Mengapa Kanker Dapat Menyerang Orang dengan Pola Hidup Sehat?

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Sejatinya, saya menulis artikel ini untuk menjawab keresahan pribadi sepeninggalan seorang sahabat akibat kanker darah atau leukimia. Pola hidupnya tergolong sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit keras apapun. Kurang dari dua minggu setelah kemunculan gejala pertama dan kurang dari satu minggu pascapenegakkan diagnosis, ia sudah dipanggil menghadap Yang Ilahi. Hal tersebutlah yang mendasari judul tulisan ini sekaligus pertanyaan sebagian besar dari kita, "Mengapa kanker dapat menyerang orang dengan pola hidup sehat?".

Beberapa orang mungkin menjawabnya sebagai "Takdir". Ya, tulisan ini juga menyimpulkan bahwa takdir memang menjadi jawaban dari keresahan saya di atas. Namun, sebelum melompat ke kesimpulan, tulisan ini juga ingin mengurai bagaimana takdir tersebut bisa terjadi dalam konteks ilmu biologi dan fisika.

Sebagai makhluk hidup, manusia terus-menerus memperbaiki dirinya sendiri, termasuk dalam tingkatan sel. Sel yang rusak akan memperbaiki diri (regenerasi sel) melalui replikasi DNA. Namun, dalam prosesnya, terdapat potensi untuk terjadinya kesalahan penyalinan atau mutasi. Mutasi inilah yang dapat menyebabkan timbulnya sel kanker.

Sebagaimana diketahui, DNA terdiri dari dua pasang basa yang meliputi empat nukleotida. Adenin (A) selalu berpasangan dengan Timin (T). Demikian pula Guanin (G) selalu berpasangan dengan Sitosin (C). Nukleotida-nukleotida tersebut dapat berpasangan karena adanya ikatan hidrogen yang mengikatnya. Ikatan yang mengikat pasangan basa ini adalah proton, inti atom hidrogen. Pada tahap inilah ilmu fisika mulai masuk dalam penjelasan.

Dalam ilmu fisika, setidaknya terdapat dua "perilaku benda", yaitu sebagai partikel dan gelombang. Semakin besar ukuran benda, semakin besar pula kecenderungannya untuk berperilaku sebagai partikel. Benda-benda tersebut cenderung mudah untuk diamati, diukur, dan diprediksi karena melibatkan hal-hal yang dapat dilihat dengan mata telanjang (makroskopis) ataupun alat (mikroskopis). Benda-benda yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari (kursi, meja, dll.) termasuk dalam benda-benda yang berperilaku sebagai partikel.

Sementara itu, benda-benda dengan ukuran yang sangat kecil, bahkan terlalu kecil untuk dilihat menggunakan alat cenderung berperilaku sebagai gelombang. Ukuran tersebut membuat kehadirannya hanya sebatas dapat dideteksi dan divisualisasikan. Oleh karena itu, "benda" ini sangat jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Benda-benda yang berperilaku sebagai gelombang memiliki perilaku yang "aneh" sehingga seringkali digambarkan memiliki cara kerja dunia yang berbeda, yakni dunia kuantum.

Proton, yang merupakan inti atom hidrogen, termasuk dalam dunia kuantum yang berperilaku sebagai gelombang. Salah satu perilaku "aneh" dari proton adalah Quantum Tunneling (terowongan kuantum). Untuk memahaminya, bayangkan ilustrasi berikut:

Quantum Tunneling dapat terjadi di dalam tubuh manusia, khususnya proton pada inti atom hidrogen yang berfungsi mengikat dan membentuk pasangan nukleotida. Quantum Tunneling yang terjadi pada ikatan hidrogen ini membuat nukleotida tidak berpasangan secara seharusnya. Adenin yang seharusnya berpasangan dengan Timin, malah berpasangan dengan Sitosin (A-C). Sebaliknya, Timin malah berpasangan dengan Guanin (T-G). Pasangan-pasangan yang keliru ini kemudian mengkode atau membentuk protein yang tidak seharusnya pula. Inilah yang disebut sebagai mutasi, cikal bakal kanker, walaupun tidak semua mutasi akan menyebabkan kanker.

Tentu, Quantum Tunneling di dalam tubuh manusia merupakan peristiwa acak dengan probabilitas yang sangat kecil dan tidak dapat dicegah. Akan tetapi, toh hal tersebut tetap dapat terjadi sehingga posibilitas bagi seseorang dengan pola hidup sehat untuk terkena kanker juga terjawab. Namun, mengapa kanker tersebut menyerang sahabat saya? Itulah pertanyaan yang masih tidak dapat dijawab oleh saya, dan mungkin tidak akan terjawab sampai kapanpun.

Terlepas dari apakah pertanyaan tersebut akan terjawab atau tidak, peristiwa sahabat saya memberikan refleksi yang jelas. Jika seseorang dengan pola hidup sehat dapat terserang kanker melalui mekanisme fisika yang sangat kecil probabilitasnya, pola hidup tidak sehat yang dilakukan secara sengaja sama dengan mengundang kanker dengan sukarela. Merokok, misalnya, melalui tar yang bersifat karsinogenik merusak DNA melalui reaksi kimia makroskopis —ingat bahwa benda makroskopis berperilaku seperti partikel yang dapat diketahui secara pasti keberadaannya dan jauh lebih mudah diprediksi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
D8: Pakistan, Turki, Mesir terlibat aktif dalam upaya mediasi TimTeng
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo Mundur Jadi Ketum PB IPSI, Mau Fokus Jadi Presiden: Emban Tugas Kebangsaan Menyita Banyak Waktu
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Hino Penuhi Pesanan 10 Ribu Unit Truk Koperasi Desa Merah Putih
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenpar Gandeng Media Perluas Publikasi “Event by Indonesia” untuk Dongkrak Pariwisata
• 11 jam lalupantau.com
thumb
15.000 RTLH di Perbatasan RI Dapat Bantuan Perbaikan Rumah | KOMPAS SIANG
• 9 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.