Jakarta, VIVA – Krisis energi saat ini menghantam negara berkembang seiring memanasnya konflik geopolitik global. Kali ini, India yang menghadapi tekanan besar akibat terganggunya pasokan liquefied petroleum gas (LPG) yang selama ini menjadi andalan jutaan rumah tangga.
Gangguan pasokan ini dipicu oleh terhentinya distribusi energi melalui Strait of Hormuz setelah pecahnya perang di kawasan Timur Tengah. Dampaknya langsung terasa di dalam negeri, dengan antrean panjang masyarakat untuk mendapatkan tabung gas.
Sebagai negara pembeli LPG terbesar kedua di dunia, India sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah. Ketika jalur distribusi terganggu, krisis pun tak terhindarkan.
Dalam situasi ini, berbagai kelompok industri mulai mendorong pemerintah setempat untuk mempertimbangkan alternatif bahan bakar yang lebih murah dan berkelanjutan, salah satunya adalah kompor berbasis etanol.
Organisasi seperti Indian Sugar & Bio-Energy Manufacturers Association (ISMA), Federation of Indian Petroleum Industry (FIPI), dan Grain Ethanol Manufacturers Association (GEMA) aktif mengampanyekan penggunaan etanol sebagai bahan bakar memasak, baik untuk rumah tangga maupun sektor komersial.
Mengutip laporan International Institute for Sustainable Development, penggunaan etanol dan biogas berpotensi menghemat subsidi LPG India hingga US$25 miliar atau setara Rp425 triliun dalam beberapa tahun ke depan.
“Memasak berbasis etanol bukan hanya tentang menggantikan LPG,” demikian dikutip dari laporan Khaleej Times, Kamis, 9 April 2026.
Direktur hilir FIPI, R.S. Ravi, mengungkapkan bahwa sejumlah lembaga seperti LPG Equipment Research Centre dan berbagai Indian Institutes of Technology (IIT) tengah mengembangkan kompor etanol yang lebih efisien dan kompatibel.
Ia mendorong pelaku industri untuk segera membangun rantai pasok etanol yang kuat, termasuk bekerja sama dengan produsen kompor agar teknologi ini bisa segera digunakan secara luas oleh masyarakat.
Sementara itu, GEMA juga meminta pemerintah untuk segera meluncurkan proyek percontohan guna menguji efektivitas kompor etanol, baik di rumah tangga maupun dapur komersial.
Krisis LPG yang berkepanjangan bahkan telah memaksa sejumlah usaha kecil dan menengah menghentikan operasionalnya karena kesulitan mendapatkan bahan bakar.





