Menanti Investor Ritel Serap SR024 Jelang Akhir Masa Penawaran

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan SR024 sebagai Sukuk Ritel perdana 2026, menjadi ajang pembuktian negara terhadap daya tahan minat investor domestik di tengah sentimen terhadap pasar keuangan yang kian memburuk.

Tidak tanggung-tanggung, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan bahkan membekali SR024 dengan masa penawaran terpanjang, sejak 6 Maret hingga 15 April 2026. Target yang ditetapkan pada produk ini juga tidak muluk-muluk, hanya Rp15 triliun, lebih rendah dibandingkan ORI029 yang memiliki target Rp25 triliun.

Namun nyatanya, investor ritel belum memperlihatkan minat yang sangat besar terhadap produk ini. Melansir data Bibit, lebih dari satu bulan masa penawaran, SR024-T3 hanya ludes terjual 84,5% dari kuota nasional. Sementara itu, SR024-T5 baru terjual 75,8% dari total kuota.

Dengan kata lain, SR024-T3 masih menyisakan Rp1,53 triliun, sementara SR024-T5 masih tersisa Rp1,20 triliun dari target penjualan. Secara total, pasar ritel domestik baru menyerap sekitar Rp12,25 triliun atau 81,66% dari target produk ini selama lebih dari 30 hari masa penawaran.

Kondisi ini sebetulnya mencerminkan potensi serapan yang besar. ORI029 yang menjadi pembuka jalan penerbitan SBN Ritel tahun ini misalnya, hanya ludes terjual 57,76% dari target awal Rp25 triliun. Artinya, pasar hanya berminat menyerap Rp14,44 triliun dari produk ini.

Namun, dibandingkan 2025, dengan realisasi penjualan SBN Ritel bahkan berada pada kisaran 93,65%—132,57% dari target penjualan, realisasi penjualan sementara SR024 masih cukup jauh dari dari batas minimum serapan pada tahun lalu.

Baca Juga

  • Investasi SR024 Dengan Mudah di Aplikasi Permata ME
  • Adu Rayu Obligasi Ritel SMI vs Sukuk Ritel SR024 Tarik Minat Investor
  • Intip Daya Tarik SR024 Buat Investor saat Pasar Saham Bergejolak
Nasib SR024

Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Deni Ridwan, menerangkan dengan realisasi tersebut, pihaknya cenderung optimistis terhadap serapan penuh dari pasar. Kendati masa penawaran bertepatan dengan Idul Fitri yang berpotensi mengalihkan likuiditas masyarakat, tetapi animo investor terhadap produk ini dinilai cukup tinggi.

Terlebih di tengah kondisi perekonomian saat ini, Sukuk Ritel disebut dapat menjadi pilihan yang menarik bagi masyarakat karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif dan keamanan.

”Pemerintah cukup optimistis target penerbitan sebesar Rp15 triliun dapat dipenuhi sebelum penutupan masa penawaran pada 15 April 2026. Di tengah kondisi perekonomian yang cukup dinamis akibat dinamika geopolitik dan perekonomian global, Sukuk Negara Ritel tetap menjadi pilihan menarik bagi masyarakat karena menawarkan keamanan serta imbal hasil yang cukup kompetitif,” katanya kepada Bisnis, Rabu (8/4/2026).

Di satu sisi, kalangan mitra distribusi SR024, mengaku cukup optimistis terhadap penjualan produk ini. Head of PR & Corporate Communication Bibit William, menerangkan realisasi penjualan sejauh ini masih sesuai ekspektasi perusahaan.

Dengan kata lain, kendati sisa kuota nasional masih mencapai sekitar Rp15 triliun, tetapi pihaknya tetap pede produk syariah ini akan terserap oleh investor. Salah satu dasar kepercayaan diri itu adalah imbal hasil yang ditawarkan SR024 lebih tinggi ketimbang 3 SBN Ritel terakhir.

Belum lagi dibandingkan bunga deposito bank umum, SR024 dinilai memiliki daya tawar yang lebih menarik. Hal ini bahkan berada pada fakta bahwa produk SBN Ritel dijamin oleh negara, sehingga menurunkan risikonya.

”Sejauh ini penjualannya sesuai ekspektasi kami di awal, khususnya yang tenor tiga tahun. Kuota nasional tersisa sekitar 15%. Dengan sisa waktu satu minggu lagi, kami optimistis akan terserap oleh masyarakat, para investor,” katanya kepada Bisnis, Rabu (8/4/2026).

Guna memaksimalkan penjualan, William menjelaskan bahwa pihaknya terus mengupayakan komunikasi dengan investor melalui berbagai macam saluran dan aktivitas. Bibit juga memberikan promosi berupa cashback bagi investor di produk ini.

Tidak tanggung-tanggung, Bibit bahkan turut melakukan roadshow ke Jawa Timur untuk meningkatkan basis investor SBN Tanah Air.

Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI Salvian Fernando, menilai kendati tenggat penawaran SR024 sudah di ujung tanduk, tetapi peluang serapan masih cenderung besar lantaran secara historis, investor akan berbondong-bondong menyerap produk SBN Ritel pada akhir masa penawaran.

Belum lagi, SR024 sebagai produk SBN Ritel dinilai memiliki imbal hasil yang kompetitif dibandingkan bunga deposito perbankan, jaminan pemerintah yang memberikan persepsi risiko rendah, hingga kebutuhan diversifikasi di tengah volatilitas pasar.

”Meskipun SR024 masih menyisakan sekitar 20% dari target, peluang terserap penuh tetap besar karena secara historis, permintaan biasanya meningkat menjelang akhir masa penawaran, terutama dari investor yang sebelumnya wait and see,” katanya kepada Bisnis, Rabu (8/4/2026).

Di satu sisi, kondisi geopolitik yang belakangan memuncak, disebut memiliki dampak dua arah.  Artinya, pada satu sisi membuat investor lebih tertarik dengan instrumen minim risiko, tetapi di sisi lain dapat menahan permintaan jika memicu kenaikan yield global dan pelemahan rupiah.

Dengan begitu, investor dinilai menjadi lebih berhati-hati. Meskipun begitu, jika ketegangan berlanjut, SBN Ritel tetap berpotensi diminati, tetapi dengan pola permintaan yang lebih selektif dan sensitif terhadap dinamika pasar global.

Di satu sisi, Chief Dealer Fixed Income & Derivatives PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Fudji Rahardjo, menilai realisasi penjualan SBN Ritel secara umum masih dipengaruhi oleh kondisi global, yang membentuk minat beli dari investor.

Meskipun begitu, prospek serapan pasar terhadap produk SBN Ritel cenderung positif ke depan. Terlebih, kesepakatan mengenai gencatan senjata antara Iran dan AS telah diumumkan, yang dinilai mendorong sentimen positif dan berpotensi mendorong serapan bagi pasar SBN.

”Fokus utama saat ini masih dipengaruhi oleh katalis terkait kondisi geopolitik, harapannya kondisi tersebut dapat mereda sehingga dapat meningkatkan minat beli para investor,” katanya kepada Bisnis, Rabu (8/4/2026).

Direktur Jenderal DJPPR Suminto, mengatakan bahwa pihaknya memasang sikap optimistis terhadap prospek penerbitan SBN Ritel di 2026. Kendati realisasi ORI029 tampak jauh panggang dari api, optimisme tersebut lahir dari sifat SBN Ritel yang disebut lebih aman ketimbang instrumen investasi lainnya.

Struktur SBN Ritel yang cukup variatif dari sisi jenis surat utang, kupon, tenor, hingga waktu penerbitan dinilai dapat menjawab kebutuhan dan preferensi investor yang beragam.

”Ke depan, prospek SBN Ritel masih cukup baik, selain memberikan return yang menarik, juga menawarkan alternatif investasi yang aman dan mudah, terutama untuk generasi muda yang mulai meningkatkan portofolio investasinya,” katanya kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

DJPPR juga disebut memiliki ruang kebijakan untuk melakukan penyesuaian pada struktur kupon, tenor, maupun kalender penerbitan dengan mempertimbangkan kondisi pasar keuangan, likuiditas domestik, hingga pemangkasan suku bunga. Hal itu yang membuat kepercayaan diri DJPPR tetap terjaga dalam penerbitan SBN Ritel di 2026.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BNI Perkuat Edukasi Anti-Phishing Nasabah Korporasi Lewat Panduan Aman PERIKSA
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Mulai Juli, B50 Diklaim Bisa Pangkas Subsidi hingga Rp48 Triliun
• 29 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Hampir Tiap Hari Teleponan dengan Oky Pratama, Nikita Mirzani Keluhkan Penyakit Ini
• 10 jam lalugrid.id
thumb
IHSG Dibuka Cerah, Rupiah Melemah di Rp 17.105 per Dolar AS
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Komentar Hector Souto usai Bawa Timnas Futsal Indonesia Sapu Bersih Fase Grup Piala AFF Futsal 2026: Buah Kepercayaan Kepada Pemain
• 1 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.