Pesta Media AJI Jakarta 2026 mengadakan sesi talkshow dengan tema “Terlena Ringkasan Berita Hasil AI: Apakah Berita di Situs Bakal Tetap Laku?”
Sesi yang dipandu Nuran Wibisono, editor Tirto.id, menyoroti permasalahan yang dihadapi perusahaan-perusahaan media yang mulai kehilangan pengunjung situs di tengah membludaknya penggunaan teknologi AI.
Ika Idris, Co-Director & Co-Founder, Data & Democracy Research Hub Monash University Indonesia, menjelaskan bahwa terjadi perubahan signifikan dalam sikap pembaca yang kini bergantung pada kehadiran AI Overview ketimbang datang langsung ke situs berita untuk mencari informasi.
“Masalahnya sekarang banyak audiens yang berhenti di AI Overview. Jadi jangankan barangkali nge-klik [laman berita], masuk ke berita saja jarang… Karena behavior audiens yang lama-lama berubah dengan adanya Generative AI ini, otomatis penghasilan media juga berubah,” ungkap Ika, dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (12/4).
Riset Data & Democracy Research Hub Monash University Indonesia terhadap media-media yang bergabung dalam Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menemukan bahwa pendapatan media daring dari pengunjung situs alias traffic mengalami penurunan drastis sebanyak 20% hingga 70% sejak Google mulai menerapkan AI overview.
“Yang kena paling besar itu yang di level menengah. Media dengan di atas 30 pekerja itu yang paling terdampak,” sebut Ika.
Citra Dyah, Wakil Ketua Umum AMSI, membenarkan hasil riset tersebut dengan mengatakan bahwa sekarang audiens memperlakukan platform AI seperti ChatGPT, Gemini dan lainnya selayaknya mesin pencarian Google.
Hal ini membuat masyarakat “berhenti” di ringkasan AI tanpa mengunjungi situs berita langsung.
Padahal, platform-platform AI mencuri informasi dari situs-situs media untuk membuat ringkasan tersebut lewat crawling bots. Crawling bots adalah program otomatis yang dikerahkan platform untuk mengunduh informasi dalam situs web.
“Jadi ada pengambilan konten tanpa izin, tanpa kompensasi juga kepada perusahaan media/ Kemudian itu ada di platform lain, lalu dimakan oleh audiens yang tidak mampir ke warungnya sama sekali,” kata Citra.
Citra menjelaskan bahwa AMSI telah melakukan negosiasi dengan platform-platform digital seperti Google dan Meta dalam hal mendorong penerapan Publisher Rights.
Publisher Rights merupakan perwujudan dari regulasi Perpres No. 32 Tahun 2024 yang mewajibkan platform digital untuk memberikan kompensasi atas konten berita yang diambil dari media.
“Itu arahnya adalah menyambung produk terhubung itu sebagai punya copyright. Itu jadi dasar kita untuk bernegosiasi dengan perusahaan AI saat kita meminta kompensasi,” ujar Citra.
Ika mengatakan bahwa kebanyakan media yang memperjuangkan haknya untuk mendapatkan kompensasi dari perusahaan platform digital adalah media skala besar yang memiliki kesadaran akan dampak AI pada model bisnis mereka.
Sedangkan media skala kecil sering kali belum merasakan urgensi untuk melakukan advokasi serupa. Meski begitu, Ika menekankan bahwa justru media-media kecil yang beroperasi di daerah memiliki keunggulan karena liputan mereka dicari oleh audiens maupun platform digital.
“Sayangnya, media kecil di daerah tidak menyadari [konten mereka] adalah emas yang bisa digunakan untuk negosiasi dengan perusahaan platform besar. Mereka melakukan pull data dengan media-media daerah, dan itu bisa dijual lewat asosiasi ke platform media.
“Kalau emas itu harus dilindungi. Jangan dibagikan [gratis],” kata Ika.
Lebih lanjut, Ika menyarankan audiens untuk mendukung kelangsungan media konvensional maupun media alternatif favorit mereka dengan mencari informasi langsung di situs berita, bukan lewat perantara seperti Google, ChatGPT atau Claude.
“Jangan langsung ke Google dulu, tapi ke situsnya langsung. Itu akan sangat berarti bagi media karena Anda menyumbang traffic langsung pada media,” katanya.
Pesta Media 2026 menghadirkan berbagai kegiatan mulai dari diskusi, pameran foto, lokakarya, pemutaran film, membuat zine hingga penampilan seni.
Untuk diskusi di Pesta Media, AJI Jakarta menampilkan topik-topik beragam, seperti kerentanan jurnalis perempuan dalam ruang redaksi dan pekerjaan, nasib media saat ini, konservasi dan perlindungan satwa liar, keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, perubahan iklim dan kaum muda, ekstraktif batubara dan ekspansi nikel, hingga perempuan adat.
Pesta Media juga akan menghadirkan lokakarya khusus bagi jurnalis terkait personal branding, jurnalisme solusi, dan jurnalisme untuk konservasi.
Selain itu, ada lokakarya zine yang akan bertemakan soal hutan dan pemutaran film yang menampilkan resiliensi masyarakat adat terhadap ekspansi pembangunan di Papua.
Saat ini, ada 16 lembaga yang bergerak di bidang lingkungan dan media, 26 media partner, serta 6 rekan universitas, yang berpartisipasi baik mengisi acara atau mengisi 30 booth/stand promosi yang disediakan di Selasar dan Lantai 2 Gedung Teater Wahyu Sihombing.
Selain itu, Pesta Media juga menyediakan booth medis untuk pemeriksaan kesehatan gratis selama dua hari.




