Bisnis.com, MAKASSAR - Berawal dari keprihatinan melihat melimpahnya bahan baku gula merah yang terbuang sia-sia di Kabupaten Bone, Muhammad Ridwan (30) kini sukses mentransformasi komoditas desa menjadi produk bernilai tambah yang saat ini menguasai pasar Indonesia Timur.
Melalui brand Dainichi, produk gula aren cair dan bubuk asal Sulawesi Selatan ini mulai membidik ekspansi masif ke Pulau Jawa, Sumatra, hingga diharapkan tembus pasar ekspor.
Ridwan menjelaskan bahwa Dainichi adalah UMKM yang dibentuknya pada 2019 silam dengan modal awal hanya sekitar Rp10juta.
Ide tersebut muncul usai melihat potensi besar gula aren di kampung halamannya di Bone, tidak dibarengi dengan serapan pasar yang memadai, sehingga banyak hasil produksi petani yang rusak.
"Banyak sekali bahan baku gula tapi dibiarkan rusak karena tidak ada orang yang beli. Ini salah satu peluang," ucap Ridwan saat ditemui wartawan di Makassar, Kamis (9/4/2026).
Dia pun mulai menyuplai bahan baku gula merah ke gerai-gerai kopi di Makassar, menangkap momentum tren es kopi susu gula aren yang mulai menjamur sejak 2022.
Kemudian digitalisasi melalui platform e-commerce, khususnya Shopee, akhirnya menjadi katalisator pertumbuhan yang signifikan bagi usahanya.
Bergabung sejak 2020 di Shopee akibat pembatasan aktivitas offline saat pandemi, kinerja Dainichi sangat terdongkrak dengan mencatatkan pertumbuhan tahunan (year-on-year) mencapai lebih dari 100%.
Pada kuartal I/2026 saja, Dainichi telah mencatatkan pengiriman sekitar 5.000 hingga 6.000 paket melalui marketplace, dengan rata-rata pengiriman harian mencapai 100-200 paket.
Bahkan saat ini, transaksi melalui pasar daring tersebut menyumbang sekitar 25% dari total omzet perusahaannya.
Ditambah lagi, berdasarkan catatannya, Dainichi telah menguasai sekitar 80% hingga 90% pangsa pasar gula aren untuk segmen coffee shop dan ritel di wilayah Sulawesi. Jangkauan distribusinya telah merambah hingga Papua (Sorong, Merauke, Jayapura, Fakfak), Kalimantan, dan NTT.
"Dulu di 2020, market leader di Indonesia Timur adalah korporasi besar dari Jawa dengan pangsa pasar kami hanya 10%. Sekarang kondisinya berbalik, kami yang mendominasi 90% di Makassar dan Sulawesi," tegas Ridwan.
Dari sisi produksi, Dainichi kini mampu memproduksi sekitar 5.000 botol aren per bulan dengan berbagai varian, mulai dari gula aren cair, bubuk, hingga cube.
Usaha milik Ridwan ini juga memanfaatkan 500 mitra petani di Bone, Sinjai, hingga Malino untuk menjaga pasokan bahan baku, terutama saat pergantian musim yang memengaruhi debit air nira.
Untuk menjaga standar kualitas, Dainichi menerapkan pengawasan ketat sejak dari level petani hingga masuk ke gudang. Salah satu keunggulannya terletak pada kadar air gula bubuk yang dijaga di level 2%.
"Tingkat kekeringan yang tinggi ini memastikan rasa yang lebih kuat (bold) dan tidak hambar (watery) saat dicampur dengan espresso," jelas Ridwan.
Menatap sisa tahun ini, Dainichi bersiap melakukan ekspansi pasar ke Jawa dan Sumatera. Ridwan juga berencana memperluas portofolio produk dengan meluncurkan produk hilir seperti Sarabba (minuman jahe khas Sulsel) instan guna mengalihkan kebiasaan konsumsi gula aren dari kafe ke konsumsi rumah tangga.
Guna mendukung skala bisnis yang kian besar, perusahaan yang kini mempekerjakan 36 karyawan tersebut tengah bersiap meningkatkan status produksinya dari skala rumahan menjadi pabrikasi pada tahun depan.
"Potensi pasar lokal masih sangat besar, bahkan kafe-kafe besar di Jakarta semuanya menggunakan gula aren. Kami sedang bersiap untuk masuk ke pasar nasional secara lebih agresif dan mempersiapkan infrastruktur pabrik tahun depan," pungkasnya.





