REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Ruang publik Indonesia dipanaskan oleh sebuah tangkapan layar yang mencatut Donald J. Trump dan belakangan dinyatakan hoaks. Isinya provokatif.
Dikatakan bahwa Muslim Sunni Indonesia itu munafik dan tidak konsisten: dulu memusuhi Syiah, kini mendukung Iran karena berhadapan dengan Israel dan Amerika.
Baca Juga
Masjid Al Aqsa dan Gereja Makam Suci Dibuka Kembali Setelah Ditutup Israel
Hizbullah Melawan di Tengah Serangan Intens Israel, Rudal-Rudal Perlawanan Hantam Wilayah Zionis
Apa Tujuan Israel di Balik Serangan Besar-besaran ke Lebanon Sejak 1982?
Namun, di era media sosial, kebenaran sering kali datang terlambat dibandingkan dengan emosi. Narasi itu terlanjur beredar, memantik perdebatan, bahkan memancing kegelisahan sebagian kalangan.
Di era post-truth seperti sekarang ini, seringkali yang penting bukanlah fakta, melainkan apa yang diyakini publik sebagai fakta.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar soal siapa yang menulis dan apakah tulisannya itu memang benar berasal darinya.
Persoalan yang lebih penting adalah, bagaimana menyikapi narasi yang terlanjur viral tersebut, terutama, ketika polemik yang muncul menautkan dua hal yang sangat sensitif bagi masyarakat Muslim Indonesia: identitas keagamaan dan konflik geopolitik.
Narasi tersebut menyodorkan tuduhan “kemunafikan” dengan cara yang sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya itulah ia berbahaya.
Pertanyaannya, benarkah publik Muslim Indonesia sedang mengalami perubahan sikap 180 derajat, yaitu konversi orientasi akidah dari Sunni menjadi Syiah? Ataukah yang sebenarnya terjadi adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks, dan lebih dewasa, dalam cara memandang konflik global hari ini?
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)