JAKARTA, KOMPAS - Kapal Greenpeace, Arctic Sunrise, dijadwalkan bergabung dalam pelayaran bersama lebih dari 70 kapal serta ribuan aktivis yang menjadi bagian dari Armada Sumud Global atau Global Sumud Flotilla. Mereka akan bergerak untuk secara langsung menentang blokade bantuan kemanusiaan ke Gaza yang diberlakukan oleh Israel.
Dalam konvoi itu, Arctic Sunrise akan menjalankan peran penting dengan menyediakan dukungan teknis dan operasional di bidang maritim. Dukungan ini bertujuan memastikan kapal-kapal dalam Global Sumud Flotilla dapat melintasi Laut Mediterania dengan aman, sebelum menuntaskan etape akhir perjalanan sekitar 200 mil laut menuju wilayah daratan Gaza.
"Di tengah memanasnya perang yang dipicu militer Amerika Serikat dan Israel dan berlanjut jadi siklus kehancuran dan penderitaan di Asia Barat (Timur Tengah), kami bangga menjawab panggilan untuk bergabung bersama Global Sumud Flotilla dengan kapal Greenpeace, Arctic Sunrise," kata Direktur Eksekutif Greenpeace Spanyol Eva Saldana, dalam keterangan pers, Jumat (10/4/2026).
Menurut Eva, misi ini penting untuk dilakukan karena ketika pemerintah dunia kehilangan keberanian dan keyakinan untuk menegakkan hukum internasional serta mencegah genosida di Gaza, Sumud Flotilla akan memberikan harapan untuk solidaritas kemanusiaan dan simbol harapan dalam aksi.
Sejak tahun 1995 Kapal MY Arctic Sunrise terus menjadi gugus depan kampanye global Greenpeace dari Antartika di Kutub Selatan ke Arktik di Kutub Utara.
Kapal tersebut mampu menampung hingga 30 orang dengan panjang 50,5 meter yang dilengkapi dengan lambung, kemudi, dan baling-baling yang diperkuat agar bisa berlayar dengan aman melalui es di laut serta memiliki kecepatan maksimum sebesar 13 knot (24 kilometer per jam).
Adapun Global Sumud Flotilla akan berlayar dari Barcelona, Spanyol, pada 12 April 2026 dan berhenti di Syracuse, Italia, dan Lerapetra, Yunani, untuk kemudian bertolak ke Gaza.
Konvoi Global Sumud Flotilla adalah panggilan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk memecah keheningan mereka.
Anggota Steering Committee Global Sumud Flotilla, Susan Abdullah menyatakan, bergabungnya Greenpeace akan menjadi sumber kekuatan baru dalam misi ini. Terlebih, rekam sejarah menunjukkan bahwa kapal Greenpeace terus konsistem menentang ketidakadilan.
"Kami berlayar ke arah yang sama dengan tekad yang sama untuk mengakhiri pengepungan ilegal Israel atas Gaza," kata Susan.
Pada September 2025, Global Sumud Flotilla berlayar dengan melibatkan 42 kapal dan 462 peserta. Namun operasi itu dihentikan secara paksa oleh tentara Israel yang mencegat armada di sekitar 70 mil laut dari Teluk Gaza. Pasukan tersebut dilaporkan naik ke kapal-kapal flotilla, menahan para awak, serta memutus dan mengganggu jaringan komunikasi.
Para awak kapal kemudian mengisahkan situasi tegang selama insiden itu, termasuk kemunculan perahu-perahu tanpa lampu dan peawat nirawak atau drone yang membayangi pergerakan mereka. Selain itu, mereka juga melaporkan ada gangguan serius pada sistem komunikasi, mulai dari sinyal darurat hingga siaran langsung dari dalam kapal yang terhambat.
Dalam misi ini, perwakilan Indonesia ikut ambil bagian dengan berlayar bersama para aktivis dari sekitar 100 negara. Mereka turut membawa bantuan simbolis berupa obat-obatan, bahan pangan, serta air bersih sebagai wujud nyata solidaritas Indonesia terhadap Palestina.
Di sisi lain, muncul ironi karena pemerintah Indonesia dinilai seolah berpihak kepada pihak penjajah dengan bergabung dalam Board of Peace (BoP) bersama Israel, yang diinisiasi oleh Amerika Serikat. Kedua negara tersebut tengah disorot karena keterlibatan mereka dalam agresi militer yang dianggap ilegal di Iran dan Lebanon.
Keterlibatan perwakilan Indonesia dalam Global Sumud Flotilla mencerminkan kuatnya solidaritas masyarakat Indonesia terhadap perjuangan Palestina. Partisipasi ini menjadi simbol nyata dukungan publik yang terus menguat di tengah situasi konflik yang berlangsung.
Situasi ini semestinya menjadi peringatan serius bagi pemerintah Indonesia untuk meninjau kembali keterlibatannya dalam BoP. Selain itu, pemerintah didorong untuk mengambil sikap yang lebih tegas terhadap konflik yang terjadi di Iran dan Lebanon.
" Genosida di Gaza serta perang ilegal yang dilakukan di Iran dan Lebanon hanya membawa kesengsaraan bagi warga. Emisi karbon yang dikeluarkan dari serangan udara dan darat pun semakin memperparah kondisi iklim kita," ucap Leonard Simanjuntak, Kepala Greenpeace Indonesia.
Direktur Eksekutif Greenpeace Timur Tengah dan Afrika Utara, Ghiwa Nakat menambahkan, kapal Greenpeace bersama sesama warga sipil akan menuntut akses kemanusiaan ke Gaza yang aman dan tanpa hambatan serta menantang blokade ilegal yang terus merusak kehidupan sipil.
Kehancuran yang menimpa Gaza menjadi doktrin impunitas yang berbahaya, dan kini menyebar kehancuran ke Lebanon tanpa henti dan memperdalam penderitaan manusia. "Kami dengan tegas menentang kejahatan perang, kelaparan yang disengaja, pembersihan etnis, genosida, dan ekosida,” ujarnya.
” Konvoi Global Sumud Flotilla merupakan panggilan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk memecah keheningan mereka, melindungi aksi kemanusiaan, dan segera bertindak dan memegang prinsip untuk menegakkan hukum internasional, martabat manusia, dan keadilan," ucap Ghiwa menegaskan.





