REPUBLIKA.CO.ID,Rasulullah SAW mengungkap rahasia di balik ucapan terputus-putus seorang sahabat menjelang ajalnya yang sempat membuat sang istri kebingungan. Dalam kisah yang dikutip dari buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW, terungkap bahwa setiap kalimat yang diucapkan saat sakaratul maut merupakan bentuk penyesalan sang sahabat karena tidak memberikan amal terbaiknya saat melihat besarnya balasan pahala di akhirat.
Pada suatu ketika, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW meninggal. Kemudian, Rasulullah SAW mengantarkan jenazahnya hingga pemakaman.
Baca Juga
Mentan Ungkap Gula Rafinasi Bocor ke Pasar, Rusak Harga Petani
Lima Kendaraan Tabrakan Beruntun di Wonosobo, Satu Orang Tewas di Tempat
Telusur Jejak Filsafat Islam
Pulang dari pemakaman, Rasulullah SAW melayat keluarga almarhum. Beliau menghibur mereka dan berpesan agar tetap bersabar dan tawakal menghadapi musibah tersebut. "Apakah sebelum meninggal, almarhum mewasiatkan sesuatu?” tanya Rasulullah SAW.
“Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara napasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal,” jawab istri dari sahabat Rasul yang meninggal.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Rasulullah SAW bertanya lagi, “Apa yang dikatakannya?” Istri dari sahabat Rasul yang meninggal menjawab, "Aku tidak tahu, wahai Rasulullah. Apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum meninggal, ataukah ia kesakitan karena dahsyatnya sakaratul maut. Aku tidak bisa menangkap ucapannya karena terputus-putus.”
Rasulullah SAW bertanya lagi, “Apa yang ia ucapkan?” Ia menjawab, "Andai lebih lama lagi, andai yang masih baru, andai semuanya. Hanya kata-kata itu yang tertangkap telingaku. Sungguh aku tidak tahu maksudnya."
Rasulullah SAW tersenyum kemudian bersabda, "Sungguh, ucapan suamimu itu benar adanya. Seperti ini ceritanya. Suatu hari, ia berjalan cepat ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan orang buta yang juga hendak ke masjid."
"Orang buta itu berjalan tersandung-sandung karena tidak ada yang menuntun. Maka, suamimu membimbingnya sampai ke masjid. Ketika hendak menghembuskan napas terakhirnya, ia melihat pahala amal salehnya itu sehingga ia berkata, ‘Andai lebih lama lagi’. Maksudnya, seandainya dulu ia menuntun orang buta itu lebih lama lagi, pasti pahalanya lebih besar."
"Kalimatnya yang kedua ia ucapkan karena suatu hari ia pergi ke masjid pagi-pagi di tengah cuaca yang sangat dingin. Di tepi jalan, ia melihat seorang laki-laki tua duduk dengan tubuh menggigil. Hampir saja, orang tua itu mati kedinginan. Kebetulan, suamimu mengenakan dua buah mantel, yang lama dan yang baru.