JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah padatnya kereta, masih terlihat beberapa penumpang yang termasuk kategori "prioritas", tetapi justru tak bisa menempati kursi khusus untuk mereka.
Jumlah kursinya pun terbatas, hanya di ujung gerbong untuk KRL model lama.
Bahkan, mereka juga tidak mendapatkan tempat duduk di kursi biasa.
Terkadang, pengguna prioritas sulit menjangkau kursi karena saking padatnya kereta. Mau tak mau, mereka ikut berdiri.
Hal itu lah yang dirasakan Suyatno (67), warga Pasar Minggu, yang rutin menggunakan KRL untuk berjualan di Jakarta.
Menurutnya, perjalanan menggunakan kereta bukan sekadar mobilitas, tetapi juga perjuangan menjaga keseimbangan tubuh.
“Kalau lagi ramai, ya mau tidak mau berdiri. Padahal kalau berdiri terlalu lama, kaki saya sudah tidak kuat,” kata Suyatno kepada Kompas.com di gerbong menuju Stasiun Cikini, Rabu (8/4/2026).
Baca juga: Pramono Ungkap Rencana Jalur KRL Baru, Sambungkan Rawajati hingga Tanjung Priok
Ia mengaku kerap melihat kursi prioritas sudah terisi penuh oleh penumpang muda yang tampak sehat.
Meski demikian, Suyatno jarang menegur atau meminta secara langsung. Ia lebih sering memilih bertahan sambil berpegangan. Namun, risiko tetap ada.
“Pernah hampir jatuh, untung ada yang pegangin. Kalau tidak, bisa bahaya,” kata dia.
Suyatno menekankan perbedaan antara lelah biasa dan keterbatasan fisik karena usia.
“Anak muda capek kerja, saya mengerti. Tapi kalau saya, ini faktor umur. Berdiri lama memang tidak kuat,” ucap dia.
Sementara itu, Sofyan (60) duduk di kursi prioritas sambil memangku cucu perempuannya yang berusia 7 tahun.
Baginya, kursi prioritas bukan sekadar kenyamanan, melainkan kebutuhan.
“Kalau kereta goyang atau berhenti mendadak, yang saya pikirkan bukan cuma saya jatuh, tapi cucu saya juga bisa ikut terbentur,” ujar Sofyan.
Meskipun pernah mendapat tatapan heran penumpang lain, Sofyan menekankan pentingnya kesadaran kolektif bahwa kursi prioritas bukan sekadar fasilitas, melainkan bentuk perlindungan bagi yang membutuhkan.
Baca juga: Viral Penumpang Tarik Topi Petugas KCI di Manggarai Saat Paksa Masuk KRL Penuh
Ibu hamil sulit dapat kursiBagi Hami (29), asal Depok, yang tengah mengandung 7 bulan, perjalanan menggunakan KRL adalah ujian fisik dan emosional.
Ia mengaku tidak selalu mendapatkan haknya sebagai penumpang prioritas, meski sudah mempunyai pin Ibu hamil.
“Sering banget harus berdiri. Padahal kondisi lagi hamil, badan cepat capek, kadang pusing juga,” ujar Hami di Stasiun Manggarai.
Ia menuturkan momen paling sulit biasanya saat jam sibuk. Kursi prioritas kerap sudah terisi penuh, bahkan oleh penumpang yang secara kasat mata tidak termasuk kategori rentan.
“Kadang saya sudah berdiri di depan kursi prioritas, tapi ya… orang-orangnya pura-pura tidak lihat atau sibuk dengan HP,” ucap Hami.
Ia menambahkan, rasa sungkan kerap menghambatnya untuk meminta duduk.
“Secara aturan saya tahu itu hak saya. Tapi jujur, kadang tidak enak juga harus minta. Takut dianggap memaksa atau dilihatin orang,” kata dia.
Selain itu, kondisi kehamilan yang belum terlihat juga membuatnya sering dianggap sama seperti penumpang lain, padahal mual, pusing, dan kelelahan ekstrem kerap menghampiri.
“Pernah, baru beberapa waktu lalu, dan saya sempat susah dapat tempat duduk walau akhirnya duduk di kursi biasa, bukan kursi prioritas,” ujar Hami.
Baca juga: Masih Diduduki Penumpang Umum, Kursi Prioritas KRL Sebenarnya untuk Siapa?





