JAKARTA, DISWAY.ID - Denting besi yang bersahut-sahutan di Desa Teratak, Kabupaten Kampar, Riau, kini bukan sekadar suara kerja rutin.
Ia menjadi penanda kebangkitan ekonomi desa, setelah kapasitas produksi para pandai besi setempat melonjak hingga sepuluh kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.
Para perajin yang tergabung di dalam kelompok usaha yang sebelumnya bekerja secara terbatas, kini mampu memproduksi hingga 30.000 unit alat perkebunan setiap bulan.
Lonjakan ini jauh melampaui capaian sebelumnya yang hanya sekitar 3.000 unit per bulan.
BACA JUGA:Jan Olde Riekerink Siap Hadapi Malut United Tanpa Nick Kuipers, Target Dewa United Tetap Top 6
Peningkatan produksi tersebut tidak lepas dari dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan Sub Holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo.
Terbaru, perusahaan menyalurkan bantuan peralatan senilai ratusan juta berupa air hammer dan automatic grinder yang mendorong efisiensi sekaligus kapasitas produksi.
Transformasi ini tidak terjadi secara instan. Salah satu kelompok pengrajin, Mola Maju Basamo, yang dipimpin Desrico Apriyus, mengingat titik balik usaha mereka terjadi pada 2020, saat pandemi Covid-19 melumpuhkan aktivitas ekonomi.
“Pada masa itu hampir semua sektor terdampak. Namun kami tetap bisa bertahan karena ada PTPN yang menyerap produk sekaligus memberi pendampingan,” kata Desrico.
BACA JUGA:Jaecoo Land Festival Apresiasi Kesuksesan J5 EV sebagai No.1 EV Terlaris di Indonesia
Selain menjadi offtaker, perusahaan juga menyalurkan dukungan permodalan melalui program kemitraan senilai Rp800 juta.
Dana ini dimanfaatkan untuk mengonsolidasikan bengkel-bengkel kecil menjadi satu sentra produksi yang lebih terorganisasi.
Perubahan tidak hanya terjadi pada skala usaha, tetapi juga pada cara produksi. Teknologi mulai menggantikan metode konvensional, memungkinkan peningkatan output sekaligus kualitas produk.
Saat ini, sentra tersebut telah dilengkapi sejumlah mesin modern, termasuk empat unit air hammer.
Dampak dari peningkatan kapasitas produksi mulai terasa luas. Jumlah tenaga kerja yang semula hanya belasan orang kini bertambah menjadi 23 pekerja, dan ditargetkan meningkat menjadi 33 bahkan 50 orang dalam waktu dekat. Selain itu, sekitar 100 pemuda desa dilibatkan sebagai mitra pemasaran.
- 1
- 2
- »





