Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) masih berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dalam proses negosiasi untuk segera meloloskan dua kapal tanker minyak miliknya yang belum bisa melintasi Selat Hormuz.
Kedua kapal tanker bernama Pertamina Pride dan Gamsunoro ini sudah sekitar sebulan lamanya usai eskalasi serangan yang dimulai oleh Amerika Serikat (AS)-Israel kepada Iran.
"Kami mengintensifkan koordinasi dengan Kemenlu agar proses diplomasi dan negosiasi berjalan dengan baik. Prioritas utama kami memastikan keselamatan awak kapal dan keamanan muatannya," terang VP Corporate Communications Pertamina Muhammad Baron kepada Bisnis, Kamis (9/4/2026).
Saat ini, lanjut Baron, kedua kapal tanker tersebut masih berada di kawasan Teluk Arab. Dia menyebut, salah satu kapal tanker itu mengangkut minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri.
"Salah satu kapal tanker mengangkut minyak mentah untuk kebutuhan nasional dan sesuai dengan prosedur yang kami jalankan maka bila pengadaan reguler terkendala dilanjutkan dengan upaya alternatif maupun emergensi," ujarnya.
Sementara itu, pihak Kemlu menyatakan bahwa terdapat kendala teknis yang membuat dua kapal tanker itu belum bisa melewati Selat Hormuz. Hal ini kendati pemerintah mengeklaim adanya sinyal positif dari pihak Iran bahwa dua kapal itu bisa segera melintas.
Baca Juga
- Kapal Tanker Pertamina Belum Bisa Lewati Selat Hormuz, Kemlu: Kendala Teknis
- Soal Nasib Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz, Ini Kata Danantara
- 3 Kapal Tanker Turki Berhasil Lewati Selat Hormuz dengan Selamat
Koordinasi telah dilakukan melalui berbagai jalur dengan pihak Iran, baik antara pihak Kemlu sekaligus KBRI di Teheran dengan pemerintah dan Kedutaan Besar Iran di Jakarta.
Kendati koordinasi sudah dilakukan langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, Kemlu mengakui masih ada hal teknis yang saat ini masih ditindaklanjuti.
"Saat ini memang perkembangan yang berlangsung adalah terdapat beberapa hal yang cukup teknis yang memang sedang ditindaklanjuti untuk bisa memastikan keselamatan untuk melintasi dari sana, termasuk hal lain seperti asuransi dan kesiapan kru," terang Juru Bicara Kemlu Vahd Nabyl Achmad Mulachela pada media briefing di kantor Kemlu, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Meski demikian, Vahd enggan menjelaskan lebih lanjut apa kendala teknis dimaksud. Dia menyebut, Pertamina merupakan pihak yang lebih memahami soal kendala teknis tersebut.
Vahd hanya memastikan bahwa hal-hal teknis dimaksud tidak sepenuhnya merupakan isu politis.
"Betul-betul tingkat teknis yang memang harus dibahas dengan melibatkan Pertamina dan juga pihak-pihak terkait di lapangan di sana," terangnya.
Menurutnya, seluruh negara pun melakukan berbagai upaya untuk menjamin keselamatan kapal milik nasional mereka. Baginya, tidak perlu membandingkan Indonesia dengan sejumlah negara Asia yang kapalnya telah diperbolehkan Iran melintasi Selat Hormuz.
Contohnya, Pakistan, India dan Filipina. Terbaru, Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim melalui platform X mengeklaim bahwa Iran telah memperbolehkan kapalnya melewati Selat Hormuz, Selasa (7/4/2026). Hal ini disampaikan olehnya setelah bertemu dengan Duta Besar Iran di Malaysia Valiollah Mohammadi.
"Jadi, tidak harus membandingkan dengan negara lain, tetapi memang setiap negara punya kepentingan yang sama dan upaya yang sama," terang Vahd usai dimintai tanggapannya mengenai hal tersebut.





