Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggandeng UNICEF, Gates Foundation, dan Tanoto Foundation untuk mengatasi persoalan rendahnya capaian literasi dan numerasi siswa di Indonesia.
Program kolaborasi ini akan difokuskan pada enam kabupaten/kota sebagai wilayah percontohan. Enam daerah tersebut yaitu Kabupaten Tegal, Kota Medan, Kota Pematangsiantar, Kabupaten Batang Hari, Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Ende.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa berbagai persoalan pendidikan seperti learning loss, learning poverty, hingga capaian skor PISA yang belum optimal menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi.
“Ada banyak sekali permasalahan yang kita hadapi. Problem kita terkait dengan learning loss, learning poverty, dan juga skor PISA yang memang kita belum mencapai target sebagaimana yang diharapkan,” ujar Mu’ti di Gedung Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/4).
Learning poverty atau kemiskinan belajar adalah kondisi anak usia 10 tahun tidak mampu membaca dan memahami cerita sederhana.
Programme for International Student Assessment (PISA) adalah studi evaluasi sistem pendidikan internasional yang diselenggarakan oleh OECD setiap tiga tahun sekali. PISA mengukur kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun untuk memecahkan masalah kehidupan nyata, bukan sekadar hafalan kurikulum.
Tujuan PISA menilai seberapa baik sistem pendidikan di suatu negara mempersiapkan siswa menghadapi tantangan kehidupan nyata dan berpartisipasi dalam masyarakat.
Mu'ti menekankan bahwa berbagai tantangan tersebut justru harus menjadi pendorong untuk melakukan perbaikan sistem pendidikan secara menyeluruh.
“Tapi saya merujuk pada pidato Bapak Presiden Prabowo kemarin dalam pertemuan dengan para menteri, wakil menteri, pimpinan lembaga, dan juga para pejabat eselon satu dan juga para direktur BUMN, bahwa berbagai macam tantangan dan permasalahan yang ada itu bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru menjadi pemicu dan pemacu kita semua untuk berbuat lebih baik lagi,” katanya.
Program ini ditargetkan berjalan dari 2026 hingga 2029 dengan fokus pada siswa sekolah dasar, khususnya kelas awal, agar masalah literasi dan numerasi tidak terus berlanjut hingga jenjang pendidikan berikutnya.
“Ini akan berlangsung sampai 2029. It means a three-years programs yang itu kami harapkan dapat terlihat hasilnya,” ujar Mu’ti.
“Dan nanti mulai dari kelas 1, kelas 2, kelas 3 ya, kemudian nanti ada lagi nanti kelas 5 coba nanti kita lakukan capaiannya seperti apa sehingga cerita-cerita atau banyak sekali video-video yang dikirim melalui medsos SMA tidak bisa baca, SMA enggak bisa berhitung, itu hanya menjadi cerita masa lalu yang tidak terjadi lagi di masa yang akan datang,” lanjutnya.
Program Sasar 500 Sekolah di 6 DaerahKepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menjelaskan bahwa program ini akan menjangkau sekitar 500 sekolah dasar di enam kabupaten/kota dengan melibatkan 1.500 guru di kelas awal.
“Dan program ini akan menjangkau kira-kira 500 sekolah dasar di 6 kabupaten/kota dengan melibatkan sekitar 1.500 guru di kelas awal,” jelas Toni.
“Dan fokus utamanya adalah peningkatan kapasitas guru, kemudian penerapan pembelajaran mendalam, serta pemanfaatan hasil asesmen untuk peningkatan kualitas pembelajaran,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa rendahnya capaian literasi dan numerasi masih menjadi persoalan mendasar.
“Dari hasil Asesmen Nasional dan juga hasil PISA menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan di dalam penguasaan kompetensi dasar,” ujarnya.
UNICEF Soroti Krisis Pembelajaran GlobalCountry Representative UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, menilai bahwa persoalan learning poverty tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi tantangan global.
“Dunia saat ini masih berada dalam krisis pembelajaran, yang dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, perubahan lanskap multilateral, serta berbagai krisis yang saling terkait,” kata Maniza.
Ia mengungkapkan bahwa hampir sebagian besar anak di dunia masih mengalami kesulitan dalam memahami bacaan dasar.
“Hampir tujuh dari sepuluh anak di seluruh dunia mengalami kemiskinan pembelajaran. Mereka tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia sepuluh tahun,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa persoalan tersebut dapat diatasi melalui kolaborasi dan strategi yang tepat.
“Meskipun krisis pembelajaran merupakan tantangan global, hal ini bukan sesuatu yang mustahil untuk diatasi. Setiap negara, dengan kemauan politik, strategi yang efektif, dan upaya kolektif, dapat mencapai kemajuan signifikan dalam memperluas akses pendidikan berkualitas,” lanjutnya.
Dorong Pendekatan SistemikPerwakilan Gates Foundation, Satish Menon, menekankan bahwa peningkatan literasi dan numerasi membutuhkan pendekatan menyeluruh dalam sistem pendidikan.
“Kami percaya bahwa setiap anak, tanpa memandang di mana mereka dilahirkan, berhak mendapatkan kesempatan untuk mencapai potensi penuh mereka. Literasi dan numerasi dasar bukan sekadar tujuan pendidikan. Keduanya merupakan keterampilan hidup yang esensial,” ujarnya.
Ia menyoroti hasil PISA yang menunjukkan capaian siswa Indonesia masih rendah.
“Namun, pada saat yang sama, kami menyadari adanya tantangan bersama ke depan, sebagaimana terlihat dalam hasil PISA terbaru, di mana hanya sekitar 25 persen siswa yang mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca dan sekitar 18 persen dalam numerasi,” lanjutnya.
Menurutnya, perbaikan pendidikan memerlukan tiga hal utama, yakni penguatan praktik pengajaran, pemanfaatan data, dan keselarasan kebijakan hingga tingkat daerah.
Head of Learning Environment Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati, menegaskan pentingnya penguatan fondasi literasi dan numerasi sejak dini melalui kolaborasi multipihak.
“Tantangan masih ada. Tadi dibacakan, disampaikan mengenai nilai PISA dan Indonesia masih di bawah skor rata-rata negara OECD. Kemudian juga kita tahu dari dalam negeri pun, pemerintah tidak tinggal diam untuk melakukan asesmen di mana kita sekarang. Ternyata, belum 100 persen anak Indonesia memiliki kecakapan minimum di bidang literasi dan numerasi,” ujar Margaretha.
“Untuk membaca masih 71 persen, bahkan untuk matematika masih di bawahnya, 69 persen. Data ini menunjukkan urgensi yang luar biasa untuk kita memulai dari penguatan fondasi sejak dini dan tentunya melalui strategi yang berkelanjutan,” sambung dia.





