JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi hotel yang akan digunakan sebagai tempat pemondokan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi disorot anggota Komisi VIII DPR RI.
Sebab, fasilitas dan perlengkapannya dianggap tidak layak serta berisiko membahayakan jemaah.
Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina mengatakan, fasilitas dasar seperti tempat wudu masih menjadi persoalan serius, meski kapasitas mushala tergolong besar.
“Setelah kita perhatikan, kondisi hotelnya mungkin bagus, tetapi setelah kita breakdown lagi di dalamnya; seperti halnya yang namanya mushala, mushalanya memang kapasitasnya bisa sampai dengan 700 jemaah, tetapi yang namanya tempat wudunya itu tidak layak untuk para jemaah," kata Selly dalam rapat kerja bersama Kementerian Haji dan Umrah RI, Rabu (8/4/2026).
Baca juga: Solusi Prabowo Atasi Pesawat Haji Kosong: Garuda-Saudi Airlines Bikin Joint Venture
Politikus PDI-P itu mengungkap, desain tempat wudu di salah satu hotel berpotensi membahayakan.
Sebab jemaah harus mengangkat kaki terlalu tinggi saat berwudhu.
"Karena kalau jemaah ingin melakukan wudu, ternyata kakinya itu harus diangkat tinggi-tinggi, bisa-bisa dia terjatuh. Nah ini juga harus diperhatikan mumpung masih ada waktu, Kementerian Haji bisa melakukan koordinasi dengan pihak hotelnya," kata Selly dia.
Adapun temuan itu berdasarkan hasil kunjungan dan peninjauan langsung di Mekkah dan Madinah oleh perwakilan Komisi VIII DPR RI.
Dalam rapat yang sama, anggota Komisi VIII DPR RI M. Husni juga mengungkapkan temuan soal kondisi perlengkapan di kamar hotel yang sudah tidak layak pakai.
Husni mencontohkan, gorden di salah satu hotel bahkan tampak kusam dan berdebu.
Baca juga: Anggota DPR Kritik Jauhnya Hotel Jemaah Haji di Arab Saudi, Risiko Keamanan Disorot
"Saya lihat gordennya sudah yang asli warna putih sudah warna kuning, Pak. Saya ketok, keluar debunya. Saya lihat lagi gorden tebalnya itu, Pak. Itu produksi 30 tahun yang lalu, Pak," kata dia.
Dia juga menyoroti kondisi karpet yang sudah tua dan tidak seragam, serta tempat tidur untuk jemaah haji yang kualitasnya telah menurun karena termakan usia.
"Karpetnya antara satu dengan satu dengan motif yang sama warnanya jauh. Itu menandakan barang itu sudah lebih daripada 15 sampai 20 tahun. Saya pegang lagi tempat tidurnya. Saya tahu, Pak, tempat tidur ini kenapa ya, kok karetnya itu sudah menyatu,” ungkap Husni.
Menurut Husni, kondisi tersebut berpotensi berdampak pada kesehatan jemaah.
"Itu saya takutkan nanti jemaah masuk situ, datang sehat, masuk situ langsung ISPA," kata dia.





