Teruslah “Bodoh”, Agar Tidak Dikendalikan

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Saya tidak kaget ketika banyak orang tersinggung dengan novel "Teruslah Bodoh Jangan Pintar" karya Tere Liye itu. Judulnya saja sudah seperti tamparan. Siapa yang mau dibilang bodoh? Apalagi di zaman sekarang—ketika semua orang berlomba terlihat pintar. Gelar dipajang. Opini diumbar. Komentar di mana-mana. Semua ingin tampak tahu. Padahal, justru di situlah masalahnya.

Saya sering melihat orang gagal bukan karena tidak pintar. Tapi karena merasa sudah pintar. Ia berhenti bertanya. Ia alergi dikritik. Ia merasa nyaman di dunianya. Ia merasa cukup, padahal dunia sudah berlari jauh. Ia merasa pintar, padahal yang ia tahu sebatas dunia yang digelutinya.

“Bodoh” yang dimaksud dalam buku itu bukanlah kebodohan dalam arti tidak tahu. Justru sebaliknya. Itu adalah sikap sadar bahwa kita belum tahu apa-apa. Sikap yang membuat seseorang tetap lapar belajar. Tetap rendah hati. Dan—ini yang penting—tidak mudah dikendalikan.

Orang yang merasa pintar itu mudah sekali diarahkan. Cukup beri panggung. Cukup beri pengakuan. Bila perlu jadikan pemimpin barisan. Selesai. Ia akan sibuk menjaga citra, bukan mencari kebenaran. Ia takut salah. Padahal dari salah itulah ilmu tumbuh.

Sebaliknya, orang yang “bodoh”—dalam makna yang jujur—justru lebih merdeka. Ia tidak punya beban pencitraan. Ia berani bertanya hal yang dianggap remeh. Ia berani mencoba hal yang dianggap mustahil. Dan seringkali… justru dia yang melompat paling jauh.

Di kehidupan—bukan hanya di ruang kerja—pola ini berulang. Yang melesat jauh bukan selalu yang paling pintar. Tapi yang paling terbuka. Yang mau belajar tanpa merasa paling tahu. Yang mau mendengar tanpa sibuk membalas. Yang tidak gengsi berkata, “saya belum paham.” Yang berani salah, lalu memperbaiki. Yang memilih “teruslah bodoh”— bukan karena tidak mampu, tapi karena sadar… selalu ada ruang untuk tumbuh. Dan justru karena itu, ia tidak pernah benar-benar berhenti berkembang.

Dan di titik itu, lahirlah orang berilmu yang sebenarnya. Bukan yang hanya hebat di “kandangnya” sendiri. Tapi yang berani masuk ke dunia yang bukan habitatnya— lalu belajar dari nol tanpa malu. Ia tidak sibuk menjaga wibawa. Ia sibuk menyesuaikan diri. Ia tahu, di tempat baru… ia memang “bukan siapa-siapa”. Dan justru karena itu, ia cepat menyerap. Cepat mengerti. Cepat berkembang.

Karena ia datang bukan sebagai orang pintar, tapi sebagai “orang bodoh” yang siap belajar apa saja. Dan dari situlah, ilmunya menjadi hidup— tidak kaku, tidak sempit, tidak merasa paling benar. Ia tumbuh, karena berani merasa kecil, di tempat yang membuatnya besar.

Masalahnya, sistem kita sering menghukum “kebodohan” seperti ini. Anak yang banyak bertanya dianggap mengganggu. Orang yang belum tahu dianggap tidak kompeten. Padahal bisa jadi—merekalah yang paling jujur. Yang lain hanya pandai menyembunyikan ketidaktahuannya.

Maka, mungkin kita perlu berhenti tersinggung dengan judul itu. Dan mulai bertanya: Jangan-jangan, yang selama ini kita sebut pintar… justru yang membuat kita berhenti belajar. Dan yang kita sebut bodoh… justru yang menjaga kita tetap hidup. Tetap berkembang. Tetap merdeka.

Kalau harus memilih—saya lebih takut menjadi orang yang merasa pintar daripada orang yang terus merasa “bodoh”. Karena yang kedua masih punya masa depan. Yang pertama… biasanya tinggal cerita.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Dukung Ikan Sapu-Sapu Ditangkap di Sungai Jakarta
• 52 menit laluokezone.com
thumb
Wamenhaj Ungkap Alasan Wacana ‘War Tiket’ Haji: Sasar Jemaah yang Benar Siap
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Trimitra Trans Persada (BLOG) Ungkap Strategi Kembangkan Cold Chain
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Ramalan Karier Zodiak 12 April 2026: Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Wakil Ketua Komisi I DPR Sambut Baik Gencatan Senjata, Harap Permanen & Dorong Kemerdekaan Palestina
• 7 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.