Kesadaran terhadap penggunaan material bangunan yang aman kian mendesak di tengah tingginya risiko paparan timbal dari lingkungan hunian dan fasilitas publik. Laporan Surveilans Nasional mencatat 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas 5 µg/dL, sementara Studi Bank Dunia (2023) menunjukkan 44,8% masyarakat masih tinggal di rumah dengan cat mengandung timbal. Kondisi ini menempatkan pemilihan material bangunan sebagai isu kesehatan publik yang krusial.
Arsitek dan Urban Designer KIND Architects, Adjie Negara, menegaskan bahwa ruang yang dibangun tidak sekadar menjadi tempat beraktivitas, tetapi juga fondasi lingkungan sehat dan berkelanjutan. “Pesatnya pembangunan dan aktivitas renovasi turut menjadikan pemilihan material bangunan sebagai faktor yang semakin relevan dalam mendukung kesehatan jangka panjang, baik di rumah, kantor, sekolah, maupun fasilitas lain misalnya penitipan anak (daycare),” ujarnya dalam diskusi Forum NGOBRAS di Jakarta.
Paparan timbal kerap berasal dari material bangunan, terutama cat yang mengelupas. Menurut Adjie, degradasi cat dapat menghasilkan debu berbahaya yang mudah terhirup atau tertelan, khususnya oleh anak-anak dan ibu hamil. Ia menekankan pentingnya inspeksi rutin untuk mendeteksi kerusakan sejak dini dan melakukan perbaikan menggunakan material yang aman.
Ahli Kimia Universitas Indonesia, Prof. Dr. Yuni Krisyuningsih Krisnandi, M.Sc., menjelaskan bahwa timbal merupakan logam berat yang banyak digunakan di industri karena sifatnya stabil dan tahan korosi. “Cat sebenarnya tidak berbahaya. Namun, kadar timbal yang tinggi dapat meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang,” ujarnya. Timbal dapat masuk ke tubuh melalui udara atau makanan, kemudian terakumulasi di organ vital seperti ginjal, tulang, dan sistem saraf.
Dampak kesehatan timbal bersifat serius dan jangka panjang. Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A., menyebut paparan pada anak dapat menurunkan kemampuan kognitif, prestasi belajar, hingga memicu gangguan perilaku. Pada orang dewasa, timbal dikaitkan dengan penyakit ginjal dan kardiovaskular, sedangkan pada ibu hamil berisiko menyebabkan keguguran hingga kelahiran prematur.
Untuk menekan risiko, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan batas kandungan timbal dalam cat di bawah 90 ppm. Indonesia telah mengadopsi standar melalui SNI 8011:2014 dan revisinya SNI 8011:2022, meski penerapannya masih bersifat sukarela. Para ahli menilai diperlukan kolaborasi pemerintah dan industri untuk memperluas adopsi standar lead-free sekaligus meningkatkan edukasi publik mengenai pentingnya material bangunan yang aman.
das





