Seblak merupakan makanan yang saat ini banyak digemari oleh banyak kalangan, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Makanan khas bandung yang dibuat dengan kencur dan bawang putih, serta variasi toping seperti kerupuk basah, mie, sayur, ayam, hingga aneka seafood. Dengan harga yang murah, cita rasa yang gurih dan cenderung pedas mampu menarik perhatian banyak orang.
Namun tahu kah kamu, dibalik cita rasanya yang menggugah selera, mengonsumsi seblak terlalu sering dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi tubuh. Apalagi jika dikonsumsi setiap hari. Selain kandungan kerupuk yang tinggi karbohidrat, penggunaan penyedap rasa yang berlebihan juga menjadi masalah kesehatan serius yang perlu kita perhatikan.
Gastritis ErosifGastritis sendiri merupakan peradangan pada mukosa atau lapisan pelindung lambung. Peradangan ini terjadi ketika adanya kerusakan, luka atau pengikisan pada mukosa. Banyak faktor yang mengakibatkan gastritis erosif, contohnya helicobacter pylori, alkohol, konsumsi garam yang berlebihan dan juga makanan pedas.
Selain itu, gastritis erosif juga dapat disebabkan oleh cedera, luka bakar dan juga penyakit kritis. Jika dibiarkan, kondisi ini akan menimbulkan rasa nyeri dan gangguan pencernaan seperti pendarahan.
Permasalahan pada UsusRasa pedas pada seblak berasal dari kandungan kapsaisin yang merupakan komponen aktif dalam cabai, yang bisa memicu rasa panas dan nyeri. Kapsaisin menstimulasi saraf yang mempercepat pergerakan usus (peristaltik) sehingga meningkatkan produksi cairan di usus, yang akhirnya menyebabkan diare karena usus tidak memiliki cukup waktu untuk menyerap air. Jika sering terjadi, maka bisa mengganggu fungsi pencernaan dan membuat tubuh kekurangan cairan.
EdemaKebanyakan mengonsumsi garam secara berlebihan dapat menyebabkan edema. Edema merupakan kondisi pembengkakan akibat meningkatnya volume cairan di jaringan tubuh. Sering kali terjadi karena kegagalan ginjal dalam membuang cairan, garam, dan natrium dalam darah.
Peningkatan cairan keluar dari pembuluh darah dan masuk ke dalam jaringan lainnya yang menyebabkan pembengkakan di bagian tangan, kaki, wajah, dan lainnya. Selain itu, pada kasus edema jantung atau edema kardiogenik, tekanan dari penumpukan cairan ini juga berkaitan dengan beban kerja jantung dalam memompa darah.
HipertensiTak lengkap rasanya kalau seblak tanpa penyedap rasa. Selain edema, konsumsi garam yang berlebihan dalam kurun waktu yang lama juga bisa berpotensi meningkatkan risiko tekanan darah tinggi (hipertensi).
Sodium yang berlebihan dapat memengaruhi peningkatan volume cairan dan tekanan pada pembuluh darah, sehingga tekanan darah naik. Hipertensi merupakan faktor utama penyakit kardiovaskular, yang sering ditandai dengan gejala seperti pusing, sesak napas, dan tubuh yang mudah lelah.
Meskipun seblak menggugah selera, alangkah baiknya jika kita mengonsumsinya dalam batas yang normal dan tetap memperhatikan kondimen di dalamnya. Kesehatan jangka panjang lebih berharga daripada kenikmatan sesaat.





