Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan terbuka terhadap penerapan teknologi keselamatan kendaraan guna meningkatkan perlindungan pengguna jalan dan menekan angka kecelakaan di Indonesia, terutama sepeda motor.
Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub Yusuf Nugroho menegaskan, pemerintah mendukung adopsi teknologi keselamatan yang berkembang secara global.
“Pemerintah terbuka terhadap penerapan teknologi keselamatan yang berkembang secara global,” kata Yusuf dalam diskusi bertajuk 'Pendalaman Substansi Pilar Kendaraan Berkeselamatan pada Kendaraan Kecil' sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.
Menurut Yusuf, keberadaan fitur keselamatan pada kendaraan memiliki peran penting dalam memitigasi kesalahan manusia, khususnya pada sepeda motor dan kendaraan kecil yang mendominasi lalu lintas.
Ia menekankan, dukungan terhadap teknologi keselamatan harus diimbangi dengan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi yang terus berubah.
“Intinya pemerintah mendukung semua aspek teknologi yang mendukung keselamatan berkendara, namun harus bisa adaptif dengan perkembangan teknologi yang digunakan untuk keselamatan,” ujarnya.
Baca juga: Menhub perkuat penerbangan domestik saat negara lain tutup ruang udara
Meski demikian, Yusuf mengakui kerangka regulasi dan arah kebijakan yang ada saat ini masih perlu diterjemahkan ke dalam standar yang lebih konkret agar implementasinya dapat berjalan optimal.
Ia menilai, penguatan standar tersebut penting mengingat berbagai riset menunjukkan intervensi pada aspek kendaraan mampu memberikan dampak signifikan terhadap keselamatan.
Berdasarkan studi Pusat Pengujian, Pengukuran, Pelatihan, Observasi, dan Layanan Rekayasa Universitas Indonesia (POLAR UI), lanjut Yusuf, sistem pengereman yang lebih stabil berpotensi menyelamatkan hingga 8.000 jiwa per tahun.
Di sejumlah negara, termasuk kawasan ASEAN dan India, teknologi keselamatan sepeda motor telah diterapkan sebagai standar minimum, sementara di Indonesia masih dalam tahap pengembangan meski urgensinya semakin meningkat.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia Rio Octaviano menyatakan setiap jam dua hingga tiga orang meninggal di jalan raya, mayoritas pengendara sepeda motor, sehingga diperlukan intervensi serius segera.
Ia menyoroti ironi kecelakaan yang kerap terjadi saat kondisi jalan dianggap aman, seperti jalan lurus, cuaca cerah, serta visibilitas baik, yang justru meningkatkan rasa percaya diri berlebih pengendara.
Baca juga: Menhub tegaskan kenaikan tiket pesawat tidak boleh di atas 13 persen
Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kecelakaan bukan semata akibat kelalaian individu, melainkan mencerminkan sistem keselamatan yang belum bekerja optimal dalam mengantisipasi risiko secara menyeluruh di lapangan.
Rio menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki kerangka lima pilar keselamatan jalan dalam RUNK, namun implementasinya belum seimbang, terutama pada pilar teknologi kendaraan yang belum berjalan optimal dibanding edukasi.
Karena itu, penguatan aspek kendaraan dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menekan fatalitas, bukan menggantikan pilar lain, melainkan melengkapi sistem keselamatan guna melindungi pengguna jalan secara lebih efektif.
Ia menambahkan, pendekatan sistemik seperti di sektor penerbangan dan perkeretaapian perlu diterapkan, agar setiap insiden memicu evaluasi menyeluruh, terutama pada kendaraan roda dua yang berkontribusi besar terhadap angka kematian.
"Di tingkat global, kecelakaan bukan lagi sekadar accident, melainkan road crash yang bisa dicegah. Namun di Indonesia masih dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Karena itu, penguatan kendaraan berkeselamatan harus dilihat sebagai upaya melindungi, bukan membebani,” kata Rio.
Praktisi keselamatan jalan dari ASEAN NCAP Adrianto Sugiarto menyebutkan 46 persen kecelakaan di Asia Tenggara melibatkan sepeda motor, dan dengan hampir 40 persen populasi ASEAN, yang mana Indonesia menjadi kontributor terbesar di kawasan.
“Mengubah perilaku ratusan juta masyarakat membutuhkan waktu panjang. Sementara itu, nyawa terus melayang di jalan setiap hari. Dalam kondisi ini, teknologi menjadi salah satu langkah relevan untuk menekan fatalitas korban,” kata Andrianto.
Baca juga: Menhub sebut 11 bandara sempat ditutup di Papua kembali beroperasi
Baca juga: Kemenhub minta Pelindo kembangkan pelabuhan di Ketapang-Gilimanuk
Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub Yusuf Nugroho menegaskan, pemerintah mendukung adopsi teknologi keselamatan yang berkembang secara global.
“Pemerintah terbuka terhadap penerapan teknologi keselamatan yang berkembang secara global,” kata Yusuf dalam diskusi bertajuk 'Pendalaman Substansi Pilar Kendaraan Berkeselamatan pada Kendaraan Kecil' sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.
Menurut Yusuf, keberadaan fitur keselamatan pada kendaraan memiliki peran penting dalam memitigasi kesalahan manusia, khususnya pada sepeda motor dan kendaraan kecil yang mendominasi lalu lintas.
Ia menekankan, dukungan terhadap teknologi keselamatan harus diimbangi dengan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi yang terus berubah.
“Intinya pemerintah mendukung semua aspek teknologi yang mendukung keselamatan berkendara, namun harus bisa adaptif dengan perkembangan teknologi yang digunakan untuk keselamatan,” ujarnya.
Baca juga: Menhub perkuat penerbangan domestik saat negara lain tutup ruang udara
Meski demikian, Yusuf mengakui kerangka regulasi dan arah kebijakan yang ada saat ini masih perlu diterjemahkan ke dalam standar yang lebih konkret agar implementasinya dapat berjalan optimal.
Ia menilai, penguatan standar tersebut penting mengingat berbagai riset menunjukkan intervensi pada aspek kendaraan mampu memberikan dampak signifikan terhadap keselamatan.
Berdasarkan studi Pusat Pengujian, Pengukuran, Pelatihan, Observasi, dan Layanan Rekayasa Universitas Indonesia (POLAR UI), lanjut Yusuf, sistem pengereman yang lebih stabil berpotensi menyelamatkan hingga 8.000 jiwa per tahun.
Di sejumlah negara, termasuk kawasan ASEAN dan India, teknologi keselamatan sepeda motor telah diterapkan sebagai standar minimum, sementara di Indonesia masih dalam tahap pengembangan meski urgensinya semakin meningkat.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia Rio Octaviano menyatakan setiap jam dua hingga tiga orang meninggal di jalan raya, mayoritas pengendara sepeda motor, sehingga diperlukan intervensi serius segera.
Ia menyoroti ironi kecelakaan yang kerap terjadi saat kondisi jalan dianggap aman, seperti jalan lurus, cuaca cerah, serta visibilitas baik, yang justru meningkatkan rasa percaya diri berlebih pengendara.
Baca juga: Menhub tegaskan kenaikan tiket pesawat tidak boleh di atas 13 persen
Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kecelakaan bukan semata akibat kelalaian individu, melainkan mencerminkan sistem keselamatan yang belum bekerja optimal dalam mengantisipasi risiko secara menyeluruh di lapangan.
Rio menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki kerangka lima pilar keselamatan jalan dalam RUNK, namun implementasinya belum seimbang, terutama pada pilar teknologi kendaraan yang belum berjalan optimal dibanding edukasi.
Karena itu, penguatan aspek kendaraan dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menekan fatalitas, bukan menggantikan pilar lain, melainkan melengkapi sistem keselamatan guna melindungi pengguna jalan secara lebih efektif.
Ia menambahkan, pendekatan sistemik seperti di sektor penerbangan dan perkeretaapian perlu diterapkan, agar setiap insiden memicu evaluasi menyeluruh, terutama pada kendaraan roda dua yang berkontribusi besar terhadap angka kematian.
"Di tingkat global, kecelakaan bukan lagi sekadar accident, melainkan road crash yang bisa dicegah. Namun di Indonesia masih dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Karena itu, penguatan kendaraan berkeselamatan harus dilihat sebagai upaya melindungi, bukan membebani,” kata Rio.
Praktisi keselamatan jalan dari ASEAN NCAP Adrianto Sugiarto menyebutkan 46 persen kecelakaan di Asia Tenggara melibatkan sepeda motor, dan dengan hampir 40 persen populasi ASEAN, yang mana Indonesia menjadi kontributor terbesar di kawasan.
“Mengubah perilaku ratusan juta masyarakat membutuhkan waktu panjang. Sementara itu, nyawa terus melayang di jalan setiap hari. Dalam kondisi ini, teknologi menjadi salah satu langkah relevan untuk menekan fatalitas korban,” kata Andrianto.
Baca juga: Menhub sebut 11 bandara sempat ditutup di Papua kembali beroperasi
Baca juga: Kemenhub minta Pelindo kembangkan pelabuhan di Ketapang-Gilimanuk





