Jakarta, VIVA – Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti menilai dampak perang di Timur Tengah dirasakan oleh seluruh masyarakat dunia. Ia menilai bahwa suatu keputusan militer, bisa mempengaruhi harga bahan baku hingga biaya transportasi.
"Kita hidup di zaman ketika satu keputusan militer di satu kawasan bisa mengubah harga beras, ongkos transportasi, bahkan harapan hidup seseorang di tempat yang jauh," kata Azis dalam keterangannya, Jumat, 10 April 2026.
Azis menjelaskan bahwa konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran telah melebar secara regional. Biaya perang, kata dia, bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal.
- IRNA
"Dalam 6 hari pertama saja, Amerika telah menghabiskan lebih dari USD11 hingga USD12 miliar. Itu berarti hampir USD1,8 miliar per hari, atau sekitar USD1,3 juta per menit," kata Azis.
Ia menambahkan, ada beberapa estimasi menunjukkan total biaya bisa menembus USD1 triliun jika perang berkepanjangan. Menurutnya, angka tersebut tidak lagi sekadar besar, tetapi absurd secara moral.
Di sisi lain, ia menilai perang tak hanya memakan anggaran, tetapi juga memangsa masa depan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan konflik ini dapat menghapus USD194 miliar output ekonomi di kawasan dan mendorong jutaan orang ke dalam kemiskinan, dengan jutaan pekerjaan hilang.
Selain itu, kata dia, Selat Hormuz merupakan kunci energi dunia yang terancam. Akibat penutupan Selat Hormuz, hampir 20 persen pasokan minyak dunia terganggu dan harga energi melonjak.
"Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia, kini terancam. Hampir 20 persen pasokan minyak global terganggu. Harga energi melonjak, inflasi menjalar. Negara-negara jauh dari medan perang ikut membayar harga yang tidak mereka pilih," pungkasnya.
"Perang hari ini tidak lagi lokal. Ia adalah virus global. Dan di balik semua angka itu, ada sesuatu yang tidak bisa dihitung. Warga sipil yang kehilangan rumah. Anak-anak yang kehilangan orang tua. Kota yang berubah menjadi puing sebelum sempat tumbuh menjadi harapan," imbuhnya.
Azis mengatakan perang tidak pernah bisa menyelesaikan konflik. Perang, lanjut dia, hanya memindahkan penderitaan, dari satu wilayah ke wilayah lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.





