Sektor finansial dan layanan publik menjadi target utama serangan siber, karena dinilai paling menguntungkan dan berdampak besar, baik dari sisi ekonomi maupun eksposur.
Menurut Country Manager Indonesia Kaspersky Defi Nofitra, motif utama pelaku serangan siber selalu berkaitan dengan keuntungan.
“Jadi pertama adalah sektor bisnis."
"Itu kan karena dia punya economic benefit,” ujar Defi dalam acara jumpa awak media di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Ia menegaskan, sektor finansial menjadi sasaran utama karena menyimpan potensi keuntungan langsung bagi pelaku.
“Artinya dia bisa melakukan ransom (tebusan)."
"Karena di situlah letak uangnya,” ungkapnya.
Selain finansial, sektor publik juga menjadi target, karena memberikan dampak luas dan perhatian besar dari masyarakat.
Menurut Defi, pelaku tidak selalu mencari keuntungan materi, tetapi juga eksposur.
“Karena ini exposure. Mungkin hacker enggak butuh uang, tapi dia butuh exposure,” ulasnya.
Serangan terhadap layanan publik, seperti situs kementerian atau portal layanan masyarakat, dinilai dapat memicu dampak besar.
"Tiba-tiba website-nya Kementerian A kena, website Badan B kena. Itu kan buat mereka adalah eksposur," jelasnya.
Defi mencontohkan gangguan pada layanan publik dapat menimbulkan efek domino di masyarakat.
"Misalnya portalnya untuk ngurusin down."
"Itu kan impact-nya bisa ke mana-mana,” ujarnya.
Karena itu, kedua sektor ini dinilai harus menjadi prioritas dalam penguatan sistem keamanan siber.
Defi menekankan, serangan yang menyasar layanan publik juga sering kali bertujuan menciptakan kepanikan dan perhatian luas.
“Dan heboh itu kan seneng orang tuh."
Baca Juga: Kaspersky Dorong Adopsi SOC, Solusi Proaktif Hadapi Ancaman Siber
"Dia bisa, wah gue berhasil buat hebohnya,” tambahnya.
Dengan risiko yang tinggi tersebut, perusahaan di sektor finansial dan institusi publik diharapkan dapat meningkatkan sistem perlindungan mereka, agar tidak menjadi korban serangan yang dapat berdampak luas, baik secara ekonomi maupun sosial. (*)





