Bagaimana Menumbuhkan Kecintaan pada Matematika Sejak Dini?

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?

1. Mengapa belajar Matematika penting?

2. Bagaimana kecakapan Matematika di kalangan siswa di Indonesia?

3. Apa penyebab kemampuan Matematika siswa rendah?

4. Bagaimana cara mengatasi takut Matematika?

5. Apa tips belajar Matematika sejak usia dini?

6. Bagaimana menumbuhkan minat anak belajar Matematika?

Mengapa belajar Matematika penting?

Pendidikan Matematika berperan krusial dalam memperkuat kapasitas intelektual dan kemampuan analitis masyarakat. Dengan belajar matematika siswa diajak membangun penalaran hingga memecahkan masalah.

Karena itu, pembelajaran seharusnya kontekstual, bukan hanya menggunakan apa yang ada di sekitar siswa, melainkan sesuai tahapan berkembang anak, dari yang konkret ke abstrak

Menurut salah satu pendiri Pusat Riset Penggerak Indonesia Cerdas yang juga Dosen Matematika Dhitta Puti Sarasvati, belajar Matematika untuk membuat anak-anak bernalar dengan menguasai perhitungan aritmatika dasar. Ada proses berpikir secara matematis perlu dikembangkan dalam pembelajaran Matematika. Belajar Matematika penting untuk membantu anak memikirkan hal abstrak.

Dari Kongres Internasional Pendidikan Matematika atau International Congress on Mathematical Education (ICME) 2024, menekankan pentingnya Matematika untuk mengatasi masalah nyata. Bahkan, pendidikan Matematika berperan mengatasi efek perubahan iklim, keberlanjutan, membangun keadilan, dan peningkatan keterampilan pemecahan masalah.

”Matematika memberi kita harapan untuk memahami realitas dan kebenaran dengan jelas, berbagi definisi bersama, belajar kerja sama, memakai data secara bertanggung jawab, menemukan strategi saling menguntungkan, dan banyak lagi,” ucap Betul Tanbay, Ketua Dewan Pengurus International Mathematical Union-International Day of Mathematics.

Betul menegaskan, Matematika dapat menjadi bekal menghadapi ketidakpastian, membangun kepercayaan pada pengetahuan, dan membayangkan masa depan berkelanjutan. Selain mendorong kemajuan ilmiah dan teknologi, Matematika juga berkontribusi pada kohesi dan ketahanan sosial.

Baca JugaBiasakan Berbicara Matematika sejak Dini
Bagaimana kecakapan Matematika di kalangan siswa di Indonesia?

Rendahnya nilai numerasi dan literasi dalam tes kemampuan akademik di tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas bukanlah hasil yang muncul tiba-tiba. Ini merupakan buah dari pembelajaran panjang siswa. Pembelajaran oleh para peserta didik tersebut telah dilakukan sejak jenjang pendidikan dasar, bahkan sejak awal mereka mengenal kemampuan membaca, memahami, dan berhitung.

Dalam pelaksanaan tes kemampuan akademik (TKA) sekolah menengah atas (SMA), nilai TKA SMA pada mata pelajaran Matematika secara rata-rata sebesar 36,1 dan Bahasa Indonesia adalah 55,38. Nilai TKA sekolah menengah pertama (SMP) pun tak jauh berbeda.

Sementara berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor numerasi Indonesia hanya 366, sedangkan rata-rata global dalam ukuran Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) adalah 472.

Adapun PISA juga menetapkan tingkat kompetensi minimum pada level 2 atau minimal siswa mampu menafsirkan dan mengenali situasi tanpa instruksi langsung, seperti membandingkan jarak total antara dua rute alternatif atau mengonversi harga ke mata uang yang berbeda.

Pada kenyataannya, hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia yang mencapai level 2 dalam Matematika. Artinya, 82 persen siswa lainnya masih berada di bawah tingkat kompetensi minimum.

Sebagai perbandingan, rata-rata negara OECD angka siswa dengan kompetensi level 2 mencapai 69 persen. Hal ini menunjukkan tantangan besar sistem pendidikan Indonesia dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa agar mampu bersaing secara global.

Apa penyebab tingkat kemampuan Matematika pada siswa rendah?

Rendahnya capaian itu erat kaitannya dengan metode pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan. Siswa lebih sering dilatih untuk menjawab soal dengan pola serupa ketimbang diajak memahami konsep secara utuh. Akibatnya, ketika dihadapkan pada soal yang menuntut penalaran dan analisis, banyak siswa kesulitan.

Akar persoalan ini bisa ditelusuri sejak masa awal perkembangan anak. Kemampuan numerasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak anak mengenal angka, tetapi juga oleh paparan bahasa matematika atau math talk dalam kehidupan sehari-hari.

Studi ini menegaskan, pembelajaran numerasi sejatinya bisa dimulai dari interaksi sederhana di rumah. Anak yang terbiasa diajak berdiskusi tentang perbandingan jumlah, urutan, atau posisi benda akan lebih mudah memahami konsep matematika secara mendalam.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Toni Toharudin hingga kini belum mengungkapkan nilai rata-rata Matematika pada TKA yang digelar pada awal November lalu.

Namun, salah satu faktor penyebab rendahnya nilai Matematika adalah rendahnya kemampuan murid untuk mentransformasikan masalah kontekstual ke dalam model atau persamaan matematika. ”Kompetensi ini menjadi indikator penting di dalam penguasaan numerasi,” kata Toni di Jakarta, Kamis (27/11/2025).

Dia menegaskan, soal yang dibuat tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep, tetapi juga pada kemampuan menerapkan pengetahuan dan melakukan penalaran untuk memecahkan masalah. Soal-soal TKA menuntut murid untuk mengintegrasikan pengetahuan konseptual dan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Kesalahan mendasar saat mengajarkan matematika kepada siswa adalah matematika tidak dipahami sebagai sebuah sistem berpikir. Dalam praktik pembelajaran matematika di sekolah, bahkan pada level perguruan tinggi, guru sering terjebak dalam model pembelajaran yang menekankan pada pengembangan keterampilan matematis.

Baca JugaPendidikan Matematika Perlu Pendekatan Baru
Bagaimana cara mengatasi takut Matematika?

Untuk memperbaiki kondisi ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berupaya menghapus stigma pelajaran Matematika yang menakutkan menjadi pelajaran Matematika yang menggembirakan.

Gerakan Nasional Numerasi (GNN) juga perlu diintegrasikan dengan berbagai program penguatan numerasi, seperti Matematika Gembira, Bincang Numerasi, dan Taman Numerasi.

”Matematika Gembira merupakan upaya penting meningkatkan kualitas numerasi sejak dini. Hasil TKA (tes kemampuan akademik) di tingkat SMA masih menunjukkan ada tantangan yang perlu direspons melalui intervensi lebih awal dan sistematis,” kata Direktur Guru Pendidikan Dasar di Kemendikdasmen Rachmadi Widdiharto, Sabtu (14/3/2026).

Pembelajaran Matematika Gembira dimulai dengan mengajak murid memahami konsep melalui pengalaman nyata sebelum beralih ke abstraksi. Guru tidak boleh lagi memulai dari rumus, tetapi dari konteks yang dekat murid, seperti benda di kelas, lingkungan sekitar, hingga permainan sederhana, seperti melempar bola atau membuat pola.

Dengan pendekatan ini, rasa takut murid pada Matematika perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu karena mereka belajar dari hal yang mereka kenal dan alami sendiri. Cara mengajar ini sudah diterapkan para guru Matematika masa kini, misalnya oleh Tri Susilawati di SDN Meruya Selatan 04 Pagi, Jakarta.

”Di sekolah kami, numerasi dikemas melalui taman-taman numerasi di lingkungan sekolah, dengan hiasan di tembok ataupun lantai. Dengan begitu, anak-anak tidak merasa bosan, guru pun lebih mudah membuat pembelajaran menarik di luar kelas,” ungkap Tri.

Beberapa sekolah lain juga mengajarkan numerasi melalui permainan tradisional yang dikaitkan dengan budaya lokal sehingga dekat dengan kehidupan anak. Sebagai contoh, belajar mengurutkan bilangan sambil bermain eklek yang diwarnai angka-angka.

Baca JugaHari Matematika Internasional, Saatnya Menghapus Stigma Pelajaran Menakutkan
Apa tips belajar Matematika sejak usia dini?

Riset David J Purpura dari Purdue University, Amerika Serikat, menunjukkan, saat orangtua dan anak meluangkan waktu untuk mengeksplorasi, menikmati, dan membicarakan matematika bersama, akan tercipta pengalaman matematika awal positif. Anak-anak memandang diri mereka sebagai pembelajar matematika yang mampu berkembang.

Bahasa matematika, seperti bahasa kuantitatif—lebih banyak, lebih sedikit, paling sedikit, paling banyak, sama, dan berbeda—atau bahasa spasial—sebelum, sesudah, di atas, di bawah, terdekat, dan terjauh—menjadi faktor lebih kuat terhadap kemampuan berhitung dibandingkan kosakata umum. Studi ini dilakukan pada ratusan anak usia 3-5 tahun.

Ketika seorang anak memahami istilah-istilah ini, mereka tidak hanya menghafal kata-kata, tetapi juga belajar berhitung dengan mendeskripsikan dunia di sekitar mereka. Hal ini menunjukkan, meski seorang anak memiliki kosakata umum yang luas, mereka mungkin kesulitan dengan matematika jika belum menguasai ”kata-kata matematika” sejak dini.

Sejak usia tiga tahun, anak-anak sebenarnya mulai menguasai berbagai aspek bahasa matematika. Karena itu, tidak perlu alat yang rumit untuk mendukung anak belajar. Cukup dengan menghadirkan unsur matematika dalam percakapan sehari-hari.

Penelitian di Universitas Oregon, Amerika Serikat, menyebutkan, bermain board game dalam waktu singkat, bahkan hanya 10 menit, memberikan manfaat jangka panjang pada kemampuan berhitung anak. Laporan hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Review of Educational Research, Januari 2026.

Temuan ini sangat relevan untuk membangun fondasi kemampuan matematika anak usia dini. Matematika tidak melulu diajarkan di ruang kelas saat jam pelajaran, tetapi juga bisa diajarkan lewat permainan dengan suasana menyenangkan. Orangtua atau anggota keluarga lainnya dapat menjadi fasilitatornya di rumah.

Baca JugaMemperkuat Kemampuan Matematika Anak dengan Bermain ”Board Game”
Bagaimana menumbuhkan minat anak belajar Matematika?

Pelajaran Matematika kerap dianggap sulit oleh anak-anak mulai jenjang sekolah dasar. Padahal, sebenarnya anak-anak berminat belajar numerasi atau Matematika. Untuk itu, guru perlu mengembangkan pembelajaran Matematika yang mendorong minat dan keyakinan diri siswa.

Dari penelitian University of Eastern Finland di British Journal of Educational Psychology yang terbit akhir tahun 2023, ditemukan bahwa minat dan persepsi kompetensi anak-anak terhadap Matematika umumnya positif ketika mereka mulai bersekolah.

Namun, minat dan persepsi kompetensi siswa terhadap Matematika jadi kurang positif pada tiga tahun pertama setelah bersekolah di sekolah dasar (SD). Perubahan minat dan konsep diri juga saling berhubungan satu sama lain.

Dari riset ditemukan pentingnya minat positif dan konsep diri siswa untuk mengubah motivasi dan meningkatkan kompetensi kinerja Matematika. Jadi penting mengembangkan dan menerapkan praktik pengajaran yang mendukung dan mempertahankan minat anak-anak pada Matematika dan memperkuat pengalaman sukses mereka.

Profesor Stella Christie, Direktur Tsinghua Child Cognition Center, Universitas Tsinghua, China, mengatakan, sebenarnya anak dari awal memiliki kemampuan belajar dengan sangat cepat Dalam pendidikan di rumah ataupun di pendidikan anak usia dini (PAUD), Stella mendorong agar pendidik mengajak anak belajar dari keseharian.

”Justru belajar yang dikaitkan dengan aktivitas sehari-hari anak membuat mereka merasa tidak asing dan semangat mengembangkan rasa ingin tahu dan mengeksplorasi,” kata Stella. Untuk mengajak anak kecil belajar Matematika, tidak perlu dengan problem Matematika. Dengan mengobrol, mereka bisa berpikir tentang Matematika karena anak-anak punya pengetahuan dasar tentang jumlah.

Baca JugaMemotivasi Minat Anak Belajar Matematika

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Pencak Silat Mencerminkan Kepribadian Bangsa Kita
• 18 jam lalurctiplus.com
thumb
3 Menu Kreasi Alpukat yang Wajib Kamu Coba
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Harga Emas Sepekan: Antam Naik Rp 29.000, Galeri24 Bergerak Fluktuatif
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Cantik dan Mematikan! Annie Valentine Mitchem Jadi Salah Satu Mesin Poin Gresik Phonska di Final Four Proliga 2026
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Bupati Tulungagung, Gatot Sunu Wibowo dan 15 Pejabat Dijaring OTT KPK, Dugaan Korupsi Birokrasi
• 9 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.