Saat Pakaian jadi Objek Ejekan: Krisis Empati di Ruang Digital

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Belakangan ini, ruang digital kembali diwarnai oleh video viral yang memperlihatkan seorang remaja laki-laki yang menjadi sasaran ejekan oleh dua orang wanita hanya karena cara berpakaiannya yang dianggap “kampungan”, lalu momen itu direkam dan disebarluaskan hingga menjadi konsumsi publik. Peristiwa tersebut bukanlah candaan yang berlebihan, tetapi merupakan persoalan serius dalam etika sosial, khususnya di era digital.

Saya memandang bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk perundungan yang dilakukan secara terang-terangan. Ejekan yang disampaikan secara langsung sudah cukup melukai, tetapi ketika direkam dan disebarkan ke publik, dampaknya menjadi berlipat ganda. Individu yang menjadi sasaran tidak hanya dipermalukan di hadapan orang di sekitarnya, tetapi juga di ruang digital yang jauh lebih luas dan sulit dikendalikan.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran cara masyarakat memandang batas antara hiburan dan penghinaan. Banyak konten yang viral justru berasal dari momen-momen yang merendahkan orang lain, seolah-olah rasa malu dan harga diri seseorang dapat dijadikan bahan tontonan. Dalam konteks ini, media sosial bukan lagi sekadar sarana berbagi, tetapi juga menjadi ruang yang rawan memperkuat perilaku tidak empatik.

Lebih dari itu, ejekan terhadap cara berpakaian sering kali muncul karena adanya kecenderungan menggunakan standar pribadi dalam menilai orang lain, yang kemudian diposisikan seolah-olah berlaku secara umum. Padahal, setiap individu memiliki latar belakang dan selera yang berbeda. Perbedaan dalam berpakaian seharusnya dipahami sebagai bagian dari keberagaman sosial, bukan sebagai dasar untuk merendahkan.

Yang juga perlu disoroti adalah keputusan untuk merekam dan menyebarkan kejadian tersebut. Tindakan tersebut menunjukkan rendahnya kesadaran etis dalam menggunakan media sosial. Tidak semua hal layak dijadikan konten, apalagi jika melibatkan pihak lain yang berpotensi dirugikan. Dalam hal ini, tanggung jawab moral seharusnya menjadi pertimbangan utama sebelum membagikan sesuatu ke ruang publik.

Dampak dari peristiwa semacam ini tidak bisa dianggap sepele. Bagi korban, pengalaman dipermalukan di ruang publik dapat memengaruhi kondisi psikologis, seperti menurunnya kepercayaan diri dan munculnya rasa cemas. Sementara bagi masyarakat luas, normalisasi ejekan berpotensi menciptakan lingkungan sosial yang tidak sehat, di mana penghinaan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Fenomena tersebut harus menjadi bahan refleksi bersama. Kita perlu kembali menempatkan empati sebagai dasar dalam berinteraksi, baik secara langsung maupun di ruang digital. Kebebasan berekspresi memang penting, tetapi harus diimbangi dengan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi terhadap orang lain.

Pada akhirnya, kualitas masyarakat digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh cara kita memperlakukan sesama. Menghormati orang lain, termasuk dalam hal sederhana seperti pilihan berpakaian, merupakan bentuk kedewasaan sosial yang seharusnya dijaga. Jika tidak, ruang digital akan terus dipenuhi oleh konten yang bukan hanya viral, tetapi juga merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Samator Bangkit Tekuk Garuda Jaya 3-1, Akhiri Puasa Kemenangan di Final Four Proliga 2026
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Profil PT Denera, Holding Khusus Kawal Proyek Waste to Energy Dibentuk Danantara
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
Bank Sumsel Babel Salurkan CSR untuk Dukung Aktivitas Car Free Night di Pedestrian Atmo
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Festival Anak Istimewa, panggung bagi potensi anak berkebutuhan khusus
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Belasan Perusahaan Antre IPO
• 12 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.