Bisnis.com, JAKARTA — Emiten asuransi PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk. (TUGU) atau Tugu Insurance membukukan laba bersih senilai Rp711,06 miliar pada 2025.
Presiden Direktur Tugu Insurance Adi Pramana menjelaskan perolehan laba bersih perseroan itu ditopang oleh pertumbuhan hasil jasa asuransi yang meningkat sebesar 39% (year on year/YoY) menjadi Rp1,0 triliun.
“Kenaikan ini mengindikasikan perbaikan kualitas underwriting serta optimalisasi portofolio bisnis,” katanya dalam acara Media Meet Up di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Dia turut menyampaikan sepanjang 2025 perseroan mencatatkan pendapatan jasa asuransi sebesar Rp9,11 triliun, meningkat 22,12% (YoY). Adapun, kinerja ini didukung oleh optimalisasi portofolio pada lini bisnis asuransi fire & property, offshore, dan aviation.
“Sedangkan dari sisi neraca, total aset Perseroan tercatat sebesar Rp27,71 triliun, sementara total ekuitas mencapai Rp10,17 triliun dengan Risk Based Capital [RBC] pada level 410,9%, jauh di atas ketentuan minimum regulasi sebesar 120%,” tambah Adi.
Dia menambahkan bahwa pencapaian laba bersih tersebut mencerminkan penguatan fundamental bisnis di tengah tantangan regulasi hingga implementasi Peraturan Standar Akuntansi keuangan (PSAK) baru yakni PSAK 117, yang juga mengadopsi IFRS 17.
Baca Juga
- Tugu Insurance (TUGU) Terima Pengajuan Klaim Asuransi Perjalanan Imbas Perang AS-Isarel vs Iran
- Asuransi Perjalanan Haji-Umrah Bakal Laris Manis Tahun Ini, Tugu Insurance (TUGU) Ungkap Potensinya
- Presdir Tugure Beberkan Kesiapan Hadapi Dinamika Bisnis 2026
Meski demikian, dia turut menuturkan bahwa penerapan PSAK 117 yang mulai diimplementasikan secara penuh juga turut berkontribusi pada profil kinerja yang lebih transparan dan berbasis nilai ekonomi.
Adapun, Tugu Insurance menilai risiko yang perlu diwaspadai industri asuransi umum adalah sama seperti 2025 yakni geopolitik yang mengharuskan perusahaan bisa cepat beradaptasi (agile) dan tingkat suku bunga yang terkadang sulit diprediksi.
“Atau kayak tadi tuh, kita enggak prediksi sebenarnya ada kapal yang tertahan [di Selat Hormuz] itu sebenarnya enggak predictive banget,” kata Adi.
Risiko selanjutnya juga dapat muncul dari komposisi portofolio yang kurang tepat. Kondisi tersebut berpotensi membuat porsi premi yang sebelumnya besar pada suatu segmen menjadi menyusut dalam periode tertentu.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan & Layanan Korporat, Fitri Azwar turut menjelaskan bahwa pendapatan investasi menjadi salah satu pendorong utama dengan pertumbuhan mencapai 61% (YoY).
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan momentum pasar keuangan secara efektif.
“Adapun pendapatan operasional lainnya dari Anak Perusahaan tercatat relatif stabil di Rp542,52 miliar dan memberikan kontribusi yang menjaga keseimbangan struktur pendapatan secara keseluruhan,” kata Fitri.





