FAJAR, MAKASSAR – Semangat pemekaran wilayah kembali membara di jantung Sulsel. Ketua BPW Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulsel, Ir. Hasbi Syamsu Ali, MM, menyerukan ajakan “satu komando” kepada seluruh Wija To Luwu (WTL) untuk merapatkan barisan. Dalam sebuah momentum penuh kehangatan, Hasbi menegaskan bahwa perjuangan mewujudkan mimpi terbentuknya Provinsi Luwu Raya kini berada di titik krusial yang menuntut soliditas seluruh elemen masyarakat.
Seruan persatuan tersebut digaungkan Hasbi saat menghadiri Halalbihalal Kerukunan Keluarga Luwu (KKL) Komisariat Kecamatan Suli–Suli Barat di Aula Anging Mammiri, Makassar, Sabtu (11/4/2026). Di hadapan para perantau asal Tana Luwu, ia menekankan bahwa pemekaran wilayah bukan sekadar isu politik, melainkan cita-cita luhur yang menjadi hak masyarakat.
Hasbi menegaskan bahwa pembentukan Provinsi Luwu Raya adalah agenda kolektif yang tidak boleh padam. Ia meminta dukungan dari seluruh lapisan masyarakat agar semangat ini tetap terjaga dalam satu irama perjuangan.
“Perjuangan Provinsi Luwu Raya akan terus kita kawal dan perjuangkan. Ini membutuhkan kebersamaan seluruh Wija To Luwu tanpa terkecuali,” tegas Hasbi di hadapan para tokoh dan keluarga besar Suli-Suli Barat.
Salah satu poin penting yang ditekankan Hasbi adalah penguatan nilai moral budaya lokal. Ia mengingatkan bahwa soliditas internal WTL harus berlandaskan pada prinsip “Sirui Menre’ Ta Sirui No”, sebuah filosofi hidup masyarakat Luwu yang bermakna saling menopang dan saling mengangkat.
“Dalam ber-KKLR, kita harus mengedepankan prinsip Sirui Menre’ Ta Sirui No. Persatuan adalah modal utama dalam memperjuangkan kepentingan besar masyarakat Luwu Raya,” ujarnya.
Selain isu pemekaran, Hasbi juga menyoroti kemajuan pesat kawasan Luwu Raya yang kini menjadi magnet bagi migrasi penduduk dan investasi luar. Menurutnya, kesiapan masyarakat lokal adalah hal yang mutlak agar Wija To Luwu tetap menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri.
Ia memperingatkan bahwa tanpa kekompakan dan kesiapan sumber daya manusia, perkembangan zaman justru bisa menggerus eksistensi warga lokal.
“Potensi Luwu Raya sangat besar. Jangan sampai kita justru menjadi penonton di tanah sendiri karena tidak siap menghadapi perkembangan zaman,” katanya memperingatkan.
Kegiatan Halalbihalal yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan ini tak sekadar menjadi ajang temu kangen, namun menjelma menjadi momentum penguatan ideologi dan silaturahmi bagi Wija To Luwu di perantauan untuk tetap berkontribusi bagi kampung halaman. (*)





