JAKARTA, KOMPAS.com – Di sebuah sudut Tebet, Jakarta Selatan, kreativitas tumbuh dari hal sederhana yakni konsep sarapan pagi.
Namun, dari spanduk kecil yang memajang singkatan “MBG”, “BGN”, dan “SPPG”, percakapan meluas, dari sekadar dagangan, menjadi tafsir yang lebih dalam.
Lapak itu menjual menu sederhana, dari roti hingga nasi chicken katsu, dengan harga sekitar Rp 12.000.
Baca juga: Kehadiran MBG dan SPPG ala Pedagang Sarapan di Tebet
Tapi yang membuatnya ramai bukan hanya harga, melainkan nama.
Istilah yang digunakan terasa familiar di telinga publik, menyerupai program pemerintah, namun dipelesetkan menjadi lebih ringan, Mantap Banget Gila, Badan Ganjel Nyarap, hingga Solusi Perut Paling Gawat.
Nama yang mengundang perhatian
Bagi Zainurrahman (29), pemilik lapak, semua berawal dari spontanitas.
Ide itu muncul dari obrolan santai bersama dua rekannya, tanpa perencanaan panjang.
“Lebih kurang semingguan yang lalu kami mulai. Awalnya kami bertiga, setelah shalat Isya, kami ngumpul. Enggak lama, kepikiran lah untuk buat bisnis gitu kan,” ujar Zainur, saat ditemui, Rabu (8/4/2026).
Pemilihan nama “MBG” bukan kebetulan. Ia sadar istilah itu sedang ramai dibicarakan.
Di jalanan yang padat, perhatian menjadi kunci.
Baca juga: Mencicipi Sarapan “MBG” Rp 12.000 di Tebet, Warga Bisa Titip Jualan
“Yang penting mereka ngelihat dari namanya, ‘Oh, MBG’, kayak gitu kan. Ya awal-awal memang anak sekolah sih banyak yang datang gitu kan, awalnya ngetes, nyoba, dan segala macam,” tutur dia.
Upaya itu diperkuat dengan pembuatan logo hingga jingle di media sosial.
Lapak kecil itu pun perlahan ramai, bukan hanya oleh pembeli, tetapi juga rasa penasaran.
Di balik itu, ada upaya lain yang berjalan: melibatkan warga sekitar.