efektif daripada pengobatan, terutama dengan mengatur sudut pandang mata yang sejajar dengan gawai agar beban pada leher berkurang. Selain itu, kinerja fisik dan konsentrasi remaja dalam belajar dapat terganggu secara sistemik apabila rasa nyeri kronis akibat postur ini mulai mengganggu kualitas istirahat dan aktivitas harian mereka secara keseluruhan.
Penting bagi tenaga keperawatan untuk menyosialisasikan teknik "20-20-20" dan peregangan mandiri sebagai bagian dari gaya hidup digital yang sehat. Remaja perlu diajarkan untuk melakukan reposisi dagu (chin tuck) secara berkala untuk menetralkan kembali ketegangan pada otot suboksipital. Pendekatan promotif ini bertujuan untuk mengubah kebiasaan pasif menjadi perilaku proaktif dalam menjaga integritas tulang belakang, mengingat kerusakan struktural yang terjadi di masa remaja akan berdampak pada kesehatan fisik mereka di masa dewasa mendatang.
Menurut Piruta dan Kułak (2025), pendekatan fisioterapi dan strategi pengobatan berbasis bukti saat ini menekankan pentingnya latihan penguatan otot leher dan modifikasi perilaku sebagai solusi masa depan yang berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan penelitian Shinde dan Bhende (2023) yang menyatakan bahwa kombinasi antara peregangan rutin dan kesadaran postur merupakan kunci dalam mengatasi dampak jangka panjang dari sindrom ini. Dengan integrasi asuhan keperawatan yang komprehensif, diharapkan para remaja dapat tetap produktif di era digital tanpa harus mengorbankan kesehatan tulang belakang mereka.





