BPOM Dorong Nutri-level untuk Tekan Penyakit Tidak Menular, Dimulai dari Label Minuman

pantau.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pantau - BPOM memperkenalkan Nutri-level sebagai inisiatif pencantuman kadar gula, garam, dan lemak pada label pangan guna mengedukasi masyarakat agar memilih konsumsi yang lebih sehat di tengah tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia.

Latar Belakang dan Urgensi Kebijakan

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan, "Target utamanya Nutri-level ini adalah mengedukasi masyarakat kita untuk hidup sehat. Karena salah satu indikasi pentingnya, ternyata 73 persen penduduk Indonesia ini meninggal karena penyakit non-infeksi. Dan hampir 11 persen penduduk kita menderita diabetes," ungkapnya.

Data menunjukkan sekitar 73 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit non-infeksi.

Sekitar 11 persen penduduk Indonesia juga diketahui menderita diabetes.

Sementara itu, data Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 31 juta penduduk Indonesia berada dalam kondisi pre-diabetik, diabetik, atau diabetes tipe 1 yang bergantung pada insulin.

Mekanisme Penerapan dan Dukungan Pemerintah

BPOM telah menandatangani rancangan revisi peraturan terkait Informasi Nilai Gizi pada label pangan olahan yang mencakup pencantuman Nutri-level pada bagian depan kemasan atau front of pack nutrition labelling (FOPNL).

Pada tahap awal, Nutri-level akan diterapkan pada produk minuman sebelum diperluas ke berbagai produk pangan lainnya.

Kebijakan ini merupakan mandat dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024.

Saat ini, implementasi masih menunggu persetujuan dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Hukum sebelum dicatat dalam Lembaran Negara dan diberlakukan.

Pada tahap awal, penerapan Nutri-level masih bersifat sukarela.

Kementerian Kesehatan menyambut baik kebijakan ini sebagai bagian dari strategi edukasi publik.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyatakan, "FOPL salah satu strategi yg direkomendasikan WHO untuk pengendalian penyakit PTM khususnya GGL, dan benchmark negara lagi dengan pengendalian GGL dapat berkontribusi menurunkan angka kesakitan hipertensi dan diabetes melitus dan menurunkan juga angka stroke, jantung dan gangguan ginjal," jelasnya.

WHO merekomendasikan front of pack labelling sebagai salah satu strategi pengendalian penyakit tidak menular, khususnya terkait konsumsi gula, garam, dan lemak.

Penerapan serupa di negara seperti Singapura, Brasil, dan Prancis telah menjadi acuan dalam mengendalikan konsumsi zat tersebut.

Dampak dari edukasi melalui Nutri-level diperkirakan baru akan terlihat dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun.

Pengendalian penyakit tidak menular disebut memerlukan strategi komprehensif dengan berbagai intervensi agar hasilnya optimal.

Dengan adanya pelabelan ini, konsumen diharapkan lebih memahami kandungan gizi dan menyesuaikan pola konsumsi sesuai kebutuhan tubuh.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota Parlemen Korsel : Korut Ingin Bangun Hubungan Baru dengan AS, Jaga Jarak dari Iran
• 9 jam laluerabaru.net
thumb
Indonesia Berhasil Pulangkan Tiga Artefak Bersejarah dari Belanda
• 40 menit lalujpnn.com
thumb
IHSG Rabu (8/4) Berpotensi Melemah, Simak Pilihan Saham dari Analis
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
5 Orang Tewas Imbas Longsor di Sibolangit Sumut
• 17 jam laludetik.com
thumb
Lowongan Kerja Perum Jasa Tirta I April 2026 Dibuka, Cek Posisi, Syarat, dan Cara Daftarnya
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.