OPINI: Kelangsungan Gencatan Senjata dan Perkembangan Politik-Ekonomi AS

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Pada akhir minggu ini di Islamabad, Pakistan, Tim Runding AS dan Iran dijadwalkan pertama kali bertemu memanfaatkan periode 2 minggu gencatan senjata yang disepakati kedua pihak pada tanggal 7 April.

Tim AS akan dipimpin oleh Wapres JD Vance, yang merupakan pertama kali bagi AS berunding dengan pihak asing dipimpin oleh pejabat setingkat itu secara langsung. Selain menunjukkan keseriusan AS ke pertemuan itu, kehadiran Vance yang dikenal menentang serangan AS dan Israel ke Iran itu memberikan tambahan harapan pembahasan dapat membawa hasil positip. Sedangkan Tim Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Qalibaf dan Menlu Araqchi.

Posisi Vance sangat sulit karena selain karir politiknya dibangun berdasarkan tema anti-perang yang melibatkan pasukan AS, dia juga mewakili konstituen besar pendukung MAGA/America First yang semakin frustrasi dengan perkembangan perang ini. Mereka melihat bukan saja Trump melanggar janjinya sendiri tidak akan membawa AS ke suatu perang baru di Timur Tengah dengan segala risikonya, namun dampak nyata kepada kehidupan sehari-hari dalam bentuk biaya BBM dan inflasi secara umum yang meningkat.

Apabila tidak diselesaikan segera, maka jelas dampak kekecewaan pendukung setia Trump dan Partai Republik akan apatis bahkan dapat berbalik memilih calon Demokrat pada pemilihan legislatif mendatang.

Bagi Trump, bayangan menjadi lame-duck President sangat mengkhawatirkan. Seluruh gagasan dan kebijakan strategiknya akan menghadapi tantangan besar jika Kongres dikuasai oposisi. Selain itu, ancaman investigasi, penyidikan bahkan proses pemakzulan atas beberapa kasus yang masih mengambang dapat mengemuka dengan cepat, yang akan menjadikan paruh kedua pemerintahannya tidak efektif. Inilah tantangan terbesar bagi Trump, yang mungkin menjadi jauh lebih besar daripada tantangan yang dapat ditimbulkan oleh Iran dan perang dengan negara itu.

Sebaliknya, Iran memasuki pembicaan dengan posisi di atas angin dengan membuktikan pemerintahan teokratik Syiah dengan dukungan IRGC tidak tergantikan, sekalipun sudah digempur habis-habisan oleh superpower dunia dan superpower kawasan. Selain itu, Iran meraup 3 keuntungan strategik barudari perang yang sudah berlangsung 6 minggu ini. Pertama, Iran secara de facto menguasai Selat Hormuz. Kedua, reputasinya di kalangan negara-negara GCC bahkan dunia internasional meningkat.

Baca Juga

  • Lengkap, 10 Poin Tuntutan Iran ke AS dalam Gencatan Senjata Terbaru
  • Gencatan Senjata AS-Iran Tekan Harga CPO, Anjlok Lebih dari 3%
  • Serba-serbi Gencatan Senjata AS-Iran, 10 Tuntutan Dikabulkan hingga Mediasi Pakistan

Ketiga, sebagian jika tidak dikatakan seluruh program pengayaan uraniumnya terjaga baik. Ketiga hal ini adalah modal besar Iran untuk menjadi superpower kawasan yang sangat disegani paska-perang ini. Tentu saja hal itu dapat terjadi jika Iran mampu membangun kembali ekonomi,infrastruktur fisik dan sosialnya yang hancur yang memerlukan pembiayaan sangat besar untuk waktu cukup lama.

Pembalikan Posisi Asimetris

Posisi asimetris dalam perang yang semula ditunjukkan oleh kekuatan militer dan persenjataan yang tidak seimbang antara Iran dengan the mighty US and Israel, berubah cepat menjadi posisi asimetris memasuki perundingan, yang justru Iran berada dalam posisi tawar yang lebih kuat. Iran dipastikan akan memaksimalkan posisinya itu dengan menuntut agar butir-butir prasyarat gencatan senjata mencakup seluruh sekutunyatermasuk Houthis di Yaman, Hezbollah di Lebanon, kelompok-kelompok Syiah di Irak dan Suriah; dan aset serta kekayaan Pemerintah Iran yang dibekukan AS untuk dikembalikan sebelum perundingan perdamaian dapat dimulai. Jika dua prasyarat ini tidak dipenuhi, maka Iran diprakirakan tidak akan mau masuk ke tahap selanjutnya, yaitu perundingan perdamaian yang lebih komprehensip dan permanen.

Bagaimana dengan Israel? Negara ini, terutama PM Netanyahu tidak mendukung gencatan senjata apalagi perundingan perdamaian AS dengan Iran. Namun Israel menyadari tanpa dukungan AS, negara itu bukan saja tidak dapat meneruskan perang melawan Iran, bahkan akan menjadi musuh bersama dunia internasional termasuk sekutu-sekutu AS, karena dituduhmemperburuk dampak perang bagi dunia. Dengan posisi demikian, Netanyahu dan parpol pendukungnya yang juga akan menghadapi Pemilu selambatnya Oktober tahun ini, dengan terpaksa akan mendukung proses gencatan senjata itu.

Prospek Perundingan Perdamaian

Untuk mengulas proses ini perlu dipahami perbedaan sangat besar antara 15 butir posisi runding AS dengan 10 butir posisi Iran yang dapat diringkas sebagai berikut:

1. Iran tidak ingin menyerahkan haknya mengembangkan nuklir, sedangkan AS meminta Iran tidak pernah mengembangkan senjata nuklir dan menghentikan program pengayaan uranium;

2. Iran menuntut pencabutan seluruh sanksi dan embargo yang dikenakan terhadap negara itu, sedangkan posisi AS adalah terbuka untuk mendiskusikan sanksi-sanksi itu;

3. Iran ingin megawasi Selat Hormuz, sedangkan AS ingin untuk Selat Hormuz kembali dibuka;

4. Iran ingin AS dan Israel menghentikan serangan kepada Iran dan semua sekutunya, sedangkan AS meminta Iran menghentikan dukungannya kepada para sekutunya itu.

Dalam kondisi perundingan diplomasi yang biasa dilakukan antar negara, perbedaan posisi awal kedua pihak yang sangatekstrim itu biasa dianggap sebagai non-starter. Namun saat ini kita menyaksikan secara terang-benderang bahwa penyebabdimulainya perang itu, eskalasi horizontal yang terjadi begitu cepat, penetapan infrastruksur sosial dan korban masyarakatsipil sebagai target sasaran, penutupan Selat Hormuz adalah unprecedented dan tidak mengindahkan bahkan jelas-jelasbertentangan dengan hukum, konvensi dan kaedah hukum internasional serta melanggar berbagai nilai dan etika yang berlaku. Dalam konteks itu, tentu kita tidak akan heran jika proses dan resolusinya juga tidak akan sesuai dengan tatanan yang ada. Bahkan sebaliknya mungkin dapat menjadi preseden dan masukan untuk revisi terhadap tatatan yang ada sehingga lebih relevan dan kontekstual ke depan.

Dengan kompleksitas yang dihadapi itu tentu saja waktu 2 minggu gencatan senjata tidak akan cukup untuk kedua pihak menyepakati suatu kerangka perundingan perdamaian. Bahkan bukan tidak mungkin untuk menyetujui apa yang sebenarnya disepakati dalam gencatan senjata itu saja sudah akan menghabiskan waktu 2 minggu. Dengan kondisi ini, dapat dipastikan gencatan senjata akan diperpanjang. Pendekatan memperpanjang batas waktu seperti itu adalah lumrah bagi Trump. Namun batasan waktu politik dalam negerinya akan menjadi kendala terbesarnya, sehingga maksimal waktu yang dapat ditolerirnya adalah pada akhir April sudah masuk dalam proses perundingan formal. Dengan kata lain gencatan senjata mungkin akan diperpanjang 1 minggu lagi setelah berakhir.

Pelemahan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi AS

Penghitungan inflasi AS untuk bulan Maret 2026 yang baru keluar menunjukkan inflasi di negara itu mencapai 0,9% untuk bulan Maret, dan untuk per tahunnya mencapai 3,3%. Hal itu menunjukkan kenaikan Indeks Harga Konsumen yang tertinggi selama 2 tahun terakhir, bahkan lebih tinggi dibandingkan bulan manapun tahun 2025 saat Trump menyampaikan tarif resiprokalnya. Faktor utama adalah kenaikan harga BBM dunia karena penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Indeks harga energi di AS naik 10,9% untuk Maret, yang didorong oleh kenaikan harga BBM sebesar 21,2%.

Selain kepada konsumen, kenaikan harga juga telah mempengaruhi para produsen barang dan jasa di AS. Data prakiraan PDB terakhir oleh Atlanta Fed menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS untuk kuartal I tahun 2026 yang semula pada bulan Februari diprakirakan akan mencapai 3%, direvisi drastis pada prakiraan yang terbit April ini hanya akan mencapai 1,3%. Revisi itu akan ditinjau lagi jika penutupan Selat Hormuz berlanjut, terlepas gencatan senjata atau perundingan perdamaian cepat atau lama. Dengan kata lain, tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS, dan dalam hal ini juga perekonomian global, akan dipengaruhi langsung olehberapa lama Selat Hormuz akan dibuka kembali. Semakin lama perundingan berlangsung, maka semakin berat kondisi inflasi dan pelemahan pertumbuhan ekonom. Jika melampaui 1 bulanlagi, maka dikhawatirkan dapat terjadi stagflasi, yaitu pertumbuhan ekonomi AS lebih rendah dari 1%, yang artinya sangat lambat, dan disertai inflasi yang tinggi. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Klaim Selamatkan Uang Negara Rp 31,3 T, Bisa Bangun 34.000 Sekolah
• 19 jam lalukatadata.co.id
thumb
Lebaran Betawi 2026: Wujud Nyata Persatuan dan Pelestarian Budaya
• 5 menit laludisway.id
thumb
Dicecar Bursa soal Data di Laporan Keuangan 2025, Ini Penjelasan Garuda (GIAA)
• 1 jam lalukatadata.co.id
thumb
Delegasi Iran Tiba di Islamabad, Siap Negosiasi Damai dengan AS 
• 10 jam laluokezone.com
thumb
KPK Geledah 12 Lokasi di Kota Madiun, Dalami Kasus Suap Proyek Libatkan Wali Kota Nonaktif Maidi
• 19 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.