Jakarta, VIVA – Harga minyak mentah global masih menunjukkan tekanan tinggi meski tensi geopolitik mulai mereda. Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, tampaknya belum cukup untuk memulihkan gangguan pasokan yang terjadi akibat konflik selama lima minggu terakhir.
Data terbaru menunjukkan bahwa harga spot minyak Brent untuk pengiriman cepat justru melonjak signifikan. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pasokan minyak global masih sangat ketat, bahkan ketika konflik mulai mereda di atas kertas.
Harga spot kargo minyak Brent tercatat mencapai US$124,68 per barel atau setara Rp2.119.560 pada Rabu (kurs Rp17.000). Harga ini mencerminkan kondisi nyata di pasar fisik, yakni pengiriman minyak dalam rentang 10 hingga 30 hari ke depan.
Sebagai perbandingan, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Juni ditutup di level US$94,75 per barel atau setara Rp1.610.750. Selisih hampir US$30 atau sekitar Rp508.810 per barel menunjukkan bahwa pasar fisik jauh lebih ketat dibandingkan ekspektasi pasar ke depan.
Meskipun harga spot telah turun sekitar US$19,75 atau setara Rp335.750 setelah kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu, levelnya masih tergolong tinggi. Hal ini menandakan bahwa gangguan pasokan belum sepenuhnya pulih.
Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, menegaskan bahwa kondisi di pasar minyak saat ini masih jauh dari normal. “Ini benar-benar kacau,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari CNBC, Kamis, 9 April 2026.
Menurutnya, harga kargo aktual mencerminkan realitas di lapangan dan jalur distribusi laut. Produksi minyak di Timur Tengah dilaporkan turun hingga 13 juta barel per hari akibat anjloknya lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Sebagian besar kapal tanker kini beralih menuju Amerika Serikat untuk mengambil pasokan minyak dari sana. Perubahan jalur ini diperkirakan membutuhkan waktu hingga Juni sebelum kembali normal ke kawasan Timur Tengah.
Analis Kpler yang fokus pada Timur Tengah dan OPEC, Amena Bakr, menyebut bahwa ratusan juta barel minyak telah keluar dari pasar akibat konflik. Proses pemulihan pun diperkirakan tidak akan berlangsung cepat.
“Hal ini bergantung pada berapa lama gencatan senjata ini bertahan,” ujarnya.





