Gencatan Senjata Iran Tak Mempan, Harga Minyak Masih Tembus Rp2,1 Juta per Barel

viva.co.id
21 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Harga minyak mentah global masih menunjukkan tekanan tinggi meski tensi geopolitik mulai mereda. Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, tampaknya belum cukup untuk memulihkan gangguan pasokan yang terjadi akibat konflik selama lima minggu terakhir.

Data terbaru menunjukkan bahwa harga spot minyak Brent untuk pengiriman cepat justru melonjak signifikan. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pasokan minyak global masih sangat ketat, bahkan ketika konflik mulai mereda di atas kertas.

Baca Juga :
Keras! Iran Ultimatum AS: Pilih Gencatan Senjata atau Lanjutkan Perang
Presiden Iran: Gencatan Senjata di Lebanon Syarat Utama Berdamai dengan Teheran

Harga spot kargo minyak Brent tercatat mencapai US$124,68 per barel atau setara Rp2.119.560 pada Rabu (kurs Rp17.000). Harga ini mencerminkan kondisi nyata di pasar fisik, yakni pengiriman minyak dalam rentang 10 hingga 30 hari ke depan.

Sebagai perbandingan, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Juni ditutup di level US$94,75 per barel atau setara Rp1.610.750. Selisih hampir US$30 atau sekitar Rp508.810 per barel menunjukkan bahwa pasar fisik jauh lebih ketat dibandingkan ekspektasi pasar ke depan.

Meskipun harga spot telah turun sekitar US$19,75 atau setara Rp335.750 setelah kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu, levelnya masih tergolong tinggi. Hal ini menandakan bahwa gangguan pasokan belum sepenuhnya pulih.

Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, menegaskan bahwa kondisi di pasar minyak saat ini masih jauh dari normal. “Ini benar-benar kacau,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari CNBC, Kamis, 9 April 2026.

Menurutnya, harga kargo aktual mencerminkan realitas di lapangan dan jalur distribusi laut. Produksi minyak di Timur Tengah dilaporkan turun hingga 13 juta barel per hari akibat anjloknya lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz.

Sebagian besar kapal tanker kini beralih menuju Amerika Serikat untuk mengambil pasokan minyak dari sana. Perubahan jalur ini diperkirakan membutuhkan waktu hingga Juni sebelum kembali normal ke kawasan Timur Tengah.

Analis Kpler yang fokus pada Timur Tengah dan OPEC, Amena Bakr, menyebut bahwa ratusan juta barel minyak telah keluar dari pasar akibat konflik. Proses pemulihan pun diperkirakan tidak akan berlangsung cepat.

“Hal ini bergantung pada berapa lama gencatan senjata ini bertahan,” ujarnya.

Baca Juga :
Iran-AS Terancam Gagal Damai Setelah Israel Gempur Lebanon?
Wapres AS Sebut Iran 'Bodoh' Jika Merusak Kesepakatan Gencatan karena Lebanon
Bursa Asia Bergejolak Setelah Iran Klaim AS Langgar Kesepakatan Ketegangan Gencatan Senjata

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Polri Periksa Eks Direktur PT DSI, Cecar 50 Pertanyaan
• 14 jam lalurctiplus.com
thumb
Fakta-fakta Pengadaan Motor Listrik MBG Harga Rp40 Jutaan
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Perkuat Transformasi Beyond Mortgage, BTN Sudah Salurkan 6 Juta KPR hingga April 2026
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Prabowo: Indonesia Siap Jadi Basis Produksi Sedan Listrik Mulai 2028
• 18 jam laludisway.id
thumb
Telusuri Aset Eks Sekjen Kemnaker, KPK Periksa Tujuh Saksi
• 23 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.