Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia bergerak melemah hingga turun di bawah level psikologis US$100 per barel pada perdagangan Jumat, 10 April 2026. Koreksi terjadi di tengah ketegangan yang masih tinggi di sekitar Selat Hormuz meski Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menyepakati gencatan senjata sementara.
Arus pengiriman minyak melalui jalur tersebut masih belum sepenuhnya pulih dan dilaporkan tetap sangat terbatas. Sebelum konflik memanas, Selat Hormuz menjadi jalur laut yang mendistribusikan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Mengutip CNBC Internasional, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei terkoreksi 1,5 persen menjadi US$96,37 atau Rp 1,64 juta (estimasi kurs Rp 17.090 per dolar AS0 per barel. Anjloknya harga minya mentah acuan AS usai menembus US$100 pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni turun 1,3 persen ke level US$94,69 atau Rp 1,61 juta per barel.
- CNBC Internasional
Presiden AS, Donald Trump, meningkatkan intensitas tekanan terhadap Iran. Ia memperingatkan Teheran agar tidak memungut biaya terhadap kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz yang berisiko melanggar kesepatan gencaran senjata selama dua migggu.
“Iran tampaknya tidak menyadari bahwa mereka tidak memiliki kartu apa pun, selain pemerasan jangka pendek terhadap dunia dengan memanfaatkan jalur perairan internasional,” ujar Trump dalam unggahannya di Truth Social.
Penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menilai bahwa kelancaran distribusi minyak menjadi faktor krusial untuk menyeimbangkan pasar. Menurutnya, satu kapal tanker yang berhasil melintasi Selat Hormuz dapat memberikan kontribusi besar terhadap pasokan yang saat ini hilang.
Namun, kondisi di lapangan masih jauh dari normal. CEO DUCAT Maritime, Adrian Beciri, menggambarkan situasi di Selat Hormuz sebagai sangat kacau sehingga sejumlah kapal kini terpaksa mengambil rute alternatif yang lebih dekat ke garis pantai Iran, dengan biaya yang melonjak drastis.
“Sejujurnya, situasinya sangat kacau. Tidak ada cara yang jelas untuk melintasi Selat Hormuz. Bahkan tidak ada jalur komunikasi yang pasti dengan Iran untuk mengatur pelayaran,” tutur Beciri.
Selain gangguan distribusi, tekanan harga energi datang dari sisi produksi. Serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi serta menyasar fasilitas penting seperti ladang minyak Manifa dan Khurais, serta beberapa kilang, yang semakin memperburuk kondisi pasokan global.





