Anggota DPR: Selat Hormuz jadi Urat Nadi Energi Dunia, Perang Harus Dihentikan

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti menilai dampak perang di Timur Tengah dirasakan oleh seluruh masyarakat dunia. Ia menilai bahwa suatu keputusan militer, bisa mempengaruhi harga bahan baku hingga biaya transportasi.

"Kita hidup di zaman ketika satu keputusan militer di satu kawasan bisa mengubah harga beras, ongkos transportasi, bahkan harapan hidup seseorang di tempat yang jauh," kata Azis dalam keterangannya, Jumat, 10 April 2026.

Baca Juga :
Dubes Arab Saudi Temui Megawati, Minta Aktif Berperan soal Dinamika Timur Tengah
Iran Tetapkan Rute Alternatif Agar Kapal Tak Kena Ranjau Laut di Selat Hormuz

Azis menjelaskan bahwa konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran telah melebar secara regional. Biaya perang, kata dia, bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal.

AS-Israel serang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, Iran
Photo :
  • IRNA

"Dalam 6 hari pertama saja, Amerika telah menghabiskan lebih dari USD11 hingga USD12 miliar. Itu berarti hampir USD1,8 miliar per hari, atau sekitar USD1,3 juta per menit," kata Azis.

Ia menambahkan, ada beberapa estimasi menunjukkan total biaya bisa menembus USD1 triliun jika perang berkepanjangan. Menurutnya, angka tersebut tidak lagi sekadar besar, tetapi absurd secara moral.

Di sisi lain, ia menilai perang tak hanya memakan anggaran, tetapi juga memangsa masa depan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan konflik ini dapat menghapus USD194 miliar output ekonomi di kawasan dan mendorong jutaan orang ke dalam kemiskinan, dengan jutaan pekerjaan hilang.

Selain itu, kata dia, Selat Hormuz merupakan kunci energi dunia yang terancam. Akibat penutupan Selat Hormuz, hampir 20 persen pasokan minyak dunia terganggu dan harga energi melonjak.

"Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia, kini terancam. Hampir 20 persen pasokan minyak global terganggu. Harga energi melonjak, inflasi menjalar. Negara-negara jauh dari medan perang ikut membayar harga yang tidak mereka pilih," pungkasnya.

"Perang hari ini tidak lagi lokal. Ia adalah virus global. Dan di balik semua angka itu, ada sesuatu yang tidak bisa dihitung. Warga sipil yang kehilangan rumah. Anak-anak yang kehilangan orang tua. Kota yang berubah menjadi puing sebelum sempat tumbuh menjadi harapan," imbuhnya.

Azis mengatakan perang tidak pernah bisa menyelesaikan konflik. Perang, lanjut dia, hanya memindahkan penderitaan, dari satu wilayah ke wilayah lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca Juga :
Dipenuhi Ranjau Laut, Iran Tetapkan Rute Alternatif Kapal Lintasi Selat Hormuz
Iran Ancam Akhiri Gencatan Senjata AS Jika Israel Terus Menyerang Lebanon
Boni Hargens: TNI Ikut Jaga Stabilitas Ekonomi dari Dampak Perang

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
META hingga Google Dukung Aturan Perlindungan Anak, Menkum: Indonesia Negara Terbuka
• 17 jam lalurctiplus.com
thumb
Kakatau Posco Kasih Bukti Konsisten Tingkatkan Kinerja Bisnis Berkelanjutan
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Manajer Denada Ungkap 3 Fakta Terbaru soal Ressa Rosano, Hoaks hingga Gugatan Belum Dicabut
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Pujian Pelatih Vietnam untuk Timnas Futsal Indonesia Jelang Semifinal Piala AFF Futsal 2026: Tim Terbaik ASEAN Saat Ini!
• 15 jam lalubola.com
thumb
Joki Bansos Tumbuh di Celah Sistem Distribusi
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.