Mitsubishi Power dan Tawaran Turbin Gas Siap Hidrogen untuk Ketahanan Energi

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Ketahanan energi melesat jadi isu super prioritas berbagai negara seiring perang di Timur Tengah yang mengguncang pasokan dan harga energi global. Di Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan sederet strategi, termasuk mengamankan gas dari blok Liquified Natural Gas (LNG) Masela yang ditargetkan beroperasi dalam beberapa tahun ke depan untuk kebutuhan domestik.

Sebelum perang pecah pada akhir Februari lalu, wartawan Katadata sempat mewawancarai Managing Director sekaligus CEO Mitsubishi Power Asia Pacific Pte. Ltd Akihiro Ondo, membahas panjang lebar tentang teknologi pembangkit gas terbarunya: Pembangkit Listrik Tenaga Gas Turbin yang bisa beroperasi dengan campuran bahan bakar hidrogen atau hydrogen-ready Combined-Cycle Gas Turbine (CCGT) alias CCGT co-fired hydrogen.

Teknologi ini mulai diadopsi di kawasan Asia Tenggara. Pada Oktober 2025, perusahaan pembangkit swasta di Singapura PacificLight Power Pte Ltd meneken kontrak dengan konsorsium yang terdiri dari Mitsubishi Power dan Jurong Engineering Limited untuk pengembangan CCGT terbesar di Singapura yang “hydrogen-ready”, dengan target operasional 2029. Mitsubishi juga memasok teknologi serupa ke Thailand.

Dengan kemampuan menggunakan dua bahan bakar, pembangkit ini dipromosikan sebagai solusi pembangkit beban dasar atau base load yang rendah emisi dan siap menyambut era hidrogen yang sering disebut sebagai bahan bakar masa depan.

Berikut kutipan wawancara dengan Akihiro Ondo mengenai perkembangan riset hidrogen, teknologi hydrogen-ready CCGT, keterlibatan grup dalam proyek waste to energy,  hingga pandangannya mengenai jalan paling efisien bagi Indonesia untuk mencapai ketahanan energi sekaligus penurunan emisi. Wawancara ini telah disunting untuk kejelasan dan efektivitas.

Saya membaca tentang terobosan terbaru dalam penelitian Mitsubihi untuk pemecahan amonia menjadi hidrogen. Bisa Anda jelaskan lebih banyak tentang ini dan kenapa disebut terobosan?

Sebelum menjawab pertanyaan pertama Anda, izinkan saya memberikan sedikit konteks atau gambaran umum tentang apa yang kami lakukan sebagai Mitsubishi Power di wilayah ini (ASEAN).

Saat ini, kami melihat peningkatan permintaan listrik dan juga peningkatan permintaan pembangkit listrik berbasis gas, yang sebagian didorong oleh permintaan pusat data AI, dan juga pertumbuhan ekonomi.

Dengan momentum seperti itu di pasar, (kebutuhannya adalah) untuk memenuhi atau menyeimbangkan tujuan keamanan energi atau keterjangkauan, dan juga keberlanjutan energi atau dekarbonisasi.

Kami fokus pada beberapa pilar untuk memenuhi tujuan dilema atau trilema energi tersebut. Pilar pertama, bagian terpenting, adalah solusi base load dengan memanfaatkan gas alam atau LNG. Kemudian, pilar kedua adalah mengoptimalkan pengoperasian fasilitas yang ada, termasuk batu bara.

Kemudian pilar ketiga adalah mengembangkan pemanfaatan bahan bakar bersih. Jadi, di samping fasilitas baru atau fasilitas yang sudah ada, kami juga sedang memvalidasi teknologi baru yang memanfaatkan bahan bakar yang lebih bersih seperti amonia atau hidrogen.

Amonia dan hidrogen memiliki pro dan kontra. Amonia lebih mudah diangkut. Tapi di sisi lain, jika kita membakar amonia, maka kita akan menghasilkan nitrogen oksida(Nox), yang termasuk emisi polusi udara.

Sedangkan untuk hidrogen, karena konfigurasinya adalah H2, jadi tidak ada N, maka meskipun dibakar, kita tidak menghasilkan emisi seperti NOx. Namun, pengangkutannya agak sulit. Dan, hidrogen cair masih dalam tahap validasi.

Jadi, di Pusat Penelitian dan Pengembangan Nagasaki milik kami, yang terletak di bagian barat Jepang, yang kami sebut juga dengan Taman Netral Karbon Nagasaki, kami menerapkan pengembangan dan verifikasi teknologi untuk berbagai teknologi terkait hidrogen atau amonia.

Jadi, pemecahan amonia untuk menghasilkan hidrogen adalah salah satu solusi (yang dikembangkan). Teknologi khusus ini dapat menghasilkan hidrogen dengan suhu uap yang lebih rendah, dan juga jejak karbon yang diminimalkan.

Pada akhirnya, solusi atau teknologi yang layak secara komersial mungkin bervariasi tergantung pada lokasi atau konfigurasi fasilitas, baik di Indonesia maupun negara lain. Bahkan untuk setiap pelaku industri, solusi teknologi yang sesuai mungkin berbeda.

Jadi, dengan mengintegrasikan teknologi atau solusi tersebut, kami ingin memberikan aplikasi yang paling realistis dan optimal kepada setiap pelanggan.

Setelah terobosan itu, apa selanjutnya?

Jadi, tidak hanya untuk sistem pemecahan amonia ini, kami mengembangkan teknologi kami di pusat riset dan pengembangan kami untuk mendemonstrasikan aplikasi tersebut di fasilitas kami atau mungkin di fasilitas mitra kami. Itu adalah langkah selanjutnya.

Kemudian, setelah mengonfirmasi hasil dari kegiatan demonstrasi tersebut, baru-lah kami akan memperkenalkan solusi tersebut ke pasar dalam skala komersial.

Saya ingin mengetahui perkembangan di Jepang, yang menjadi markas Anda. Setelah peristiwa Fukushima, ada penurunan dalam penggunaan pembangkit tenaga nuklir. Tapi pemerintah Jepang tampaknya ingin meningkatkan kapasitasnya kembali. Di lain sisi, saya juga memperhatikan bahwa pemerintah Jepang mengincar pengembangan energi hidrogen. Bagaimana Anda melihat arahnya, apa yang akan menjadi energi utama di Jepang di masa depan?

Saya akan mulai dengan hidrogen. Jadi, terkait solusi pemanfaatan atau produksi hidrogen, di Taman Netral Karbon Nagasaki, kami mengembangkan teknologi baru.

Saat ini, kami memiliki pabrik turbin gas di Kota Takasago, Prefektur Hyogo. Agak ke arah barat Osaka atau Kobe. Kemudian, di dalam pabrik, kami memiliki pembangkit listrik sendiri. Kapasitasnya 550 megawatt, jadi ini adalah pembangkit listrik skala komersial yang kami miliki.

Kemudian, di samping pembangkit listrik skala komersial ini, kami mulai memasang sistem produksi hidrogen. Pada tahun 2023, kami sudah memasang dua jenis sistem produksi hidrogen.

Dan kami akan terus memasang sistem produksi hidrogen lainnya di dalam pabrik Takasago yang sama. Fasilitas ini disebut Taman Hidrogen Takasago. Pertama di dunia yang mengintergrasikan produksi, penyimpanan, dan pemanfaatan hidrogen di pembangkit listrik.

Jadi, bersama dengan Taman Netral Karbon Nagasaki, Taman Hidrogen Takasago ini merupakan pendekatan unik bagi Mitsubishi Power untuk memvalidasi manfaat atau pemanfaatan hidrogen. Kemudian, kami akan menerapkan teknologi atau solusi yang tersedia ke luar Jepang. Jadi, itulah pendekatan kami terhadap hidrogen.

Taman Hidrogen Takasago ini unik bagi Mitsubishi Power. Berdasarkan fasilitas ini, kami akan memperluasnya ke seluruh dunia.

Kemudian, beralih ke elemen nuklir. kami memahami bahwa nuklir adalah teknologi penting dan juga terbukti, solusi yang telah teruji.

Jadi, teknologi nuklir dapat memenuhi kebutuhan pembangkit listrik base load dan juga emisi karbon nol. Namun, di sisi lain, untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir baru membutuhkan waktu yang cukup lama.

Bahkan di Jepang, yang sudah memiliki semacam pengaturan legislatif, protokol keselamatan, dan metode koordinasi dengan masyarakat untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir, tetap saja membutuhkan waktu yang lama.

Jadi, mungkin jawaban utama untuk pertanyaan Anda adalah, poin terpenting adalah membangun portofolio pembangkit listrik yang optimal, dengan sebagian menggunakan energi nuklir, sebagian lagi menggunakan gas, dan juga energi terbarukan.

Di Jepang, kami tidak memiliki sumber daya alam seperti gas, batu bara, atau minyak. Oleh karena itu, kami harus mengimpor energi tersebut dari luar. Jadi, kami sebagai sebuah negara, yang sedang kami upayakan adalah membangun portofolio yang optimal. Dan gas alam adalah yang terpenting.

Hidrogen bisa diproduksi di dalam negeri, kan?

Bisa jadi. Mesin turbin gas terbaru kami, yang kami sebut seri JAC, memiliki efisiensi yang cukup tinggi dan memiliki kemampuan untuk co-fired hidrogen. Jadi, bahkan saat ini, turbin gas kami dapat menampung 30 persen hidrogen.

Setelah rantai pasok hidrogen atau amonia terbentuk, kami dapat secara bertahap meningkatkan persentase hidrogen tersebut dari 30 persen menjadi 50 persen, hingga akhirnya 100 persen. Kami sudah menyelesaikan verifikasi untuk 50 persen.

Kami sebagai penyedia teknologi and penyedia solusi akan terus mengembangkan teknologi kami. Di sisi lain, mitra kami mengembangkan rantai pasok, sistem ketenagalistrikan. Kami bisa menggabungkan upaya-upaya kami dan saya percaya hidrogen atau ammonia akan menjadi solusi yang realistis.

Bila saya tidak salah, proyek Anda di Jurong, juga menggunakan teknologi yang sama ya co-fired hidrogen? Ini yang terbesar di Asia Tenggara?

Benar, tapi kalau saya boleh tambahkan beberapa informasi tambahan, sekarang kami terlibat dalam empat proyek di Singapura. Satu proyek, ini memiliki turbin gas yang agak lebih kecil, yang disebut F class. Tiga proyek lainnya dengan turbin gas JAC kami.

Turbin gas ini memiliki kemampuan untuk co-fired 30 persen hidrogen. Jadi, itu adalah turbin gas yang siap hidrogen. Ini adalah salah satu fasilitas turbin gas gabungan terbesar sebagai satu unit.

Kemudian, sebagai tambahan, kami telah mengirimkan 10 unit CCGT di Thailand. Jadi, pada dasarnya, tipe turbin gas yang sama dan memiliki kemampuan untuk mengakomodasi hidrogen. Ya, semuanya dapat mengakomodasi hidrogen.

Semua tersambung dengan jaringan listrik nasional (on-grid)?

Ya, semuanya on grid.

Jadi, permintaan global untuk teknologi itu besar ya, bahkan di Asia Tenggara?

Ya.

Di Indonesia, apakah ada proyek?

Jadi, di Asia Tenggara, kami melihat peningkatan permintaan untuk pusat data, terutama di Malaysia atau Thailand. Kemudian, Indonesia (PLN) mengeluarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun lalu. RUPTL membahas beberapa peluang pembangkit listrik CCGT berbahan bakar gas.

Jadi, kami sangat menantikan untuk mempromosikan CCGT kami. Bisa dimulai dengan gas alam atau LNG, tetapi begitu hidrogen tersedia dalam skala komersial, kita bisa mulai menggunakan pembakaran campuran atau co-fired.

Saya mendengar bahwa Anda baru saja menandatangani MoU dengan ITB, terkait hidrogen. Apakah ini ada kaitannya dengan proyek PLN co-firing PLTU batu bara dengan hidrogen?

Dengan ITB, kami penelitian kolaboratif sejak tahun 2020. Jadi, lebih dari lima tahun. Bidang yang sedang kami kerjakan atau validasi bersama adalah teknologi pembakaran amonia. Jadi, program itu sendiri terpisah dengan kolaborasi kami dengan grup PLN.

Namun demikian, bagi kami, sangat penting untuk memiliki kegiatan kolaboratif dengan akademisi atau sektor pemerintah juga sektor swasta. Dengan menggabungkan keahlian para pemangku kepentingan kami, kami yakin dapat mencapai kemajuan atau capaian yang signifikan dalam hal transisi energi.

Saya tahu ada beberapa pilihan energi terbarukan yang dipertimbangkan pemerintah untuk mendukung pusat-pusat data. Saya yakin salah satu yang terbesar pembangkit surya. Tapi, Anda pikir hidrogen bisa menjadi pilihan lain yang harus dipertimbangkan pemerintah dalam menangani pusat data?

Ya, jadi dalam jangka panjang, setelah terbentuknya ekosistem atau rantai pasok hidrogen, itu mungkin menjadi solusi penting untuk menyediakan daya yang stabil dengan menggunakan turbin gas.

Kemudian, dalam jangka menengah atau pendek, pemanfaatan gas merupakan salah satu solusi untuk melengkapi energi terbarukan. Jadi, salah satu contohnya ada di Pulau Jurong.

Jadi, tadi saya sebutkan tentang turbin gas berukuran agak lebih kecil, F class. Kami telah mengirimkan mesin tersebut ke perusahaan pembangkit listrik milik pemerintah, Meranti Power. Jadi, turbin gas milik pemerintah ini akan menjadi pendorong awal jika kita menghadapi kekurangan listrik.

Jadi, jika kita hanya memiliki energi terbarukan, maka jika terjadi hujan atau cuaca mendung, dalam kasus seperti itu, turbin gas dapat dihidupkan untuk mengurangi risiko gap pasokan listrik tersebut. Jadi, kombinasi energi terbarukan seperti solar PV dan gas adalah solusi yang baik.

Apakah ada diskusi dengan pemerintah untuk menggunakan ini sebagai solusi yang lebih luas bagi Indonesia?

Kami telah dan sedang melakukan banyak diskusi dengan sektor pemerintah dan juga sektor swasta. Untuk setiap potensi aplikasi, baik base load atau jenis pembangkit listrik puncak atau pembangkit listrik dengan kapasitas menengah. Ya, kami telah melakukan banyak diskusi dengan pemerintah dan sektor swasta.

Untuk saat ini, menurut Anda apa tantangan terbesar dalam mengadopsi teknologi-teknologi ini? Apakah biaya atau regulasi masih menjadi tantangan?

Sebenarnya, saya tidak melihat tantangan besar atau serius, terutama di Indonesia. Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah, baik dari sisi energi terbarukan maupun gas atau mineral lainnya. Jadi, Indonesia berada di salah satu posisi terbaik untuk memenuhi kebutuhan keamanan dan keberlanjutan energi.

Namun, di sisi lain, salah satu bidang yang harus terus kita pertimbangkan adalah penguatan koneksi jaringan listrik. Di jaringan Jawa Bali, kita memiliki koneksi jaringan yang kuat dan stabil. Tapi jika kita memikirkan seluruh Indonesia, termasuk pulau-pulau, interkonektivitas mungkin menjadi salah satu area yang harus kita pertimbangkan.

Jika kita memikirkan fitur energi terbarukan, seperti tenaga surya atau angin, tidak selalu sumber energi terbarukan dan pusat permintaan cocok. Jadi, untuk memanfaatkan energi berbasis terbarukan di jaringan Jawa Bali, kita harus memiliki interkonektivitas, pulau demi pulau.

Jika kita dapat melanjutkan diskusi kita dengan para pemangku kepentingan, termasuk peningkatan konektivitas jaringan tersebut, maka kita akan memperkuat atau meningkatkan ketahanan pasokan listrik di seluruh Indonesia.

Pemerintah sering bicara bahwa membangun jaringan listrik itu mahal. Apakah Anda punya saran terkait pembiayaan untuk ini?

Saya percaya bahwa pengaturan kolaborasi internasional dalam hal pembiayaan dapat meningkatkan ketersediaan pasokan listrik di beberapa lokasi. Misalnya, pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang telah lama memiliki dialog strategis semacam itu.

Selain kolaborasi antar-negara seperti itu, kita juga memiliki beberapa kolaborasi internasional seperti Asia Zero Emission Community (ASEC). ASEC sendiri bukan-lah sebuah struktur yang menyediakan pendanaan untuk setiap proyek, melainkan platform untuk dialog dan komunikasi.

Namun melalui dialog kolaboratif semacam ini, kita dapat menyusun proyek-proyek nyata untuk mendapatkan pendanaan dari lembaga internasional.

Saya tahu bahwa Grup Mitsubishi juga ikut serta dalam tender proyek Waste to Energy di Indonesia. Apakah Anda memiliki bocoran informasi tentang hal itu yang dapat Anda bagikan kepada kami?

Sebagai Grup Mitsubishi Heavy Industries, kami menyediakan solusi pengolahan sampah menjadi energi dalam skala besar. Salah satu contohnya adalah TuasOne, fasilitas pengolahan sampah menjadi energi yang terletak di bagian barat Singapura.

Di sana kami membangun dan juga memiliki fasilitas pengolahan sampah menjadi energi. Kapasitasnya adalah 120 MW untuk membakar 3.600 ton sampah per hari. Jadi itu adalah salah satu pembangkit listrik tenaga sampah terbesar di dunia.

Ini juga jadi salah satu sektor yang diincar Grup Mitsubishi Heavy Industries di Indonesia?

Saya kira demikian. Pembangkit listrik tenaga sampah sangat penting dari sudut pandang pengelolaan sampah. Namun, bahkan dengan pembangkit listrik tenaga sampah kelas terbesar sekalipun, kapasitasnya masih 120 MW.

Pembangkit listrik base load yang dimiliki oleh Grup PLN atau perusahaan perusahaan pembangkit swasta berkapasitas 600 MW atau 700 MW. Jadi kita harus memenuhi permintaan listrik dengan mengintegrasikan solusi-solusi tersebut. Dan, sebagai Mitsubishi Power, kami fokus pada skala besar ini, yaitu sisi base-load.

Mari kita bicara tentang proyek besar yang sedang Anda kerjakan atau persiapkan di Indonesia. Bisakah Anda berbagi tentang ini?

Di RUPTL, terdapat beberapa proyek pembangkit listrik CCGT baru yang terdaftar. Kami sangat tertarik untuk terlibat dalam peluang tersebut. Kemudian, kami banyak berdialog untuk proyek-proyek CCGT baru ini.

Ada kemungkinan proyek ini di Maluku atau Sulawesi, mengingat industri tengah berkembang pesat di sana?

Pada umumnya, proyek-proyek pembangkit listrik beban dasar berskala besar tersebut diproyeksikan di Jawa-Bali, Pulau Jawa. Dalam jangka panjang, mungkin saja (di pulau lain). Tetapi untuk memasang fasilitas pembangkit listrik skala besar, peningkatan jaringan listrik juga diperlukan.

Saya ingin tahu saran Anda untuk Indonesia. Energi fosil seperti batu bara dan gas melimpah di Indonesia. Tapi Indonesia punya komitmen penurunan emisi yang harus kami penuhi. Saat ini pemerintah sedang mencari opsi terbaik. Hidrogen muncul sebagai salah satu solusi di masa depan. Kemudian pemerintah mempertimbangkan opsi lain, yaitu pembangkit listrik tenaga nuklir. Pemerintah baru saja mengeluarkan pernyataan soal rencana 7 gigawatt PLTN di 2034. Anda sudah lama berkecimpung di bisnis energi. Saya ingin mengetahui pendapat dan saran Anda terkait transisi energi yang efisien bagi Indonesia.

Mungkin kembali ke konteks yang saya sebutkan di awal. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang stabil dan juga meningkatnya permintaan listrik, bagian terpenting adalah mempertahankan base load, kemudian meningkatkan base load tersebut.

Bersamaan dengan pemasangan energi terbarukan, seperti tenaga solar PV atau angin, maka salah satu solusi terpenting adalah gas. Fasilitas pembangkit listrik tenaga gas sebagai base load.

Jika kita memiliki solusi gas ini, maka seperti yang saya sebutkan, kita dapat memulai dengan 100 persen gas alam atau LNG. Dengan adanya rantai pasok bahan bakar yang lebih bersih, kita secara bertahap dapat mengakomodasi bahan bakar yang lebih bersih seperti hidrogen. Jadi ini adalah salah satu solusi yang paling realistis.

Kemudian untuk fasilitas yang sudah ada, saya sebutkan tentang pemeliharaan atau peningkatan efisiensinya.

Kemudian faktor penting lainnya adalah meningkatkan fleksibilitas operasional. Jadi, meningkatkan kapasitas pembangkitan untuk melengkapi energi terbarukan.

Dengan demikian, kita dapat menyusun portofolio yang optimal, baik untuk memenuhi keamanan energi, keandalan, dan keberlanjutan.

Saya pikir pemanfaatan gas dan optimalisasi fasilitas yang ada adalah pendekatan terpenting untuk jangka pendek atau menengah.

Dalam jangka panjang, mungkin energi nuklir atau hidrogen akan hadir. Saat ini, kita harus fokus pada solusi yang layak secara komersial seperti gas.

Kemudian, jika kita bisa melakukan peningkatan konektivitas jaringan, maka kita dapat memanfaatkan lebih banyak energi terbarukan seperti panas bumi atau tenaga air. Jadi, sumber energi tersebut berada di pulau-pulau selain Jawa. Ksita mungkin dapat menggunakan listrik dari pulau-pulau lain jika kita memiliki interkonektivitas.

Dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Jepang atau mungkin Singapura juga, Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah. Jadi Anda berada dalam posisi yang sangat baik untuk membuat campuran pembangkit listrik yang paling optimal, termasuk untuk memenuhi tujuan dekarbonisasi.

Semua negara berjuang untuk memenuhi kebutuhan keamanan dan keberlanjutan energi secara bersamaan. Itu bukan hanya masalah Indonesia. Setiap negara memiliki batasan dan tujuan masing-masing.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Avtur Naik, AirAsia Indonesia Pilih Optimalkan Rute Favorit
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ketua KPK sebut belum ada panggilan Dewas terkait tahanan rumah Yaqut
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
RUU Sisdiknas Dibahas DPR, Nasib Guru PPPK dan Peran Psikolog Sekolah Jadi Sorotan
• 4 jam laludisway.id
thumb
PJS Tegaskan Tak Pernah Tolak Kehadiran Parkir Digital, Hanya Minta Dihargai
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Prajurit UNIFIL Sempat Ditahan Israel, Dibebaskan Setelah Ada Intervensi
• 6 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.