jpnn.com - JAKARTA - Ketua Gerakan Bebas Tar dan Asap Rokok (Gebrak) Garindra Kartasasmita menjelaskan perbedaan fundamental antara rokok elektrik dan rokok biasa terletak pada prosesnya.
Dia menjelaskan produk tembakau alternatif, seperti vape, tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin, dinilai memiliki profil risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.
BACA JUGA: BNN Usulkan Pelarangan Vape di RUU Narkotika, Ini Alasannya
“Perbedaan paling signifikan adalah prosesnya. Rokok itu dibakar, sedangkan rokok elektronik melalui sistem pemanasan. Pembakaran itulah yang membuat risikonya sangat berbeda,” kata Garindra dalam keterangannya, Rabu (7/4).
Menurut Garindra, sistem pemanasan pada vape mengubah cairan nikotin menjadi uap, bukan asap.
BACA JUGA: Singgung Temuan soal Zat Obat Bius, Kepala BNN Usulkan Pelarangan Vape
Hal inilah yang membuat profil risikonya lebih rendah karena tidak menghasilkan tar yang mengandung ribuan zat kimia berbahaya hasil pembakaran.
Bukan sekadar klaim, hal ini diperkuat oleh penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
BACA JUGA: Jadi Bos Baru Foom, Arief Muhammad Perkuat Bisnis di Industri Vape
Penelitian BRIN yang bertajuk Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia menunjukkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki kadar toksikan yang jauh lebih rendah berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Senada dengan BRIN, jurnal internasional The Lancet juga merilis studi yang melibatkan 5.600 perokok dewasa di Amerika Serikat.
Hasilnya, perokok yang beralih total ke vape selama 30 hari menunjukkan perbaikan fungsi pernapasan yang signifikan, serupa dengan mereka yang berhenti merokok sepenuhnya.
Manfaat beralih ke vape juga dirasakan langsung oleh Mamet, seorang anggota komunitas Matic Dizzy Person. Mantan perokok ini mengaku merasakan perubahan fisik yang nyata sejak beralih ke vape pada 2019.
“Pertama soal penampilan, gigi saya sekarang tidak kuning lagi seperti dahulu saat masih merokok. Bau badan dan baju juga jadi lebih bersih,” ujar Mamet.
Meski begitu, Mamet mengakui masa transisi tidaklah instan. Godaan merokok biasanya muncul setelah makan.
Namun, keberagaman varian rasa pada vape sangat membantunya untuk tetap konsisten meninggalkan rokok.
Meski dinilai lebih rendah risiko, Garindra maupun Mamet mengingatkan para pengguna vape untuk tetap bertanggung jawab.
Dia juga menjelaskan terdapat beberapa etika menggunakan vape di ruang publik. Pertama tahu tempat dan waktu, jangan menggunakan vape di area terlarang.
"Kedua, izin kepada orang sekitar. Jika berada di tempat sempit, sebaiknya meminta izin kepada orang di sekitar sebelum ngevape," katanya.
Ketiga, lanjut Mamet, usahakan mengembuskan uap ke arah atas agar tidak mengganggu orang lain dan terakhir jangan membuang sampah cartridge atau botol liquid sembarangan. (mcr8/jpnn)
Redaktur : Mufthia Ridwan
Reporter : Kenny Kurnia Putra




