Jakarta: Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) meminta pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian harga tender (eskalasi) terhadap proyek-proyek yang belum dikontrak, mengingat harga acuan yang digunakan masih berdasarkan kondisi tahun sebelumnya.
Sekretaris Jenderal Gapensi La Ode Safiul Akbar menegaskan, tanpa adanya penyesuaian harga, kontraktor berpotensi mengalami kerugian yang signifikan.
"Kami meminta agar proyek yang belum berkontrak diberikan ruang untuk penyesuaian harga agar pelaku usaha tidak menanggung beban biaya yang tidak sesuai dengan kondisi riil saat ini," ungkap La Ode dalam pernyataan resminya, dikutip Sabtu, 11 April 2026.
Gapensi mengungkapkan, tekanan terhadap sektor konstruksi tidak hanya berdampak pada margin keuntungan, tetapi juga berpotensi mengancam keberlangsungan usaha.
"Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa penyesuaian kebijakan, maka cepat atau lambat pelaku usaha konstruksi, khususnya skala kecil dan menengah, akan mengalami kesulitan bahkan berpotensi berhenti beroperasi," jelas dia.
Bca juga: Infrastruktur Minyak Arab Diserang, Distribusi Minyak Dunia Terganggu
(Ilustrasi. Foto: MI/Angga Yuniar)
Biaya konstruksi membengkak hingga 8%
Sementara, Ketua Umum Gapensi Andi Rukman Nurdin Karumpa menyampaikan keprihatinan atas tekanan yang dihadapi sektor jasa konstruksi nasional akibat kenaikan biaya operasional dan dinamika kebijakan pengadaan proyek pemerintah.
Gapensi menilai kondisi global yang berdampak pada kenaikan harga energi, khususnya bahan bakar industri, telah memicu peningkatan biaya konstruksi secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
"Dalam periode Februari hingga April 2026, kami melihat kenaikan biaya konstruksi dapat mencapai tiga persen hingga delapan persen, dan berpotensi meningkat lebih tinggi apabila kondisi ini berlanjut," jelas Andi Rukman.
Kenaikan harga solar industri, yang saat ini berada di kisaran Rp21 ribu sampai Rp23 ribu per liter dari sebelumnya Rp18 ribu hingga Rp20 ribu, turut mendorong kenaikan harga material seperti aspal, semen, dan baja.
Sebagai mitra strategis pemerintah, Gapensi tetap menyatakan dukungannya terhadap program pembangunan nasional. Namun demikian, Gapensi menekankan pentingnyap emerataan distribusi proyek antara BUMN dan swasta nasional, keterlibatan pelaku usaha di daerah, serta penguatan ekosistem konstruksi yang inklusif dan berkelanjutan.
"Kami berharap proyek-proyek besar juga dapat melibatkan swasta nasional, sehingga tidak terjadi ketimpangan dan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan hingga ke daerah," tutup Andi Rukman.




