Bisnis.com, JAKARTA — Produsen kendaraan komersial asal Jepang, PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi tekanan geopolitik global yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Division Head of Business Strategy PT IAMI Rian Erlangga menyampaikan bahwa hingga saat ini eskalasi konflik di Timur Tengah belum berdampak signifikan terhadap performa ekspor perusahaan.
"Kalau permintaan ekspor sejauh ini masih relatif sama, belum ada penurunan. Karena negara-negara tujuan ekspor kami mayoritas di Afrika, Amerika Selatan, Amerika Tengah, lalu Filipina, belum begitu terpengaruh," ujar Rian di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Meski demikian, Isuzu tetap mewaspadai potensi risiko dari kenaikan harga minyak global yang dapat memengaruhi perekonomian dunia. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah mendorong harga minyak Brent melonjak hingga menembus level US$100 per barel, disertai pelemahan nilai tukar rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS serta peningkatan biaya logistik.
Situasi tersebut dinilai dapat memicu pergeseran preferensi konsumen ke kendaraan listrik sebagai upaya menekan biaya operasional, termasuk pada segmen kendaraan niaga.
Namun demikian, Rian menilai lonjakan harga minyak belum tentu secara langsung meningkatkan permintaan kendaraan listrik, khususnya truk. Dia menilai pelaku usaha domestik masih mengandalkan kendaraan diesel karena lebih fleksibel dalam operasional sehingga permintaan kendaraan bermesin konvensional masih tetap kuat.
Baca Juga
- Prabowo Harap VKTR Jadi National Champion, Sejajar Isuzu hingga Hyundai
- Isuzu Kuasai 29% Pasar Kendaraan Niaga RI, Traga Paling Diburu
- Isuzu Minta Pemerintah Prioritaskan Kendaraan Niaga Lokal
"Di Indonesia itu kebutuhan untuk kendaraan niaga belum ke arah sana [elektrifikasi], karena habitnya yang cukup beragam dan mobilitas yang tinggi. Jadi saat ini, menurut kami konsumen kendaraan komersial masih memilih ICE dibandingkan listrik," jelasnya.
Untuk menjaga daya saing, Isuzu juga menyiapkan strategi penguatan pangsa pasar domestik, salah satunya melalui penyegaran produk pada lini Isuzu Traga dengan menghadirkan varian AC.
"Dengan peluncuran Traga AC, kami berharap bisa meningkatkan market share menjadi lebih dari 50% secara nasional pada tahun ini," jelasnya.
Berdasarkan kinerja penjualan, merujuk data Gaikindo, distribusi wholesales Isuzu sepanjang 2025 tercatat sebanyak 25.121 unit atau turun 4,8% secara tahunan. Adapun, penjualan ritel dari dealer ke konsumen mencapai 25.295 unit, atau mengalami koreksi sebesar 12%.
Secara terperinci, model Isuzu Traga menjadi penyumbang terbesar terhadap total penjualan dengan kontribusi 47,5%. Berikutnya Isuzu Elf menyumbang 23,7%, sedangkan Isuzu Giga memberikan kontribusi sebesar 18,2%.





