Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Pernyataan Bersama 73 Negara Kecam Kekerasan Terhadap Penjaga Perdamaian.
Pemerintah Indonesia mengambil langkah diplomatik proaktif di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan menginisiasi pernyataan bersama (Joint Statement) guna menjamin keselamatan personel penjaga perdamaian di Lebanon, Menyusul eskalasi konflik yang kian mengancam operasional dan nyawa pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Sebanyak 73 negara anggota dan pengamat PBB secara resmi menyatakan dukungan terhadap inisiatif tersebut.
Deklarasi ini menjadi respons kolektif atas serangkaian insiden kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa di kalangan personel militer internasional.
Aksi Nyata Diplomasi Indonesia
Inisiatif ini dibacakan langsung oleh Wakil Tetap RI untuk PBB, Duta Besar Umar Hadi, dalam sesi media stakeout bersama perwakilan Prancis di New York.
Kehadiran negara-negara besar seperti Inggris, Rusia, dan RRT dalam momen tersebut menegaskan urgensi pesan yang diusung oleh Jakarta.
Upaya ini merupakan implementasi dari instruksi Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, yang menuntut tindakan tegas pasca-serangan akhir Maret lalu.
Insiden tersebut mengakibatkan gugurnya tiga prajurit TNI dan melukai sejumlah personel lainnya dari berbagai negara, termasuk Prancis, Nepal, dan Polandia.
"Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar," tegas Duta Besar Umar Hadi dalam keterangan resminya.
"Kami mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggunakan seluruh instrumen yang tersedia guna memperkuat perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian di tengah situasi yang semakin berbahaya."
Seruan Deeskalasi dan Investigasi
Pernyataan bersama tersebut secara eksplisit mengecam segala bentuk agresi yang menyasar pimpinan maupun personel UNIFIL. Selain perlindungan fisik, negara-negara kontributor pasukan juga menekankan pentingnya akuntabilitas melalui penyelidikan menyeluruh oleh Dewan Keamanan PBB terhadap setiap insiden serangan.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri RI terus mendorong dilakukannya deeskalasi ketegangan di perbatasan Lebanon.
Seluruh pihak yang bertikai diminta untuk menghentikan kekerasan dan kembali ke meja perundingan guna mencapai solusi damai yang berkelanjutan.
Langkah Indonesia ini menegaskan posisi strategis Jakarta bukan sekadar sebagai penyumbang pasukan terbesar, melainkan juga sebagai pionir dalam perumusan kebijakan keamanan global bagi misi-misi perdamaian PBB di zona konflik.
Editor: Redaksi TVRINews





