Dari Mitra Pengemudi Grab hingga Memiliki Usaha Baso Aci Mastyo

mediaindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita

PERJALANAN Nuryadi, yang akrab disapa Mas Nur, membuktikan bahwa kerja keras dan pemanfaatan platform digital bisa membuka peluang baru bagi siapa saja. Berawal sebagai Mitra Pengemudi Grab untuk menafkahi keluarga, ia kini sukses mengelola usaha kuliner sendiri, Baso Aci Mastyo, dari rumah sederhana di gang kecil. 

Cerita Mas Nur menjadi contoh nyata bagaimana pengalaman sehari-hari, dukungan komunitas, dan strategi digital dapat mengantarkan seseorang 'naik kelas' menjadi pelaku usaha mandiri.

Bagi Mas Nur, perjalanan ini bukan hal instan. Ia menempuh berbagai fase kehidupan, mulai dari bekerja sebagai karyawan, menjadi Mitra Pengemudi, hingga memberanikan diri merintis usaha rumahan. Semua ia lakukan dengan harapan sederhana: memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.

Baca juga : Gig Economy Jadi Bantalan Sosial Baru, Grab Ungkap Peran Mitra di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Mas Nur pertama kali bergabung sebagai Mitra Pengemudi pada 2019. Saat itu, ia melihat layanan pesan-antar makanan mulai banyak diminati. Dari pengalaman mengantarkan pesanan setiap hari, ia mulai menyadari peluang besar bisnis kuliner berbasis online.

"Dulu waktu jadi driver, saya terbiasa menunggu orderan masuk. Tapi ketika mulai punya usaha sendiri, saya harus berpikir setiap hari bagaimana caranya supaya usaha tetap berjalan dan bisa berkembang," ujar Mas Nur.

Pengalaman tersebut perlahan mengubah pandangannya tentang dunia usaha. Langkah pertamanya dimulai dengan bisnis Salad Buah Arjuna. Ia memilih salad buah karena saat itu makanan berbahan buah seperti salad, asinan, dan rujak sedang populer di platform pesan-antar.

Baca juga : Di Balik Kemudi Grab: Perjuangan Mitra Bertahan, Bangkit, dan Berangkat Umroh

Namun, perjalanan bisnis tidak selalu mulus. Pandemi covid-19 membuat tren salad buah menurun. Alih-alih menyerah, Mas Nur mencari peluang baru dengan menganalisis menu yang diminati pelanggan di platform digital. Dari situ, ia menemukan seblak dan baso aci tengah digemari masyarakat.

Berdasarkan peluang itu, Mas Nur merintis Baso Aci Mastyo pada 2020. Nama 'Mastyo' diambil dari anak pertamanya, sebagai simbol harapan bagi masa depan keluarga. Dengan latar belakang pendidikan hingga SMK karena keterbatasan ekonomi keluarga, Mas Nur terdorong untuk terus berusaha memberikan kehidupan lebih baik bagi anak-anaknya.

"Kalau hanya mengandalkan pelanggan sekitar tempat tinggal, tentu sangat terbatas. Tanpa digitalisasi, 'kolam usaha' kita juga jadi jauh lebih kecil," kata Mas Nur.

Sejak awal, ia fokus memanfaatkan platform digital agar UMKM kecil seperti miliknya dapat menjangkau lebih banyak pelanggan. Mas Nur aktif memanfaatkan fitur promosi yang tersedia, termasuk mencoba GrabAds sejak pertama kali diluncurkan. Strategi ini membantu meningkatkan visibilitas usaha di tengah persaingan platform digital.

"Biasanya saya kasih promo free ongkir sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 dengan minimal pembelian sekitar Rp150.000, supaya pelanggan tetap tertarik untuk pesan meskipun jaraknya agak jauh," jelasnya.

Strategi ini terbukti efektif. Menu andalannya, Baso Aci Tulang Rangu, kini menjadi favorit pelanggan, dengan penjualan 70–80 porsi per hari, hampir 90 persen melalui platform digital. Perkembangan usaha sempat membuatnya membuka dua cabang di Gandul dan Pintu Air. Namun, kondisi pasar yang berubah saat pandemi membuat sebagian cabang ditutup, sehingga ia kini fokus pada satu outlet utama, tetap mengandalkan strategi digital.

Dalam operasional sehari-hari, Mas Nur dibantu oleh istri, adik, dan beberapa karyawan. Selain itu, komunitas merchant Grab menjadi sumber dukungan penting.

"Di komunitas ini kami sering saling membantu dan berbagi pengalaman. Ketika ada yang sedang mengalami kesulitan, biasanya teman-teman lain ikut memberikan dukungan. Saya merasa usaha ini tidak akan bisa berkembang sejauh ini tanpa dukungan komunitas," ujarnya.

Prinsip Mas Nur dalam berusaha adalah amanah dan kejujuran. Menurutnya, meski pelanggan tidak melihat langsung proses pembuatan makanan, integritas tetap menjadi hal utama. Ia percaya, untuk bisa 'naik kelas', seseorang harus berani mengambil keputusan dan mencoba hal baru.

"Kalau ingin memulai usaha, mulai saja dulu. Jangan terlalu takut. Bisnis yang tidak pernah berjalan adalah bisnis yang tidak pernah dimulai," pesannya.

Kini, dari seorang Mitra Pengemudi yang terbiasa menunggu orderan, Mas Nur telah menjadi pelaku usaha aktif yang menciptakan peluang dari rumah sederhana demi masa depan lebih baik bagi keluarganya. (put/E-1)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
13 Daun Berkhasiat untuk Kesehatan dan Cara Mengolahnya
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kendaraan Pasukan UNIFIL Asal Italia Ditembak di Lebanon, Roma Langsung Panggil Dubes Israel
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Gandeng Pos Indonesia, BTN (BBTN) Targetkan Penyaluran KPR hingga 400 Ribu Unit per Tahun
• 57 menit laluidxchannel.com
thumb
Munafri Siapkan Revitalisasi Pasar Sentral Makassar Berbasis UMKM
• 18 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Senpan 3D Print Praktikum SMP Tewaskan Siswa, Anggota DPR Dorong Evaluasi
• 18 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.